<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Bupati Pacitan Diselamatkan Ayahnya Usai Kalah Bertempur Melawan Pasukan Pangeran Diponegoro</title><description>Tak hanya sekadar kekalahan yang didapat, beberapa pemimpin pasukan senapati sampai harus tewas.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro"/><item><title>Kisah Bupati Pacitan Diselamatkan Ayahnya Usai Kalah Bertempur Melawan Pasukan Pangeran Diponegoro</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro</guid><pubDate>Selasa 16 Mei 2023 05:31 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro-B5H7vayvO4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/16/337/2814582/kisah-bupati-pacitan-diselamatkan-ayahnya-usai-kalah-bertempur-melawan-pasukan-pangeran-diponegoro-B5H7vayvO4.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Ist)</title></images><description>PASUKAN Pacitan yang dibantu Belanda kalah total ketika menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro. Tak hanya sekadar kekalahan yang didapat, beberapa pemimpin pasukan senapati sampai harus tewas.

Usai pertarungan di Glesung, Bupati Pacitan Mas Tumenggung Jogokaryo II ditawan musuh. Pemimpin pasukan Belanda Tuan Van Vlissingen sudah tiba di Pacitan. Ia kemudian memberi tahu pada Mas Jogokaryo bahwa pasukan Pacitan banyak yang tewas.

BACA JUGA:
Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata


Dikisahkan pada &quot;Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan&quot;, terjemahan Karsono Hardjoseputro, menyatakan pemimpin pasukan Belanda yang kabur itu lantas meminta ayah Bupati Pacitan yakni Mas Jogokaryo membantu pasukan yang kalah perang itu.

Mas Jogokaryo menjawab besok pagi dia akan berangkat. Sesaat kemudian pasukan yang melarikan diri dari Glesung telah tiba pula di Pacitan, serta memberi tahu pada Mas Jogokaryo bahwa anaknya, Mas Tumenggung Jogokaryo II ditawan musuh, sedangkan Mas Cokrodiwiryo dan Wiryodikromo tewas di medan perang.

Setelah itu mereka tidak tahu apa yang terjadi karena semuanya melarikan diri. Mas Jogokaryo menangis sedih mendengar cerita para demang tersebut karena cintanya pada anak-anaknya.

BACA JUGA:
Bayang-Bayang Risiko Politik Soekarno saat Ingin Kawin Lagi
Tidak lama kemudian dia memberi tahu para demang dan teman- temannya. Mas Jogokaryo beetrkad akan menyusul anaknya di markas pasukan Pangeran Diponegoro yang disebut sebagai pemberontak oleh mereka.



&quot;Saya akan menyusul anakku, Kaki Bupati, di penginapan para pemberontak di Nglorog, serta merawat mayat anak-anakku yang tewas. Sekarang, para demang, beristi- rahatlah. Sepeninggalku, apabila istirahat kalian sudah cukup, tenangkan hati rakyat Pacitan,&quot; kata Mas Jogokaryo menginstruksikan ke para demang. Para demang menyanggupi, kemudian mereka undur diri.



Setelah cukup perbekalan, Mas Jogokaryo segera berangkat. Langkahnya menuju ke bekas tempat pertempuran, mencari mayat kedua anaknya yakni Mas Wiryodikromo dan Mas Cokrodiwiryo. Tiada berapa lama keduanya dapat ditemukan, kemudian dibersihkan dan dimakamkan di Glesung.



Setelah itu, dia mencari cucunya, Mas Karyosudiro, yang kemudian ditemukan di desa. Ketika itu Mas Karyosudiro masih sakit, kekuatannya belum pulih. Setelah jelas dan menitipkan Mas Karyosudiro pada yang empunya rumah, Mas Jogokaryo melanjutkan perjalanan ke Nglorog.

</description><content:encoded>PASUKAN Pacitan yang dibantu Belanda kalah total ketika menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro. Tak hanya sekadar kekalahan yang didapat, beberapa pemimpin pasukan senapati sampai harus tewas.

Usai pertarungan di Glesung, Bupati Pacitan Mas Tumenggung Jogokaryo II ditawan musuh. Pemimpin pasukan Belanda Tuan Van Vlissingen sudah tiba di Pacitan. Ia kemudian memberi tahu pada Mas Jogokaryo bahwa pasukan Pacitan banyak yang tewas.

BACA JUGA:
Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata


Dikisahkan pada &quot;Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan&quot;, terjemahan Karsono Hardjoseputro, menyatakan pemimpin pasukan Belanda yang kabur itu lantas meminta ayah Bupati Pacitan yakni Mas Jogokaryo membantu pasukan yang kalah perang itu.

Mas Jogokaryo menjawab besok pagi dia akan berangkat. Sesaat kemudian pasukan yang melarikan diri dari Glesung telah tiba pula di Pacitan, serta memberi tahu pada Mas Jogokaryo bahwa anaknya, Mas Tumenggung Jogokaryo II ditawan musuh, sedangkan Mas Cokrodiwiryo dan Wiryodikromo tewas di medan perang.

Setelah itu mereka tidak tahu apa yang terjadi karena semuanya melarikan diri. Mas Jogokaryo menangis sedih mendengar cerita para demang tersebut karena cintanya pada anak-anaknya.

BACA JUGA:
Bayang-Bayang Risiko Politik Soekarno saat Ingin Kawin Lagi
Tidak lama kemudian dia memberi tahu para demang dan teman- temannya. Mas Jogokaryo beetrkad akan menyusul anaknya di markas pasukan Pangeran Diponegoro yang disebut sebagai pemberontak oleh mereka.



&quot;Saya akan menyusul anakku, Kaki Bupati, di penginapan para pemberontak di Nglorog, serta merawat mayat anak-anakku yang tewas. Sekarang, para demang, beristi- rahatlah. Sepeninggalku, apabila istirahat kalian sudah cukup, tenangkan hati rakyat Pacitan,&quot; kata Mas Jogokaryo menginstruksikan ke para demang. Para demang menyanggupi, kemudian mereka undur diri.



Setelah cukup perbekalan, Mas Jogokaryo segera berangkat. Langkahnya menuju ke bekas tempat pertempuran, mencari mayat kedua anaknya yakni Mas Wiryodikromo dan Mas Cokrodiwiryo. Tiada berapa lama keduanya dapat ditemukan, kemudian dibersihkan dan dimakamkan di Glesung.



Setelah itu, dia mencari cucunya, Mas Karyosudiro, yang kemudian ditemukan di desa. Ketika itu Mas Karyosudiro masih sakit, kekuatannya belum pulih. Setelah jelas dan menitipkan Mas Karyosudiro pada yang empunya rumah, Mas Jogokaryo melanjutkan perjalanan ke Nglorog.

</content:encoded></item></channel></rss>
