<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Mengerikan! Pembantaian Sekte 'Akhir Zaman', 700 Orang Dibakar dalam Gereja</title><description>Tepat 20 tahun lalu di Distrik Kanungu, Uganda Barat Daya terjadi pembantaian.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/30/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/30/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja"/><item><title>Kisah Mengerikan! Pembantaian Sekte 'Akhir Zaman', 700 Orang Dibakar dalam Gereja</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/30/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/30/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja</guid><pubDate>Minggu 30 April 2023 08:04 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Fadli Rizal</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/29/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja-72tgiyV4WT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/29/18/2805769/kisah-mengerikan-pembantaian-sekte-akhir-zaman-700-orang-dibakar-dalam-gereja-72tgiyV4WT.jpg</image><title>Ilustrasi (Antara)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8yOS8yMC8xNjU2NzUvNS94OGtpdWhk&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
UGANDA - Tepat 20 tahun lalu di Distrik Kanungu, Uganda Barat Daya terjadi pembantaian. Aksi itu menewaskan lebih dari 700 orang.


Judith Ariho tidak meneteskan air mata saat dia mengingat pembantaian gereja tersebut. Padahal, dalam insiden itu ada ibu, dua saudara kandung dan empat kerabatnya turut tewas.


Ariho menceritakan ulang detik-detik pembantaian tersebut. Ia mengatakan awalnya sejumlah orang dikunci di dalam sebuah gereja, dengan pintu dan jendela dipaku tertutup dari luar. Gereja itu kemudian dibakar.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

MUI Akan Bina Kelompok yang Diduga Anut Aliran Sesat di Tangerang


Kendati tak menetaskan air mata, Ariho mengatakan peristiwa itu masih menyisakan perih meski sudah dua dekade berlalu.


Mereka yang tewas adalah anggota Gerakan Pemulihan Sepuluh Perintah Allah - sekte yang percaya bahwa dunia akan berakhir pada pergantian milenium. Selang 20 tahun kemudian, tidak ada seorang pun yang dituntut atas pembantaian itu. Para pemimpin sekte tidak pernah ditemukan.


Anna Kabeireho, yang masih tinggal di lereng bukit yang menghadap ke tanah yang dimiliki oleh sekte itu, belum bisa melupakan bau yang menyelimuti lembah itu pada Jumat pagi.


&quot;Semuanya tertutup asap, jelaga, dan bau daging yang terbakar. Baunya langsung terasa di paru-paru Anda. Semua orang berlari ke lembah. Api masih menyala. Ada lusinan mayat, terbakar tak bisa dikenali,&quot; ujarnya kepada BBC.


&quot;Kami menutupi hidung kami dengan daun aromatik untuk menangkal bau. Selama beberapa bulan sesudahnya, kami tidak bisa makan daging,&quot; imbuhnya.


Kanungu adalah daerah subur dan damai di perbukitan hijau dan lembah yang dalam, tertutupi oleh pertanian kecil yang tergantikan oleh rumah-rumah. Perjalanan ke lembah, yang dulunya markas sekte itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.






Dari sana, mudah untuk melihat bagaimana komunitas religius itu mempertahankan hidup mereka, jauh dari mata para tetangga. Kicau burung memantul dari bukit dan terdengar suara air terjun di kejauhan. Ini adalah kondisi yang ideal untuk berkontemplasi.


Tapi tidak ada sisa bangunan yang disiram bensin dan dibakar. Di tepi tempat itu ada gundukan tanah yang panjang, satu-satunya penanda kuburan massal, tempat jasad dari jemaat gereja itu dimakamkan.


</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8yOS8yMC8xNjU2NzUvNS94OGtpdWhk&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
UGANDA - Tepat 20 tahun lalu di Distrik Kanungu, Uganda Barat Daya terjadi pembantaian. Aksi itu menewaskan lebih dari 700 orang.


Judith Ariho tidak meneteskan air mata saat dia mengingat pembantaian gereja tersebut. Padahal, dalam insiden itu ada ibu, dua saudara kandung dan empat kerabatnya turut tewas.


Ariho menceritakan ulang detik-detik pembantaian tersebut. Ia mengatakan awalnya sejumlah orang dikunci di dalam sebuah gereja, dengan pintu dan jendela dipaku tertutup dari luar. Gereja itu kemudian dibakar.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

MUI Akan Bina Kelompok yang Diduga Anut Aliran Sesat di Tangerang


Kendati tak menetaskan air mata, Ariho mengatakan peristiwa itu masih menyisakan perih meski sudah dua dekade berlalu.


Mereka yang tewas adalah anggota Gerakan Pemulihan Sepuluh Perintah Allah - sekte yang percaya bahwa dunia akan berakhir pada pergantian milenium. Selang 20 tahun kemudian, tidak ada seorang pun yang dituntut atas pembantaian itu. Para pemimpin sekte tidak pernah ditemukan.


Anna Kabeireho, yang masih tinggal di lereng bukit yang menghadap ke tanah yang dimiliki oleh sekte itu, belum bisa melupakan bau yang menyelimuti lembah itu pada Jumat pagi.


&quot;Semuanya tertutup asap, jelaga, dan bau daging yang terbakar. Baunya langsung terasa di paru-paru Anda. Semua orang berlari ke lembah. Api masih menyala. Ada lusinan mayat, terbakar tak bisa dikenali,&quot; ujarnya kepada BBC.


&quot;Kami menutupi hidung kami dengan daun aromatik untuk menangkal bau. Selama beberapa bulan sesudahnya, kami tidak bisa makan daging,&quot; imbuhnya.


Kanungu adalah daerah subur dan damai di perbukitan hijau dan lembah yang dalam, tertutupi oleh pertanian kecil yang tergantikan oleh rumah-rumah. Perjalanan ke lembah, yang dulunya markas sekte itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.






Dari sana, mudah untuk melihat bagaimana komunitas religius itu mempertahankan hidup mereka, jauh dari mata para tetangga. Kicau burung memantul dari bukit dan terdengar suara air terjun di kejauhan. Ini adalah kondisi yang ideal untuk berkontemplasi.


Tapi tidak ada sisa bangunan yang disiram bensin dan dibakar. Di tepi tempat itu ada gundukan tanah yang panjang, satu-satunya penanda kuburan massal, tempat jasad dari jemaat gereja itu dimakamkan.


</content:encoded></item></channel></rss>
