<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG Pastikan Suhu Panas di Indonesia Bukan Heatwave seperti India   </title><description>BMKG pastikan suhu panas di Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini, bukan heatwave</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india"/><item><title>BMKG Pastikan Suhu Panas di Indonesia Bukan Heatwave seperti India   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india</guid><pubDate>Senin 24 April 2023 16:44 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india-dCcpf2NTFF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi (foto: Freepick)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/24/337/2803305/bmkg-pastikan-suhu-panas-di-indonesia-bukan-heatwave-seperti-india-dCcpf2NTFF.jpg</image><title>Illustrasi (foto: Freepick)</title></images><description>
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pastikan suhu panas di Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini, bukan heatwave atau gelombang panas seperti yang terjadi di India.

&amp;ldquo;Kalau dari pantauan BMKG belum terjadi (heatwave) di Indonesia tapi memang mungkin dalam beberapa hari terakhir ini kondisi panas ini sangat dirasakan,&amp;rdquo; ungkap Koordinator Sub Bidang Informasi dan Gas Rumah Kaca BMKG, Alberth Nahas dalam program iNews Live sore, Senin (24/4/2023).

BACA JUGA:
Cuaca Panas Menyengat Usai Lebaran, Ini Penyebabnya

Alberth mengatakan, gelombang panas merupakan definisi dari Badan Meteorologi Dunia dimana suhu udara maksimum lebih tinggi 5 derajat dibandingkan dengan normalnya.

&amp;ldquo;Jadi memang sedikit ada perbedaan dari penggunaan istilah yang kita gunakan saat ini jadi untuk gelombang panas itu sebenarnya dari definisi Badan Meteorologi Dunia adalah kejadian di mana suhu udara maksimum lebih tinggi 5 derajat atau lebih dan dirasakan paling tidak lima hari,&amp;rdquo; bebernya.

Alberth pun mengatakan, bahwa suhu udara panas di India cenderung ekstrem yang diakibatkan adanya dinamika atmosfer sehingga menyebabkan terhalangnya pertumbuhan awan-awan hujan sehingga kondisi udara cerah. Bahkan, kondisi ini menyebabkan radiasi matahari lebih tinggi dibandingkan normalnya.

&amp;ldquo;Untuk negara lain seperti ini di India ini memang suhu udaranya sangat ekstrim dan memang diakibatkan oleh dinamika atmosfer yang kalau dalam kondisi meteorologi nya kondisi cuacanya itu ada semacam halangan terhadap pertumbuhan awan sehingga menyebabkan pertumbuhan awan itu terhambat sehingga kondisi udara cenderung cerah sehingga paparan terhadap radiasi Matahari cenderung lebih tinggi daripada kondisi normalnya,&amp;rdquo; jelasnya.

BACA JUGA:
BMKG Bongkar 5 Penyebab Cuaca Panas di Indonesia Saat Ini

Pada kesempatan itu, Alberth juga mengatakan bahwa kondisi cuaca panas di kawasan Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya pada beberapa hari terakhir memang sangat berbahaya bagi orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan.

&amp;ldquo;Dan paparan terhadap sinar UV cukup berbahaya khususnya bagi orang orang yang beraktivitas di luar, dapat berakibat pada hal-hal yang tidak diinginkan terutama untuk kesehatan,&amp;rdquo; katanya.



BMKG, kata Alberth, sudah memberikan informasi prediksi indeks sinar UV sehingga bisa menjadi perhatian dan dapat dilakukan tindakan antisipatif.



&quot;Seperti tadi memakai tabir surya ketika berada di luar ruangan dan berusaha membatasi aktivitas kalau memang harus tidak beraktivitas di luar ruangan,&quot; tuturnya.



&amp;ldquo;Jadi memang pada saat ini di Indonesia pada khususnya sedang mengalami musim peralihan dari musim cenderung basah ke kering atau mau memasuki musim kemarau,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pastikan suhu panas di Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini, bukan heatwave atau gelombang panas seperti yang terjadi di India.

&amp;ldquo;Kalau dari pantauan BMKG belum terjadi (heatwave) di Indonesia tapi memang mungkin dalam beberapa hari terakhir ini kondisi panas ini sangat dirasakan,&amp;rdquo; ungkap Koordinator Sub Bidang Informasi dan Gas Rumah Kaca BMKG, Alberth Nahas dalam program iNews Live sore, Senin (24/4/2023).

BACA JUGA:
Cuaca Panas Menyengat Usai Lebaran, Ini Penyebabnya

Alberth mengatakan, gelombang panas merupakan definisi dari Badan Meteorologi Dunia dimana suhu udara maksimum lebih tinggi 5 derajat dibandingkan dengan normalnya.

&amp;ldquo;Jadi memang sedikit ada perbedaan dari penggunaan istilah yang kita gunakan saat ini jadi untuk gelombang panas itu sebenarnya dari definisi Badan Meteorologi Dunia adalah kejadian di mana suhu udara maksimum lebih tinggi 5 derajat atau lebih dan dirasakan paling tidak lima hari,&amp;rdquo; bebernya.

Alberth pun mengatakan, bahwa suhu udara panas di India cenderung ekstrem yang diakibatkan adanya dinamika atmosfer sehingga menyebabkan terhalangnya pertumbuhan awan-awan hujan sehingga kondisi udara cerah. Bahkan, kondisi ini menyebabkan radiasi matahari lebih tinggi dibandingkan normalnya.

&amp;ldquo;Untuk negara lain seperti ini di India ini memang suhu udaranya sangat ekstrim dan memang diakibatkan oleh dinamika atmosfer yang kalau dalam kondisi meteorologi nya kondisi cuacanya itu ada semacam halangan terhadap pertumbuhan awan sehingga menyebabkan pertumbuhan awan itu terhambat sehingga kondisi udara cenderung cerah sehingga paparan terhadap radiasi Matahari cenderung lebih tinggi daripada kondisi normalnya,&amp;rdquo; jelasnya.

BACA JUGA:
BMKG Bongkar 5 Penyebab Cuaca Panas di Indonesia Saat Ini

Pada kesempatan itu, Alberth juga mengatakan bahwa kondisi cuaca panas di kawasan Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya pada beberapa hari terakhir memang sangat berbahaya bagi orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan.

&amp;ldquo;Dan paparan terhadap sinar UV cukup berbahaya khususnya bagi orang orang yang beraktivitas di luar, dapat berakibat pada hal-hal yang tidak diinginkan terutama untuk kesehatan,&amp;rdquo; katanya.



BMKG, kata Alberth, sudah memberikan informasi prediksi indeks sinar UV sehingga bisa menjadi perhatian dan dapat dilakukan tindakan antisipatif.



&quot;Seperti tadi memakai tabir surya ketika berada di luar ruangan dan berusaha membatasi aktivitas kalau memang harus tidak beraktivitas di luar ruangan,&quot; tuturnya.



&amp;ldquo;Jadi memang pada saat ini di Indonesia pada khususnya sedang mengalami musim peralihan dari musim cenderung basah ke kering atau mau memasuki musim kemarau,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
