<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kerabat Bupati Pacitan yang Tak Mempan Dilukai Senjata Pasukan Pangeran Diponegoro   </title><description>Pertempuran ini terjadi di Glesung, yang menyebabkan banyaknya korban jiwa dari kubu pasukan Pacitan dan Belanda.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro"/><item><title>Kisah Kerabat Bupati Pacitan yang Tak Mempan Dilukai Senjata Pasukan Pangeran Diponegoro   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro</guid><pubDate>Senin 15 Mei 2023 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro-GxtsqEKcEZ.png" expression="full" type="image/jpeg">Peperangan kerajaan (foto: dok wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/15/337/2813951/kisah-kerabat-bupati-pacitan-yang-tak-mempan-dilukai-senjata-pasukan-pangeran-diponegoro-GxtsqEKcEZ.png</image><title>Peperangan kerajaan (foto: dok wikipedia)</title></images><description>
PERTEMPURAN sengit terjadi antara pasukan Pangeran Diponegoro dengan koalisi gabungan pasukan Pacitan dan Belanda. Pertempuran ini terjadi di Glesung, yang menyebabkan banyaknya korban jiwa dari kubu pasukan Pacitan dan Belanda.

Bupati Pacitan, Mas Tumenggung Jogokaryo II yang menjadi pemimpin pasukan Pacitan berhasil ditangkap. Ia sempoyongan karena dikeroyok oleh banyak musuh sehingga akhirnya tak kuasa melawannya hingga roboh.

BACA JUGA:
 Pertempuran Pasukan Pangeran Diponegoro Melawan Koalisi Pacitan dan Belanda&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Pasukan Belanda yakni Van Vlissingen dikisahkan juga kewalahan menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro yang jumlahnya ribuan orang. Ia meminjam kuda milik Mas Cokrodiwiryo, sebagaimana dikutip pada &quot;Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan&quot;, terjemahan Karsono Hardjoseputro

Mas Cokrodiwiryo mengira Tuan Van Vlissingen hendak maju perang sehingga dia memberikan kudanya. Ternyata dugaannya salah, setelah Tuan Van Vlissingen menaiki kuda, kudanya dikeprak pulang melarikan diri. Mas Cokrodiwiryo kemudian mencabut pedangnya dan maju ke tengah, tetapi dia disambut musuh. Tak lama kemudian Mas Cokrodiwiryo tewas dalam pertempuran.

BACA JUGA:
Kemelut Para Bupati Pro Kolonial Belanda di Tengah Perang Pangeran Diponegoro

Sementara, Mas Karyosudiro kerabat pasukan Pacitan melihat ayah dan paman pamannya tewas, segera pula mengamuk tidak mengindahkan bahaya. Dia siap menyerahkan nyawanya untuk membela ayah dan paman-pamannya.

Perangnya bak banteng terluka musuh yang berada di dekatnya terluka. Meskipun kulit Mas Karyosudiro tidak mempan senjata, tetapi ia akhirnya kalah banyak. Bagian dalam tubuhnya pun hancur dan kemudian roboh. Musuh mengira Mas Karyosudiro sudah tewas, sehingga ditinggal begitu saja.



Ketika melihat para senapatinya telah tiada, prajurit-prajurit Pacitan ketakutan, tak ada yang berani melanjutkan perang. Akhirnya mereka melarikan diri, saling berebut menyelamatkan diri.



Pasukan Pangeran Diponegoro kemudian beristirahat di pesanggrahan Nglorog. Seusai perang, Mas Karyosudiro yang roboh di tengah medan pertempuran dan dikira musuh sudah meninggal, tersadar dan kemudian bangun serta merangkak mengungsi ke desa.</description><content:encoded>
PERTEMPURAN sengit terjadi antara pasukan Pangeran Diponegoro dengan koalisi gabungan pasukan Pacitan dan Belanda. Pertempuran ini terjadi di Glesung, yang menyebabkan banyaknya korban jiwa dari kubu pasukan Pacitan dan Belanda.

Bupati Pacitan, Mas Tumenggung Jogokaryo II yang menjadi pemimpin pasukan Pacitan berhasil ditangkap. Ia sempoyongan karena dikeroyok oleh banyak musuh sehingga akhirnya tak kuasa melawannya hingga roboh.

BACA JUGA:
 Pertempuran Pasukan Pangeran Diponegoro Melawan Koalisi Pacitan dan Belanda&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Pasukan Belanda yakni Van Vlissingen dikisahkan juga kewalahan menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro yang jumlahnya ribuan orang. Ia meminjam kuda milik Mas Cokrodiwiryo, sebagaimana dikutip pada &quot;Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan&quot;, terjemahan Karsono Hardjoseputro

Mas Cokrodiwiryo mengira Tuan Van Vlissingen hendak maju perang sehingga dia memberikan kudanya. Ternyata dugaannya salah, setelah Tuan Van Vlissingen menaiki kuda, kudanya dikeprak pulang melarikan diri. Mas Cokrodiwiryo kemudian mencabut pedangnya dan maju ke tengah, tetapi dia disambut musuh. Tak lama kemudian Mas Cokrodiwiryo tewas dalam pertempuran.

BACA JUGA:
Kemelut Para Bupati Pro Kolonial Belanda di Tengah Perang Pangeran Diponegoro

Sementara, Mas Karyosudiro kerabat pasukan Pacitan melihat ayah dan paman pamannya tewas, segera pula mengamuk tidak mengindahkan bahaya. Dia siap menyerahkan nyawanya untuk membela ayah dan paman-pamannya.

Perangnya bak banteng terluka musuh yang berada di dekatnya terluka. Meskipun kulit Mas Karyosudiro tidak mempan senjata, tetapi ia akhirnya kalah banyak. Bagian dalam tubuhnya pun hancur dan kemudian roboh. Musuh mengira Mas Karyosudiro sudah tewas, sehingga ditinggal begitu saja.



Ketika melihat para senapatinya telah tiada, prajurit-prajurit Pacitan ketakutan, tak ada yang berani melanjutkan perang. Akhirnya mereka melarikan diri, saling berebut menyelamatkan diri.



Pasukan Pangeran Diponegoro kemudian beristirahat di pesanggrahan Nglorog. Seusai perang, Mas Karyosudiro yang roboh di tengah medan pertempuran dan dikira musuh sudah meninggal, tersadar dan kemudian bangun serta merangkak mengungsi ke desa.</content:encoded></item></channel></rss>
