<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Prajurit Kopassus, Lolos dari Maut saat Diberondong Peluru hingga Ledakan Granat</title><description>Dirinya diterjunkan dari pesawat C-130 Hercules TNI AU untuk merebut Dili bersama pasukan baret merah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/17/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/17/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat"/><item><title>Kisah Prajurit Kopassus, Lolos dari Maut saat Diberondong Peluru hingga Ledakan Granat</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/17/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/17/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat</guid><pubDate>Rabu 17 Mei 2023 05:03 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/16/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat-qm6pqddiuc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mayjen (Purn) Hermintoyo (Foto: Tangkapan layar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/16/337/2814893/kisah-prajurit-kopassus-lolos-dari-maut-saat-diberondong-peluru-hingga-ledakan-granat-qm6pqddiuc.jpg</image><title>Mayjen (Purn) Hermintoyo (Foto: Tangkapan layar)</title></images><description>TAK lekang dalam ingatan Mayor (Purn) Hermintoyo saat dirinya memasuki palagan Timor. Ketika itu, ia dalam misi Operasi Seroja di Timor Timur.

Hermintoyo yang kala itu kopral satu (koptu) ditugaskan sebagai sebagai operator radio Peleton 2 Kompi B Nanggala V Kopassandha. Dirinya diterjunkan dari pesawat C-130 Hercules TNI AU untuk merebut Dili bersama pasukan baret merah lainnya.

&amp;ldquo;Persiapan terjun di Dili tanggal 6 (Desember 1975). Kita persiapan pagi-pagi selesai apel, payung yang kita taruh di gudang, radio juga saya persiapkan, tapi saya menyendiri. Yang lain-lain menyiapkan di dalam barak, saya di luar barak,&quot; ujar Hermin dilansir channel Beny Adrian.

BACA JUGA:
Jenderal Kopassus Perketat Pengawasan Senjata Prajurit TNI di Papua, Ada Apa?


Pria akrab disapa Hermin itu mengaku menyendiri karena untuk menenangkan diri. Sebab, banyak rekan-rekannya yang gugur saat bertugas di sana.

&quot;Ya, untuk menenangkan diri. Karena apa, kawan-kawan yang melaksanakan tugas seperti Tim Umi, Tim Susi. banyak yang gugur di sana. Saya sudah persiapan, bahwa saya sudah siap mati,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Dua Eks Teroris KKB Menyerahkan Senjata Api, Jenderal Kopassus: Bukti Kepercayaan ke TNI


Sebelum diberangkatkan, seluruh prajurit membaca doa. Namun, alangkah terkejutnya Hermin, ternyata sang istri sudah ada di belakangnya.

&quot;Kita dibagi doa oleh rohis kita yaitu Kapten Nu'man Mursidi. Kita baca, ternyata istri saya sudah di belakang saya. Saya dikirimi nasi bungkus, saya makan dia ngeliatin. Kurang lebih setengah 12 siang kita sudah naik truk untuk berangkat ke Halim,&quot; ujarnya.

Mereka pun diberangkatkan dengan cara diterjunkan dari pesawat menggunakan terjun payung. Sesampainya di Timor-Timur, ia kaget karena parasut yang digunakannya bolong ditembaki peluru Tropaz.



Adapun Tropaz adalah pasukan Timor Timur didikan Portugis yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya.



&amp;ldquo;Ternyata begitu mendarat, saya menyangkut di tiang listrik kabel bertegangan tinggi. Payung saya bolong ditembaki Tropaz,&amp;rdquo; ujarnya.



Dengan sigap, Hermin melihat sebuah rumah yang disinyalir markas dari Fretilin. Hermin langsung mengeluarkan senjata AK-47 dan menembaki rumah tersebut.



&amp;ldquo;Mereka melihat saya dan melemparkan granat dan mengenai mata saya. Danton saya dan Tim Kesehatan memberikan obat merah dan tensoplas ke mata saya,&amp;rdquo; ujarnya.



Tidak lama kemudian sembuh dan dia melakukan konsolidasi ke Dili dengan berjalan ke arah Pantai. Dalam perjalanan, peluru-peluru Fretilin terus menembakinya.



Ia sempat menemukan dua anggota TNI gugur saat di Pantai. &quot;Saya langsung membawa keduanya dan langsung menghubungi komandan untuk segera dievakuasi, tapi saat itu Fretilin terus menembaki secara gencar dari atas bukit,&amp;rdquo; pungkasnya.

</description><content:encoded>TAK lekang dalam ingatan Mayor (Purn) Hermintoyo saat dirinya memasuki palagan Timor. Ketika itu, ia dalam misi Operasi Seroja di Timor Timur.

Hermintoyo yang kala itu kopral satu (koptu) ditugaskan sebagai sebagai operator radio Peleton 2 Kompi B Nanggala V Kopassandha. Dirinya diterjunkan dari pesawat C-130 Hercules TNI AU untuk merebut Dili bersama pasukan baret merah lainnya.

&amp;ldquo;Persiapan terjun di Dili tanggal 6 (Desember 1975). Kita persiapan pagi-pagi selesai apel, payung yang kita taruh di gudang, radio juga saya persiapkan, tapi saya menyendiri. Yang lain-lain menyiapkan di dalam barak, saya di luar barak,&quot; ujar Hermin dilansir channel Beny Adrian.

BACA JUGA:
Jenderal Kopassus Perketat Pengawasan Senjata Prajurit TNI di Papua, Ada Apa?


Pria akrab disapa Hermin itu mengaku menyendiri karena untuk menenangkan diri. Sebab, banyak rekan-rekannya yang gugur saat bertugas di sana.

&quot;Ya, untuk menenangkan diri. Karena apa, kawan-kawan yang melaksanakan tugas seperti Tim Umi, Tim Susi. banyak yang gugur di sana. Saya sudah persiapan, bahwa saya sudah siap mati,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Dua Eks Teroris KKB Menyerahkan Senjata Api, Jenderal Kopassus: Bukti Kepercayaan ke TNI


Sebelum diberangkatkan, seluruh prajurit membaca doa. Namun, alangkah terkejutnya Hermin, ternyata sang istri sudah ada di belakangnya.

&quot;Kita dibagi doa oleh rohis kita yaitu Kapten Nu'man Mursidi. Kita baca, ternyata istri saya sudah di belakang saya. Saya dikirimi nasi bungkus, saya makan dia ngeliatin. Kurang lebih setengah 12 siang kita sudah naik truk untuk berangkat ke Halim,&quot; ujarnya.

Mereka pun diberangkatkan dengan cara diterjunkan dari pesawat menggunakan terjun payung. Sesampainya di Timor-Timur, ia kaget karena parasut yang digunakannya bolong ditembaki peluru Tropaz.



Adapun Tropaz adalah pasukan Timor Timur didikan Portugis yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya.



&amp;ldquo;Ternyata begitu mendarat, saya menyangkut di tiang listrik kabel bertegangan tinggi. Payung saya bolong ditembaki Tropaz,&amp;rdquo; ujarnya.



Dengan sigap, Hermin melihat sebuah rumah yang disinyalir markas dari Fretilin. Hermin langsung mengeluarkan senjata AK-47 dan menembaki rumah tersebut.



&amp;ldquo;Mereka melihat saya dan melemparkan granat dan mengenai mata saya. Danton saya dan Tim Kesehatan memberikan obat merah dan tensoplas ke mata saya,&amp;rdquo; ujarnya.



Tidak lama kemudian sembuh dan dia melakukan konsolidasi ke Dili dengan berjalan ke arah Pantai. Dalam perjalanan, peluru-peluru Fretilin terus menembakinya.



Ia sempat menemukan dua anggota TNI gugur saat di Pantai. &quot;Saya langsung membawa keduanya dan langsung menghubungi komandan untuk segera dievakuasi, tapi saat itu Fretilin terus menembaki secara gencar dari atas bukit,&amp;rdquo; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
