<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Proyek Ambisius Raja Mataram Disapu Banjir Bandang</title><description>Konon selain kendala kekurangan jumlah pekerja, faktor alam berupa banjir bandang juga mempengaruhi pembangunan itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang"/><item><title>Proyek Ambisius Raja Mataram Disapu Banjir Bandang</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang</guid><pubDate>Rabu 03 Mei 2023 06:46 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang-bk8RZJzCsE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/03/337/2807272/proyek-ambisius-raja-mataram-disapu-banjir-bandang-bk8RZJzCsE.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Okezone.com)</title></images><description>PROSES pembangunan Istana Plered Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Amangkurat I tak berjalan mulus. Konon selain kendala kekurangan jumlah pekerja, faktor alam berupa banjir bandang juga mempengaruhi pembangunan itu.

Bahkan untuk membuat proyek istana megah dengan kompleksnya Sultan Amangkurat I mendatangkan orang dari Karawang dan mengerahkan seluruh rakyatnya. HJ De Graaf pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot; mencatat setidaknya ada 300 ribu orang dilibatkan.


BACA JUGA:
Senopati Penguasa Mataram Pernah Gunakan Miras dan Wanita Demi Gerogoti Pengaruh Kerajaan Pajang


Pada tahun 1661 raja begitu disibukkan sekali dengan ingin menjadikan tempat kediamannya sebuah pulau. Ia bahkan meminta para penguasa pantai tidak boleh meninggalkan tempat, karena mereka harus turut mengawasi pekerjaan yang sedang dilakukan di sana.

Hal ini pula yang diberitakan dalam Babad Sangkala pada tahun 1683 J atau mulai 6 September 1660, yang menyebut para penduduk pesisir dan Mancanggara bekerja membangun lagi sebuah bendungan di Jaha. Para umbul masing-masing mengawasi sebagian pekerjaan tertentu, tetapi banjir yang datang setelah itu menimbulkan kerusakan besar.


BACA JUGA:
Kisah Guru Sultan Amangkurat I yang Bersahabat dengan Belanda


Dua tahun kemudian dilakukan penggalian kembali. Raja mempunyai rencana untuk menyuruh dibuat sebuah kolam besar di belakang atau sekeliling Istananya. Beberapa bulan kemudian dikatakan bahwa Sultan Amangkurat I mulai pusing kepala lagi untuk membuat sebuah batang air di belakang istana kerajaannya.

Kemudian untuk kepentingan pembangunan keraton, dibuatlah sebuah bendungan yang tidak hanya untuk mengendalikan air danau, melainkan juga berfungsi melindungi keraton di sebelah selatan dan timur dari banjir.Pada tahun 1659 danau itu diperluas, dengan sebagian dari sebelah timur alun-alun. Setelah itu bendungan yang lama dibobol. Pada tahun 1661 dicoba untuk mengalirkan air tidak hanya di sebelah selatan dan timur, tetapi juga di sebelah utara dan barat. Pekerjaan yang sangat luas ini membutuhkan 300.000 tenaga kerja paksa.

Sayang pada sekitar tahun 1661 dikabarkan dari utusan Belanda musim hujan datang dengan dahsyat. Alhasil proyek itu pun berantakan. Lumbung besar itu dihantam banjir bandang, sehingga banyak orang kekurangan beras. Tak hanya itu, Bendungan Besar pun juga disapu bersih oleh banjir itu. Baru pada tahun 1663 pekerjaan pada bangunan air itu dapat dimulai kembali dan diselesaikan dengan baik.</description><content:encoded>PROSES pembangunan Istana Plered Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Amangkurat I tak berjalan mulus. Konon selain kendala kekurangan jumlah pekerja, faktor alam berupa banjir bandang juga mempengaruhi pembangunan itu.

Bahkan untuk membuat proyek istana megah dengan kompleksnya Sultan Amangkurat I mendatangkan orang dari Karawang dan mengerahkan seluruh rakyatnya. HJ De Graaf pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot; mencatat setidaknya ada 300 ribu orang dilibatkan.


BACA JUGA:
Senopati Penguasa Mataram Pernah Gunakan Miras dan Wanita Demi Gerogoti Pengaruh Kerajaan Pajang


Pada tahun 1661 raja begitu disibukkan sekali dengan ingin menjadikan tempat kediamannya sebuah pulau. Ia bahkan meminta para penguasa pantai tidak boleh meninggalkan tempat, karena mereka harus turut mengawasi pekerjaan yang sedang dilakukan di sana.

Hal ini pula yang diberitakan dalam Babad Sangkala pada tahun 1683 J atau mulai 6 September 1660, yang menyebut para penduduk pesisir dan Mancanggara bekerja membangun lagi sebuah bendungan di Jaha. Para umbul masing-masing mengawasi sebagian pekerjaan tertentu, tetapi banjir yang datang setelah itu menimbulkan kerusakan besar.


BACA JUGA:
Kisah Guru Sultan Amangkurat I yang Bersahabat dengan Belanda


Dua tahun kemudian dilakukan penggalian kembali. Raja mempunyai rencana untuk menyuruh dibuat sebuah kolam besar di belakang atau sekeliling Istananya. Beberapa bulan kemudian dikatakan bahwa Sultan Amangkurat I mulai pusing kepala lagi untuk membuat sebuah batang air di belakang istana kerajaannya.

Kemudian untuk kepentingan pembangunan keraton, dibuatlah sebuah bendungan yang tidak hanya untuk mengendalikan air danau, melainkan juga berfungsi melindungi keraton di sebelah selatan dan timur dari banjir.Pada tahun 1659 danau itu diperluas, dengan sebagian dari sebelah timur alun-alun. Setelah itu bendungan yang lama dibobol. Pada tahun 1661 dicoba untuk mengalirkan air tidak hanya di sebelah selatan dan timur, tetapi juga di sebelah utara dan barat. Pekerjaan yang sangat luas ini membutuhkan 300.000 tenaga kerja paksa.

Sayang pada sekitar tahun 1661 dikabarkan dari utusan Belanda musim hujan datang dengan dahsyat. Alhasil proyek itu pun berantakan. Lumbung besar itu dihantam banjir bandang, sehingga banyak orang kekurangan beras. Tak hanya itu, Bendungan Besar pun juga disapu bersih oleh banjir itu. Baru pada tahun 1663 pekerjaan pada bangunan air itu dapat dimulai kembali dan diselesaikan dengan baik.</content:encoded></item></channel></rss>
