<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gandeng UNP dan UNY, Dubes RI Apresiasi VILTA Fasilitasi Guru Bantu Bahasa Indonesia di Australia</title><description>Namun perkembangan pelajaran bahasa Indonesia di Australia terkendala kurangnya guru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia"/><item><title>Gandeng UNP dan UNY, Dubes RI Apresiasi VILTA Fasilitasi Guru Bantu Bahasa Indonesia di Australia</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia</guid><pubDate>Senin 01 Mei 2023 11:11 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia-aqT0PpxBhG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dubes RI apresiasi VILTA fasilitasi guru bantu Bahasa Indonesia di Australia (Foto: Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/01/18/2806274/gandeng-unp-dan-uny-dubes-ri-apresiasi-vilta-fasilitasi-guru-bantu-bahasa-indonesia-di-australia-aqT0PpxBhG.jpg</image><title>Dubes RI apresiasi VILTA fasilitasi guru bantu Bahasa Indonesia di Australia (Foto: Istimewa/Okezone)</title></images><description>MELBOURNE &amp;ndash; Bahasa Indonesia diketahui cukup diminati di Australia. Namun perkembangan pelajaran bahasa Indonesia di Australia terkendala kurangnya guru.
Atas dasar ini, Victorian Indonesia Language Teacher&amp;rsquo;s Association (VILTA) berusaha memenuhi kekurangan tersebut dengan cara memfasilitasi pengiriman guru bantu bahasa Indonesia ke sekolah-sekolah di Victoria yang membutuhkan.
VILTA pun menggandengn Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan mendatangkan guru bantu secara luring pada 2023 ini.
Hal tersebut disampaikan oleh Presiden VILTA, Silvy Wantania, dalam acara &amp;lsquo;2023 VILTA Annual Conference&amp;rsquo; yang berlangsung di Melbourne pada Jumat (28/4). Menurut Silvy, pengiriman guru bantu sebenarnya telah berlangsung sejak 2021, namun karena adanya pandemi Covid-19 maka hal tersebut dilakukan secara daring.

BACA JUGA:
Ludahi Imam Masjid di Bandung, Bule Australia Ditangkap di Bandara Soetta

&amp;ldquo;Tahun 2023 ini, kita akan mulai pengiriman guru bantu secara luring,&amp;rdquo; terangnya.

BACA JUGA:
 WN Australia Ngamuk hingga Ludahi Imam Masjid di Bandung&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Acara konferensi tahunan VILTA 2023 dihadiri oleh 120 guru bahasa Indonesia di wilayah Victoria. Acara konferensi sendiri berisi penyampaian materi, lokakarya, serta sesi berbagai praktik baik sesama guru. Konferensi VILTA 2023 yang mengangkat tema &amp;ldquo;Menggalakkan Program Bahasa Indonesia&amp;rdquo; ini dibuka langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Australia dan Republik Vanuatu, Dr. Siswo Pramono dan menghadirkan pembicara kunci Professor Julian Millie dari Monash University.Dalam sambutan pembukaannya Dubes Siswo menyatakan bahwa tema konferensi VILTA 2023 sangat relevan dengan situasi saat ini di Australia. Menurutnya, program bahasa Indonesia perlu digalakkan di Australia dan para guru bahasa Indonesia bisa menjadi ujung tombak untuk hal itu. Siswo berpendapat bahwa saat ini adalah momen yang tepat untuk menggalakkan bahasa Indonesia, mengingat pemerintah Australia tengah kembali mempromosikan Asia Literacy untuk siswa-siswa Australia.

&amp;ldquo;Dalam abad Asia, Indonesia merupakan salah satu negara penting yang perlu dipelajari oleh masyarakat Australia. Indonesia telah menjelma menjadi satu kekuatan ekonomi dunia, terlebih pasca suksesnya pelaksanaan pertemuan G20 di Bali. Hubungan bisnis Australia dan Indonesia juga semakin prospektif. Dalam hal ini, saling pengertian antara Indonesia dan Australia, antara lain melalui penggalakkan bahasa dan studi Indonesia di Australia, tidak hanya akan menjamin peluang bisnis yang berkelanjutan tetapi juga hubungan bilateral yang stabil dan perdamaian jangka panjang di antara kedua negara,&amp;rdquo; ungkapnya.

Dubes RI juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada VILTA yang telah menginisiasi dan memfasilitasi pengiriman guru bantu ke sekolah-sekolah di Victoria.
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Kita tahu, salah satu kendala pembelajaran bahasa Indonesia Australia adalah kurangnya jumlah guru. Oleh karena itu kami sangat berterimakasih dan memberikan penghargaan yang tinggi atas inisiatif dan kerjasama yang telah dilakukan oleh VILTA, UNP dan UNY untuk mengirimkan guru bantu ke sekolah-sekolah di Victoria,&amp;rdquo;paparnya.



Mengenai pengiriman guru bantu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI di Canberra, Mukhamad Najib, menyatakan bahwa kementerian pendidikan RI melalui Badan Bahasa juga telah mengirim guru bantu.



&amp;ldquo;Setiap tahun Badan Bahasa Kemdikbudristek mengirim guru bantu ke berbagai negara, termasuk ke Australia. Guru bantu dari Badan Bahasa telah dikirim ke Darwin, Melbourne dan Flinders baik secara daring maupun luring. Namun begitu memang jumlahnya belum cukup, masih banyak sekolah di Australia yang membutuhkan guru bantu. Oleh karena itu inisiatif VILTA sangat kita dukung,&amp;rdquo; ujarnya.



Sementara itu, Professor Julian Millie dalam materinya menyampaikan pentingnya memperbaharui gambaran tentang budaya Indonesia dalam rangka menggalakkan bahasa Indonesia di Australia. Menurutnya, saat ini masyarakat Australia masih mengenali budaya Indonesia sebagai budaya tradisional. Sementara, untuk kalangan anak muda hal tersebut sudah tidak menarik. Anak-anak muda Australia lebih tertarik pada budaya modern.



Karena itu, menurut Julian, Indonesia harus bisa lebih mempromosikan budaya Indonesia modern kepada siswa-siswa Australia. Jika siswa tertarik dengan budaya Indonesia modern, maka mereka pun akan tertarik belajar bahasa Indonesia.



Meski perkembangan bahasa Indonesia tidak sepesat bahasa Korea belakangan ini, ada yang menarik jika keduanya dibandingkan. Menurut Julian, pemelajar bahasa Indonesia lebih stabil dari awal sampai akhir. Misalnya pada tahun pertama ada 40 siswa yang mengambil bahasa Indonesia, para siswa ini akan terus belajar sampai selesai, sehingga ditahun ketiga jumlah siswa yang lulus masih 40. Sementara yang terjadi pada bahasa Korea berbeda, dimana pada tahun pertama yang daftar ratusan, tapi diakhir tahun ketiga yang selesai hanya sekitar 40an juga.



Acara konferensi yang berlangsung di Amara Hotel Riverwalk Melbourne ini berlangsung semarak. Selain berisi seminar, diskusi dan lokakarya yang serius, para peserta juga disuguhkan hiburan berupa tarian Enggang dari Kalimantan, makanan khas Indonesia, serta mini bazar produk-produk Indonesia. Dan yang tak kalah menyenangkan bagi guru adalah mereka mendapatkan banyak doorprize serta souvenir Indonesia.



















</description><content:encoded>MELBOURNE &amp;ndash; Bahasa Indonesia diketahui cukup diminati di Australia. Namun perkembangan pelajaran bahasa Indonesia di Australia terkendala kurangnya guru.
Atas dasar ini, Victorian Indonesia Language Teacher&amp;rsquo;s Association (VILTA) berusaha memenuhi kekurangan tersebut dengan cara memfasilitasi pengiriman guru bantu bahasa Indonesia ke sekolah-sekolah di Victoria yang membutuhkan.
VILTA pun menggandengn Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan mendatangkan guru bantu secara luring pada 2023 ini.
Hal tersebut disampaikan oleh Presiden VILTA, Silvy Wantania, dalam acara &amp;lsquo;2023 VILTA Annual Conference&amp;rsquo; yang berlangsung di Melbourne pada Jumat (28/4). Menurut Silvy, pengiriman guru bantu sebenarnya telah berlangsung sejak 2021, namun karena adanya pandemi Covid-19 maka hal tersebut dilakukan secara daring.

BACA JUGA:
Ludahi Imam Masjid di Bandung, Bule Australia Ditangkap di Bandara Soetta

&amp;ldquo;Tahun 2023 ini, kita akan mulai pengiriman guru bantu secara luring,&amp;rdquo; terangnya.

BACA JUGA:
 WN Australia Ngamuk hingga Ludahi Imam Masjid di Bandung&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Acara konferensi tahunan VILTA 2023 dihadiri oleh 120 guru bahasa Indonesia di wilayah Victoria. Acara konferensi sendiri berisi penyampaian materi, lokakarya, serta sesi berbagai praktik baik sesama guru. Konferensi VILTA 2023 yang mengangkat tema &amp;ldquo;Menggalakkan Program Bahasa Indonesia&amp;rdquo; ini dibuka langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Australia dan Republik Vanuatu, Dr. Siswo Pramono dan menghadirkan pembicara kunci Professor Julian Millie dari Monash University.Dalam sambutan pembukaannya Dubes Siswo menyatakan bahwa tema konferensi VILTA 2023 sangat relevan dengan situasi saat ini di Australia. Menurutnya, program bahasa Indonesia perlu digalakkan di Australia dan para guru bahasa Indonesia bisa menjadi ujung tombak untuk hal itu. Siswo berpendapat bahwa saat ini adalah momen yang tepat untuk menggalakkan bahasa Indonesia, mengingat pemerintah Australia tengah kembali mempromosikan Asia Literacy untuk siswa-siswa Australia.

&amp;ldquo;Dalam abad Asia, Indonesia merupakan salah satu negara penting yang perlu dipelajari oleh masyarakat Australia. Indonesia telah menjelma menjadi satu kekuatan ekonomi dunia, terlebih pasca suksesnya pelaksanaan pertemuan G20 di Bali. Hubungan bisnis Australia dan Indonesia juga semakin prospektif. Dalam hal ini, saling pengertian antara Indonesia dan Australia, antara lain melalui penggalakkan bahasa dan studi Indonesia di Australia, tidak hanya akan menjamin peluang bisnis yang berkelanjutan tetapi juga hubungan bilateral yang stabil dan perdamaian jangka panjang di antara kedua negara,&amp;rdquo; ungkapnya.

Dubes RI juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada VILTA yang telah menginisiasi dan memfasilitasi pengiriman guru bantu ke sekolah-sekolah di Victoria.
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Kita tahu, salah satu kendala pembelajaran bahasa Indonesia Australia adalah kurangnya jumlah guru. Oleh karena itu kami sangat berterimakasih dan memberikan penghargaan yang tinggi atas inisiatif dan kerjasama yang telah dilakukan oleh VILTA, UNP dan UNY untuk mengirimkan guru bantu ke sekolah-sekolah di Victoria,&amp;rdquo;paparnya.



Mengenai pengiriman guru bantu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI di Canberra, Mukhamad Najib, menyatakan bahwa kementerian pendidikan RI melalui Badan Bahasa juga telah mengirim guru bantu.



&amp;ldquo;Setiap tahun Badan Bahasa Kemdikbudristek mengirim guru bantu ke berbagai negara, termasuk ke Australia. Guru bantu dari Badan Bahasa telah dikirim ke Darwin, Melbourne dan Flinders baik secara daring maupun luring. Namun begitu memang jumlahnya belum cukup, masih banyak sekolah di Australia yang membutuhkan guru bantu. Oleh karena itu inisiatif VILTA sangat kita dukung,&amp;rdquo; ujarnya.



Sementara itu, Professor Julian Millie dalam materinya menyampaikan pentingnya memperbaharui gambaran tentang budaya Indonesia dalam rangka menggalakkan bahasa Indonesia di Australia. Menurutnya, saat ini masyarakat Australia masih mengenali budaya Indonesia sebagai budaya tradisional. Sementara, untuk kalangan anak muda hal tersebut sudah tidak menarik. Anak-anak muda Australia lebih tertarik pada budaya modern.



Karena itu, menurut Julian, Indonesia harus bisa lebih mempromosikan budaya Indonesia modern kepada siswa-siswa Australia. Jika siswa tertarik dengan budaya Indonesia modern, maka mereka pun akan tertarik belajar bahasa Indonesia.



Meski perkembangan bahasa Indonesia tidak sepesat bahasa Korea belakangan ini, ada yang menarik jika keduanya dibandingkan. Menurut Julian, pemelajar bahasa Indonesia lebih stabil dari awal sampai akhir. Misalnya pada tahun pertama ada 40 siswa yang mengambil bahasa Indonesia, para siswa ini akan terus belajar sampai selesai, sehingga ditahun ketiga jumlah siswa yang lulus masih 40. Sementara yang terjadi pada bahasa Korea berbeda, dimana pada tahun pertama yang daftar ratusan, tapi diakhir tahun ketiga yang selesai hanya sekitar 40an juga.



Acara konferensi yang berlangsung di Amara Hotel Riverwalk Melbourne ini berlangsung semarak. Selain berisi seminar, diskusi dan lokakarya yang serius, para peserta juga disuguhkan hiburan berupa tarian Enggang dari Kalimantan, makanan khas Indonesia, serta mini bazar produk-produk Indonesia. Dan yang tak kalah menyenangkan bagi guru adalah mereka mendapatkan banyak doorprize serta souvenir Indonesia.



















</content:encoded></item></channel></rss>
