<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bung Karno, Sokong Romusha demi Indonesia Merdeka Meski Hatinya Remuk</title><description>Mereka yang begitu mencintai Bung Karno meregang nyawa karena sistem kerja paksa yang kejam di zaman pendudukan Jepang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk"/><item><title>Bung Karno, Sokong Romusha demi Indonesia Merdeka Meski Hatinya Remuk</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk</guid><pubDate>Kamis 20 April 2023 02:01 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk-tAjIup02F2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Soekarno (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/20/337/2801534/bung-karno-sokong-romusha-demi-indonesia-merdeka-meski-hatinya-remuk-tAjIup02F2.jpg</image><title>Soekarno (Foto: Ist)</title></images><description>SOEKARNO mengakui hatinya remuk bila mengingat soal romusha. Ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia melayang dengan cara mengenaskan.
Mereka yang begitu mencintai Bung Karno meregang nyawa karena sistem kerja paksa yang kejam di zaman pendudukan Jepang.
Dalam biografi &amp;lsquo;Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia&amp;rsquo; yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno lah yang ditugaskan Jepang untuk mendata bahkan merayu rakyatnya untuk ikut kerja paksa.

BACA JUGA:
Cerita Bung Karno Mengabsen Nama Gadis-gadis Cantik saat Comblangi Hatta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Bung Karno mengetahui para romusha yang dikirim ke Burma, hampir 99 persen mati. Bapak Proklamator itu pun menangis dalam hati.
Mereka yang dikirim ke Burma ada yang mati kelaparan, mati disiksa, mati dipenggal kepalanya. Kemudian, ada juga yang mati di dalam gerbong kereta tertutup yang berisi ribuan romusha. Mereka dipaksa bekerja hingga tinggal kulit pembalut tulang.

BACA JUGA:
Kisah Bung Karno Lihat Pekerja Romusha seperti Kerangka Hidup, Hati Remuk!

&quot;Sesungguhnya akulah &amp;ndash;Sukarno&amp;ndash; yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha,&quot; kata Bung Karno.&amp;nbsp;
&quot;Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan &amp;ndash;Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk,&amp;rdquo;Sikap yang dipilih Bung Karno itu bukan berarti mulus, namun menuai protes dari kalangan mahasiswa. Dikutip dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras, ada lima mahasiswa kedokteran yang juga aktivis pergerakan segera mendatangi Bung Karno.
Mereka mendatangi Bung Karno sesaat setelah gambar Bung Karno bersama romusha dan terkesan mendukung romusha tersebar di mana-mana.
&quot;Nampaknya Bung Karno tidak dipercayai lagi oleh rakyat. Cara bagaimana Bung Karno bisa menjawab persoalan romusha?&amp;rdquo; seorang mahasiswa membuka percakapan yang menegangkan.
Bung Karno pun menjawab, ada dua jalan untuk bekerja atau menuju Indonesia merdeka. Pertama, dengan tindakan revolusioner, yang menurut Bung Karno, belum siap.
Kedua, dengan bekerja sama dengan Jepang sambil mengkonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya Jepang jatuh.
&quot;Saya mengikuti jalan kedua,&quot; kata Bung Karno.
Mahasiswa yang mendengar jawaban itu merasa tidak puas dan kembali melontarkan pernyataan.
&amp;ldquo;Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?&amp;rdquo;</description><content:encoded>SOEKARNO mengakui hatinya remuk bila mengingat soal romusha. Ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia melayang dengan cara mengenaskan.
Mereka yang begitu mencintai Bung Karno meregang nyawa karena sistem kerja paksa yang kejam di zaman pendudukan Jepang.
Dalam biografi &amp;lsquo;Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia&amp;rsquo; yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno lah yang ditugaskan Jepang untuk mendata bahkan merayu rakyatnya untuk ikut kerja paksa.

BACA JUGA:
Cerita Bung Karno Mengabsen Nama Gadis-gadis Cantik saat Comblangi Hatta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Bung Karno mengetahui para romusha yang dikirim ke Burma, hampir 99 persen mati. Bapak Proklamator itu pun menangis dalam hati.
Mereka yang dikirim ke Burma ada yang mati kelaparan, mati disiksa, mati dipenggal kepalanya. Kemudian, ada juga yang mati di dalam gerbong kereta tertutup yang berisi ribuan romusha. Mereka dipaksa bekerja hingga tinggal kulit pembalut tulang.

BACA JUGA:
Kisah Bung Karno Lihat Pekerja Romusha seperti Kerangka Hidup, Hati Remuk!

&quot;Sesungguhnya akulah &amp;ndash;Sukarno&amp;ndash; yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha,&quot; kata Bung Karno.&amp;nbsp;
&quot;Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan &amp;ndash;Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk,&amp;rdquo;Sikap yang dipilih Bung Karno itu bukan berarti mulus, namun menuai protes dari kalangan mahasiswa. Dikutip dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras, ada lima mahasiswa kedokteran yang juga aktivis pergerakan segera mendatangi Bung Karno.
Mereka mendatangi Bung Karno sesaat setelah gambar Bung Karno bersama romusha dan terkesan mendukung romusha tersebar di mana-mana.
&quot;Nampaknya Bung Karno tidak dipercayai lagi oleh rakyat. Cara bagaimana Bung Karno bisa menjawab persoalan romusha?&amp;rdquo; seorang mahasiswa membuka percakapan yang menegangkan.
Bung Karno pun menjawab, ada dua jalan untuk bekerja atau menuju Indonesia merdeka. Pertama, dengan tindakan revolusioner, yang menurut Bung Karno, belum siap.
Kedua, dengan bekerja sama dengan Jepang sambil mengkonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya Jepang jatuh.
&quot;Saya mengikuti jalan kedua,&quot; kata Bung Karno.
Mahasiswa yang mendengar jawaban itu merasa tidak puas dan kembali melontarkan pernyataan.
&amp;ldquo;Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?&amp;rdquo;</content:encoded></item></channel></rss>
