<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PBB: Konflik di Sudan Bisa Paksa 800 Ribu Orang Mengungsi</title><description>Konflik di Sudan telah memasuki hari ke-16.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi"/><item><title>PBB: Konflik di Sudan Bisa Paksa 800 Ribu Orang Mengungsi</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi</guid><pubDate>Selasa 02 Mei 2023 13:35 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi-jEe6TH6wOj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/02/18/2806820/pbb-konflik-di-sudan-bisa-paksa-800-ribu-orang-mengungsi-jEe6TH6wOj.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>KHARTOUM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin, (1/5/2023) memperingatkan bahwa konflik di Sudan dapat memaksa 800.000 orang meninggalkan negara. Pertempuran antara faksi militer yang bersaing terus berlanjut di ibu kota meskipun seharusnya ada gencatan senjata yang disepakati.

BACA JUGA:
Perang Mematikan Sudan, Serangan Udara Hantam Khartoum Meski Ada Gencatan Senjata

Ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka selama 16 hari pertempuran sejak perselisihan antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus menjadi konflik pada 15 April.
Krisis tersebut telah menimbulkan bencana kemanusiaan, merusak sebagian Khartoum, mempertaruhkan penarikan kekuatan regional dan memicu kembali konflik di wilayah Darfur.
Banyak yang mengkhawatirkan nyawa mereka dalam perebutan kekuasaan antara panglima militer dan pimpinan RSF, yang berbagi kendali atas pemerintah setelah kudeta pada 2021, tetapi berselisih karena rencana transisi ke pemerintahan sipil.

BACA JUGA:
Eks PM: Krisis Sudan Bisa Menjadi Mimpi Buruk Dunia&amp;nbsp;

Kedua belah pihak sepakat pada Minggu, (30/4/2023) untuk memperpanjang gencatan senjata yang banyak dilanggar selama 72 jam, dan PBB mengatakan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak dapat mengadakan pembicaraan gencatan senjata di Arab Saudi. Namun serangan udara dan artileri terdengar pada Senin ketika asap membubung di Khartoum dan kota-kota tetangga.

Pejabat PBB Raouf Mazou mengatakan badan pengungsi itu merencanakan eksodus 815.000 orang termasuk 580.000 orang Sudan serta pengungsi asing yang sekarang tinggal di negara itu. Populasi negara itu berjumlah 46 juta.
Sekira 73.000 telah meninggalkan Sudan, katanya.
Mesir melaporkan 40.000 orang Sudan telah melintasi perbatasannya, dan mereka yang melakukan perjalanan mengatakan kondisinya sulit. Yang lain telah pergi ke Chad, Sudan Selatan dan Ethiopia, atau berlayar melintasi Laut Merah ke Arab Saudi dengan perahu evakuasi.
Setidaknya 528 orang tewas dan 4.599 terluka, kata kementerian kesehatan. PBB telah melaporkan jumlah kematian yang serupa tetapi percaya bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.</description><content:encoded>KHARTOUM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin, (1/5/2023) memperingatkan bahwa konflik di Sudan dapat memaksa 800.000 orang meninggalkan negara. Pertempuran antara faksi militer yang bersaing terus berlanjut di ibu kota meskipun seharusnya ada gencatan senjata yang disepakati.

BACA JUGA:
Perang Mematikan Sudan, Serangan Udara Hantam Khartoum Meski Ada Gencatan Senjata

Ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka selama 16 hari pertempuran sejak perselisihan antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus menjadi konflik pada 15 April.
Krisis tersebut telah menimbulkan bencana kemanusiaan, merusak sebagian Khartoum, mempertaruhkan penarikan kekuatan regional dan memicu kembali konflik di wilayah Darfur.
Banyak yang mengkhawatirkan nyawa mereka dalam perebutan kekuasaan antara panglima militer dan pimpinan RSF, yang berbagi kendali atas pemerintah setelah kudeta pada 2021, tetapi berselisih karena rencana transisi ke pemerintahan sipil.

BACA JUGA:
Eks PM: Krisis Sudan Bisa Menjadi Mimpi Buruk Dunia&amp;nbsp;

Kedua belah pihak sepakat pada Minggu, (30/4/2023) untuk memperpanjang gencatan senjata yang banyak dilanggar selama 72 jam, dan PBB mengatakan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak dapat mengadakan pembicaraan gencatan senjata di Arab Saudi. Namun serangan udara dan artileri terdengar pada Senin ketika asap membubung di Khartoum dan kota-kota tetangga.

Pejabat PBB Raouf Mazou mengatakan badan pengungsi itu merencanakan eksodus 815.000 orang termasuk 580.000 orang Sudan serta pengungsi asing yang sekarang tinggal di negara itu. Populasi negara itu berjumlah 46 juta.
Sekira 73.000 telah meninggalkan Sudan, katanya.
Mesir melaporkan 40.000 orang Sudan telah melintasi perbatasannya, dan mereka yang melakukan perjalanan mengatakan kondisinya sulit. Yang lain telah pergi ke Chad, Sudan Selatan dan Ethiopia, atau berlayar melintasi Laut Merah ke Arab Saudi dengan perahu evakuasi.
Setidaknya 528 orang tewas dan 4.599 terluka, kata kementerian kesehatan. PBB telah melaporkan jumlah kematian yang serupa tetapi percaya bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.</content:encoded></item></channel></rss>
