<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata</title><description>Edi merupakan pejuang yang lolos dari bedil Belanda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata"/><item><title>Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata</guid><pubDate>Selasa 16 Mei 2023 05:04 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/15/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata-krmAp16nar.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Edi Somad (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/15/337/2814444/kisah-pejuang-edi-somad-dilempar-ke-lantai-dan-jidatnya-ditodongkan-senjata-krmAp16nar.jpg</image><title>Edi Somad (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>PEJUANG Edi B Somad merupakan prajurit Tentara Republik Indonesia (TRI), sekarang TNI. Ia sekelas bintara yang bertugas di Batalyon V Resimen Cikampek pada zaman revolusi kemerdekaan masa 1945-1949.
Edi merupakan pejuang yang lolos dari bedil Belanda. Dalam kisahnya, Edi menyamar sebagai pedagang jeruk yang bersiasat untuk merampas senjata tentara Belanda.
Selain bernyali, Edi juga memiliki kemampuan bahasa asing. Ia menguasai Bahasa Belanda dan Jepang. Suatu ketika, Edi dirinya sempat diinterogasi tentara Belanda.

BACA JUGA:
Kisah Kerabat Bupati Pacitan yang Tak Mempan Dilukai Senjata Pasukan Pangeran Diponegoro&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Medio 1947 itu, saya lupa bulannya, pernah dikirim ke Bogor untuk misi merampas senjata. Beberapa waktu setelah menyamar, saya sempat kena razia tentara Belanda di Bogor, pas lagi tidur di asrama yang disediakan seseorang yang namanya Pak Toha,&amp;rdquo; ujar Edi dalam sebuah kesempatan wawancara Tim Okezone beberapa waktu lalu.
Edi dibawa ke daerah bernama Cilendek, dekat Semplak, Bogor dengan menggunakan truk. Pria berusia 89 tahun itu tiga hari lamanya dia ditahan dan diinterogasi perwira Belanda.
Dalam ingatannya bernama Letnan Leo dan Hendrick, seorang pribumi yang ikut pasukan NICA (Nederlands Indie Civil Administratie).
&amp;ldquo;Ye ben extrimist? War Ye huis? Ditanya begitu pakai bahasa Belanda sama Letnan Leo itu yang artinya apa kamu ekstremis (pejuang)? Saya jawab pakai bahasa Belanda juga. &amp;lsquo;Nei meneer. Ik ben orange trader, meneer&amp;rsquo; (Bukan tuan. Saya pedagang jeruk, tuan),&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Naturlijk (benar)? Tanya dia. Naturlijk, meneer (Benar, tuan) saja jawab begitu. Besoknya, saya diiterogasi sama NICA kulit hitam namanya Hendrick. Saya disuruh mengaku sebagai ekstremis dengan cara yang lebih kasar. Kerah baju saja diangkat, ditodongin senjata jidat saya,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;ldquo;Saya pasang (peluru di kepala) kamu ya! Gitu katanya. Saya tetap jawab tidak, saya bukan ekstremis. Habis itu saya dilempar ke lantai. Sementara itu ada orang lain yang juga ditahan tapi enggak bisa ngomong (bahasa) Belanda, dihantam popor (senapan) kepalanya. Disiksa segala macam,&amp;rdquo; kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA:
Kisah Empat Pejabat yang Diperintah Bunuh Ulama Oleh Raja Mataram
Memasuki hari ketiga, pejuang kelahiran Kemayoran 1928 itu kembali diiterogasi Letnan Leo. Pertanyaan yang dilayangkan terhadap Edi masih sama.

Saat seluruh pakaiannya diperiksa, ditemukanlah kartu pelajar HIS di salah satu saku pakaiannya.

&amp;ldquo;Pas dilihat kartu sekolah HIS saya itu, kengototannya baru mencair. Saya akhirnya dibolehkan pulang setelah tiga hari ditahan. Tapi sebelumnya, saya minta surat jalan untuk pulang. Karena kan di mana-mana banyak Belanda,&amp;rdquo; katanya.

&amp;ldquo;Saya pulang ke Cikampek dari Bogor dari gerobak kereta (kereta barang.red). Di setiap stasiun yang dilewati, diperiksa tentara NICA. Wah, itu mereka ganas-ganas banget dah. Kalau lihat orang pakai pin merah putih, disuruh telan itu pinnya. Kalau enggak mau, dihantam popor kepalanya,&amp;rdquo; imbuhnya.

Berbekal surat jalan tersebut, Edi Somad,selamat sepanjang perjalanan. Kemudian, dirinya kembali bergabung dengan induk pasukan Siliwangi.

Bahasa Belanda dikuasai Edi karena dirinya pernah mengenyam pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bogor. Edi berkesempatan makan bangku sekolah Belanda karena ayahnya bekerja di maskapai pelayaran Belanda.

Sedangkan bahasa Jepang, Edi belajar ketika Jepang menduduki Hindia Belanda sejak 1942. Edi ikut pendidikan Heiho Rikugun (Pembantu Tentara Angkatan Darat Jepang) selama enam bulan.</description><content:encoded>PEJUANG Edi B Somad merupakan prajurit Tentara Republik Indonesia (TRI), sekarang TNI. Ia sekelas bintara yang bertugas di Batalyon V Resimen Cikampek pada zaman revolusi kemerdekaan masa 1945-1949.
Edi merupakan pejuang yang lolos dari bedil Belanda. Dalam kisahnya, Edi menyamar sebagai pedagang jeruk yang bersiasat untuk merampas senjata tentara Belanda.
Selain bernyali, Edi juga memiliki kemampuan bahasa asing. Ia menguasai Bahasa Belanda dan Jepang. Suatu ketika, Edi dirinya sempat diinterogasi tentara Belanda.

BACA JUGA:
Kisah Kerabat Bupati Pacitan yang Tak Mempan Dilukai Senjata Pasukan Pangeran Diponegoro&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Medio 1947 itu, saya lupa bulannya, pernah dikirim ke Bogor untuk misi merampas senjata. Beberapa waktu setelah menyamar, saya sempat kena razia tentara Belanda di Bogor, pas lagi tidur di asrama yang disediakan seseorang yang namanya Pak Toha,&amp;rdquo; ujar Edi dalam sebuah kesempatan wawancara Tim Okezone beberapa waktu lalu.
Edi dibawa ke daerah bernama Cilendek, dekat Semplak, Bogor dengan menggunakan truk. Pria berusia 89 tahun itu tiga hari lamanya dia ditahan dan diinterogasi perwira Belanda.
Dalam ingatannya bernama Letnan Leo dan Hendrick, seorang pribumi yang ikut pasukan NICA (Nederlands Indie Civil Administratie).
&amp;ldquo;Ye ben extrimist? War Ye huis? Ditanya begitu pakai bahasa Belanda sama Letnan Leo itu yang artinya apa kamu ekstremis (pejuang)? Saya jawab pakai bahasa Belanda juga. &amp;lsquo;Nei meneer. Ik ben orange trader, meneer&amp;rsquo; (Bukan tuan. Saya pedagang jeruk, tuan),&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Naturlijk (benar)? Tanya dia. Naturlijk, meneer (Benar, tuan) saja jawab begitu. Besoknya, saya diiterogasi sama NICA kulit hitam namanya Hendrick. Saya disuruh mengaku sebagai ekstremis dengan cara yang lebih kasar. Kerah baju saja diangkat, ditodongin senjata jidat saya,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;ldquo;Saya pasang (peluru di kepala) kamu ya! Gitu katanya. Saya tetap jawab tidak, saya bukan ekstremis. Habis itu saya dilempar ke lantai. Sementara itu ada orang lain yang juga ditahan tapi enggak bisa ngomong (bahasa) Belanda, dihantam popor (senapan) kepalanya. Disiksa segala macam,&amp;rdquo; kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA:
Kisah Empat Pejabat yang Diperintah Bunuh Ulama Oleh Raja Mataram
Memasuki hari ketiga, pejuang kelahiran Kemayoran 1928 itu kembali diiterogasi Letnan Leo. Pertanyaan yang dilayangkan terhadap Edi masih sama.

Saat seluruh pakaiannya diperiksa, ditemukanlah kartu pelajar HIS di salah satu saku pakaiannya.

&amp;ldquo;Pas dilihat kartu sekolah HIS saya itu, kengototannya baru mencair. Saya akhirnya dibolehkan pulang setelah tiga hari ditahan. Tapi sebelumnya, saya minta surat jalan untuk pulang. Karena kan di mana-mana banyak Belanda,&amp;rdquo; katanya.

&amp;ldquo;Saya pulang ke Cikampek dari Bogor dari gerobak kereta (kereta barang.red). Di setiap stasiun yang dilewati, diperiksa tentara NICA. Wah, itu mereka ganas-ganas banget dah. Kalau lihat orang pakai pin merah putih, disuruh telan itu pinnya. Kalau enggak mau, dihantam popor kepalanya,&amp;rdquo; imbuhnya.

Berbekal surat jalan tersebut, Edi Somad,selamat sepanjang perjalanan. Kemudian, dirinya kembali bergabung dengan induk pasukan Siliwangi.

Bahasa Belanda dikuasai Edi karena dirinya pernah mengenyam pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bogor. Edi berkesempatan makan bangku sekolah Belanda karena ayahnya bekerja di maskapai pelayaran Belanda.

Sedangkan bahasa Jepang, Edi belajar ketika Jepang menduduki Hindia Belanda sejak 1942. Edi ikut pendidikan Heiho Rikugun (Pembantu Tentara Angkatan Darat Jepang) selama enam bulan.</content:encoded></item></channel></rss>
