<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hati Bung Karno Hancur Ditolak saat Melamar Noni Belanda, Terobati 23 Tahun Kemudian</title><description>Soekarno ternyata pernah ditolak saat melamar wanita Belanda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/12/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/12/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian"/><item><title>Hati Bung Karno Hancur Ditolak saat Melamar Noni Belanda, Terobati 23 Tahun Kemudian</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/12/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/12/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian</guid><pubDate>Jum'at 12 Mei 2023 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/11/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian-uEcJcgPzTR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Soekarno (Foto: Tangkapan layar/Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/11/337/2812475/hati-bung-karno-hancur-ditolak-saat-melamar-noni-belanda-terobati-23-tahun-kemudian-uEcJcgPzTR.jpg</image><title>Soekarno (Foto: Tangkapan layar/Ist)</title></images><description>SOEKARNO, Presiden pertama RI itu dikenal sebagai sosok yang karimastik. Tak heran kehidupannya banyak dikelilingi perempuan cantik. Bukan rahasia lagi, Bung Karno sapaan akrabnya, memiliki banyak istri.&amp;nbsp;
Kendati urusan cintanya tak berarti selalu berjalan mulus. Bapak Proklamator itu ternyata pernah ditolak saat melamar wanita Belanda.

BACA JUGA:
Tak Mau Dipinang Lelaki Lain, Hati Fatmawati Akhirnya Jatuh ke Soekarno&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Bung Karno bersekolah di HBS (Hogere Burger School), sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
&quot;HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun. Di HBS Surabaya, ketika itu, dari lebih 100 murid, hanya 20 orang saja yang pribumi,&quot;ujar Roso Daras  penulis buku &quot;Sukarno Sejarah Yang Tercecer&quot;.
HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Medan pada zaman itu. Sedangkan AMS, ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

BACA JUGA:
 Cerita Soekarno Kepincut Fatmawati, Inggit: Ceraikanlah, Aku Pantang Dimadu!&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dalam buku Bung Karno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, disebutkan begitu membaranya Bung Karno untuk bisa menaklukkan noni-noni Belanda, agar bisa menjadi pacarnya. Selain penasaran sebagai laki-laki yang menaklukan gadis bangsa penjajah, tujuan lainnya adalah agar cepat mahir berbahasa Belanda.
Semasa muda, Bung Karno merasa tampan dan pintar. Ia pun mendapatkan gadis-gadis Belanda idamannya. &quot;Ia mencatat, gadis bule HBS pertama yang jadi kekasihnya bernama Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya di HBS. Pauline dikisahkan sebagai seorang gadis yang cantik, dan Sukarno tergila-gila kepadanya,&quot; kata Roso.
Dari Pauline, Bung Karno beralih ke Laura. Namun, tak berlangsung lama. Hingga akhirnya, Bung Karno melabuhkan cintanya ke gadis lainnya.



&quot;Mungkin Sukarno tidak benar-benar mencintai. Buktinya, ia sendiri lupa akan namanya. Yang ia ingat, gadis itu dari keluarga Raat, seorang Indo yang punya beberapa putri cantik. Yang juga ia ingat, rumah keluarga Raat adalah berlawanan arah dengan rumah yang ditinggali Sukarno,&quot; kata Roso.



&quot;Sekalipun begitu, selama berbulan-bulan pacaran, Bung Karno rela tiap hari jalan berputar arah hanya untuk gadis pujaannya, &quot; imbuhnya.



Tambatan hati keempat adalah seorang noni Belanda nan cantik. Sukarno ingat betul namanya:



Mien Hessels, noni Belanda yang dipacari Bung Karno selanjutnya. Wanita cantik ini mampu menutup lembaran-lembaran indah Soekarno muda bersama Pauline, Laura dan juga putri keluarga Raat.



&quot;Mien Hessels telah menyihir Soekarno menjadi gelap mata. Soekarno memuja Mien Hessels sebagai &amp;ldquo;kembang tulip berambut kuning berpipi merah mawar&amp;rdquo;. Kulitnya halus selembut kapas. Rambut blondenya ikal mayang. Pribadinya memesona. Soekarno bahkan merasa rela mati untuk mendapatkan gadis pujaannya. Usia Sukarno 18 tahun, ketika itu,&quot; ujar Roso.



Rasa cintanya yang memuncak membuat Soekarno memberanikan diri melamar Mien Hessels. &quot;Mengenakan busana terbaik, bersepatu pula, Soekarno duduk di kamar, melemaskan lidah, menghafal kata, melatih bicara: Melamar Mien Hessels menjadi istrinya!&quot; ujarnya.



Layaknya pria pada umumnya, Soekarno juga merasakan gugup luar biasa saat memasuki halaman rumah Mien Hessels untuk melamarnya.







Hatinya menggigil ketakutan, ditambah Soekarno belum pernah bertamu ke rumah orang Belanda yang mewah dengan hamparan rumput di halamannya. Beraneka kembang warna-warni turut mempercantiknya.







Bung Karno pun mengutarakan isi hatinya di depan pria tinggi besar, ayah dari kekasihnya.







&amp;ldquo;Tuan&amp;hellip; kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin minta anak tuan&amp;hellip;.&amp;rdquo;







Belum selesai Soekarno muda bicara, ayah Hessels melabraknya.







&amp;ldquo;Kamu?! Inlander kotor seperti kamu? Kenapa kamu berani-berani mendekati anakku?! Keluar kamu binatang kotor. Keluar!!!&amp;rdquo;







Perasaan Soekarno hancur, seperti dicambuk dan terhina. Ia pun angkat kaki meninggalkan rumah kekasihnya itu dan menjadi peristiwa yang tak terlupakan.







Soekarno menjelma menjadi tokoh pergerakan 23 tahun kemudian. Di tengah Perang Dunia II pada 1942 berkecamuk, Soekarno mendengar ada yang memanggil namanya saat sedang berjalan-jalan suatu sore di sebuah jalan di Jakarta.







&amp;ldquo;Sukarno?&amp;rdquo;







Berpalinglah Sukarno ke arah pemanggil seraya menjawab, &amp;ldquo;Ya, saya Sukarno.&amp;rdquo;







Wanita itu tertawa terkikik-kikik, &amp;ldquo;Dapat kau menerka siapa saya?&amp;rdquo; Sukarno memandangi wanita berbadan besar, jelek, tak terpelihara. &amp;ldquo;Tidak, Nyonya&amp;hellip; saya tidak dapat menerka, siapakah Nyonya?&amp;rdquo;







Wanita itu kembali tertawa terkikik-kikik sebelum menjawab, &amp;ldquo;Mien Hessels!&amp;rdquo; dia terkikik lagi.







&amp;ldquo;Huhhh!!! Mien Hessels! seru Soekarno.







&quot;Putriku yang cantik seperti bidadari, kini sudah berubah menjadi perempuan mirip tukang sihir, buruk dan kotor&amp;hellip;.&amp;rdquo;







Soekarno langsung bergegas memberi salam dan pamit kepada mantan kekasihnya di Surabaya itu. Hati kecilnya berucap, &amp;ldquo;Caci maki yang telah dilontarkan ayahnya dulu, sesungguhnya suatu rahmat yang tersembunyi&quot;







(Tulisan ini pernah ditulis Doddy Handoko)</description><content:encoded>SOEKARNO, Presiden pertama RI itu dikenal sebagai sosok yang karimastik. Tak heran kehidupannya banyak dikelilingi perempuan cantik. Bukan rahasia lagi, Bung Karno sapaan akrabnya, memiliki banyak istri.&amp;nbsp;
Kendati urusan cintanya tak berarti selalu berjalan mulus. Bapak Proklamator itu ternyata pernah ditolak saat melamar wanita Belanda.

BACA JUGA:
Tak Mau Dipinang Lelaki Lain, Hati Fatmawati Akhirnya Jatuh ke Soekarno&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Bung Karno bersekolah di HBS (Hogere Burger School), sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
&quot;HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun. Di HBS Surabaya, ketika itu, dari lebih 100 murid, hanya 20 orang saja yang pribumi,&quot;ujar Roso Daras  penulis buku &quot;Sukarno Sejarah Yang Tercecer&quot;.
HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Medan pada zaman itu. Sedangkan AMS, ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

BACA JUGA:
 Cerita Soekarno Kepincut Fatmawati, Inggit: Ceraikanlah, Aku Pantang Dimadu!&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dalam buku Bung Karno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, disebutkan begitu membaranya Bung Karno untuk bisa menaklukkan noni-noni Belanda, agar bisa menjadi pacarnya. Selain penasaran sebagai laki-laki yang menaklukan gadis bangsa penjajah, tujuan lainnya adalah agar cepat mahir berbahasa Belanda.
Semasa muda, Bung Karno merasa tampan dan pintar. Ia pun mendapatkan gadis-gadis Belanda idamannya. &quot;Ia mencatat, gadis bule HBS pertama yang jadi kekasihnya bernama Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya di HBS. Pauline dikisahkan sebagai seorang gadis yang cantik, dan Sukarno tergila-gila kepadanya,&quot; kata Roso.
Dari Pauline, Bung Karno beralih ke Laura. Namun, tak berlangsung lama. Hingga akhirnya, Bung Karno melabuhkan cintanya ke gadis lainnya.



&quot;Mungkin Sukarno tidak benar-benar mencintai. Buktinya, ia sendiri lupa akan namanya. Yang ia ingat, gadis itu dari keluarga Raat, seorang Indo yang punya beberapa putri cantik. Yang juga ia ingat, rumah keluarga Raat adalah berlawanan arah dengan rumah yang ditinggali Sukarno,&quot; kata Roso.



&quot;Sekalipun begitu, selama berbulan-bulan pacaran, Bung Karno rela tiap hari jalan berputar arah hanya untuk gadis pujaannya, &quot; imbuhnya.



Tambatan hati keempat adalah seorang noni Belanda nan cantik. Sukarno ingat betul namanya:



Mien Hessels, noni Belanda yang dipacari Bung Karno selanjutnya. Wanita cantik ini mampu menutup lembaran-lembaran indah Soekarno muda bersama Pauline, Laura dan juga putri keluarga Raat.



&quot;Mien Hessels telah menyihir Soekarno menjadi gelap mata. Soekarno memuja Mien Hessels sebagai &amp;ldquo;kembang tulip berambut kuning berpipi merah mawar&amp;rdquo;. Kulitnya halus selembut kapas. Rambut blondenya ikal mayang. Pribadinya memesona. Soekarno bahkan merasa rela mati untuk mendapatkan gadis pujaannya. Usia Sukarno 18 tahun, ketika itu,&quot; ujar Roso.



Rasa cintanya yang memuncak membuat Soekarno memberanikan diri melamar Mien Hessels. &quot;Mengenakan busana terbaik, bersepatu pula, Soekarno duduk di kamar, melemaskan lidah, menghafal kata, melatih bicara: Melamar Mien Hessels menjadi istrinya!&quot; ujarnya.



Layaknya pria pada umumnya, Soekarno juga merasakan gugup luar biasa saat memasuki halaman rumah Mien Hessels untuk melamarnya.







Hatinya menggigil ketakutan, ditambah Soekarno belum pernah bertamu ke rumah orang Belanda yang mewah dengan hamparan rumput di halamannya. Beraneka kembang warna-warni turut mempercantiknya.







Bung Karno pun mengutarakan isi hatinya di depan pria tinggi besar, ayah dari kekasihnya.







&amp;ldquo;Tuan&amp;hellip; kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin minta anak tuan&amp;hellip;.&amp;rdquo;







Belum selesai Soekarno muda bicara, ayah Hessels melabraknya.







&amp;ldquo;Kamu?! Inlander kotor seperti kamu? Kenapa kamu berani-berani mendekati anakku?! Keluar kamu binatang kotor. Keluar!!!&amp;rdquo;







Perasaan Soekarno hancur, seperti dicambuk dan terhina. Ia pun angkat kaki meninggalkan rumah kekasihnya itu dan menjadi peristiwa yang tak terlupakan.







Soekarno menjelma menjadi tokoh pergerakan 23 tahun kemudian. Di tengah Perang Dunia II pada 1942 berkecamuk, Soekarno mendengar ada yang memanggil namanya saat sedang berjalan-jalan suatu sore di sebuah jalan di Jakarta.







&amp;ldquo;Sukarno?&amp;rdquo;







Berpalinglah Sukarno ke arah pemanggil seraya menjawab, &amp;ldquo;Ya, saya Sukarno.&amp;rdquo;







Wanita itu tertawa terkikik-kikik, &amp;ldquo;Dapat kau menerka siapa saya?&amp;rdquo; Sukarno memandangi wanita berbadan besar, jelek, tak terpelihara. &amp;ldquo;Tidak, Nyonya&amp;hellip; saya tidak dapat menerka, siapakah Nyonya?&amp;rdquo;







Wanita itu kembali tertawa terkikik-kikik sebelum menjawab, &amp;ldquo;Mien Hessels!&amp;rdquo; dia terkikik lagi.







&amp;ldquo;Huhhh!!! Mien Hessels! seru Soekarno.







&quot;Putriku yang cantik seperti bidadari, kini sudah berubah menjadi perempuan mirip tukang sihir, buruk dan kotor&amp;hellip;.&amp;rdquo;







Soekarno langsung bergegas memberi salam dan pamit kepada mantan kekasihnya di Surabaya itu. Hati kecilnya berucap, &amp;ldquo;Caci maki yang telah dilontarkan ayahnya dulu, sesungguhnya suatu rahmat yang tersembunyi&quot;







(Tulisan ini pernah ditulis Doddy Handoko)</content:encoded></item></channel></rss>
