<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konflik Raja Mataram dengan Pamannya Memanas Pasca Pembunuhan Ulama</title><description>Sang paman merasa khawatir akibat ulah yang dilakukan keponakannya itu saat memimpin Mataram.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama"/><item><title>Konflik Raja Mataram dengan Pamannya Memanas Pasca Pembunuhan Ulama</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama</guid><pubDate>Jum'at 19 Mei 2023 05:29 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama-athcPn0XoT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/19/337/2816295/konflik-raja-mataram-dengan-pamannya-memanas-pasca-pembunuhan-ulama-athcPn0XoT.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Ist)</title></images><description>KONFLIK antara Raja Mataram dengan pamannya Pangeran Purbaya terjadi usai pembunuhan besar-besaran ulama dan keluarganya. Sang paman merasa khawatir akibat ulah yang dilakukan keponakannya itu saat memimpin Mataram.

Pangeran Purbaya pun lantas tak menghadap ke istana tanpa pemberitahuan apapun ke sultan. Kekhawatirannya ditangkap oleh Sultan Amangkurat I sebagai bagian dari memberontak.

BACA JUGA:
Kisah Empat Pejabat yang Diperintah Bunuh Ulama Oleh Raja Mataram


Maka, sultan Mataram ini diam-diam memperkuat dirinya, karena banyak sekali anak buah serta anak cucunya, yang seluruhnya 50 orang, dan kawan-kawannya yang berkedudukan.

Putra Pangeran Purbaya yakni Raden Mas, yang juga orang kepercayaan raja pun merasa khawatir dengan ulah sang ayahnya. Dikisahkan pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot;, dari H.J. De Graaf, sudah tentu Sunan tidak merasa senang menghadapi keadaan itu. Ia merasa khawatir kalau-kalau terjadi kerusuhan.

Oleh karena itu, dikirimnya Raden Mas kembali kepada ayahnya dengan pesan bahwa Pangeran Purbaya mempunyai alasan untuk tidak lagi hadir di Istana karena ia (Tegalwangi) dalam melakukan pekerjaan besar ini (pembunuhan secara besar-besaran yang baru lalu) tidak berembuk terlebih dahulu dengannya (Purbaya).

BACA JUGA:
Keris Setan Kober Jadi Saksi Pertarungan Kakak Beradik Trah Raja Mataram


Sultan Amangkurat I pun akan mengunjunginya keesokan harinya untuk menyampaikan maaf, dan memerintahkan putranya itu agar tetap bersama ayahnya untuk dapat membantu menghormati para tamu. Tetapi sang putra Raden Mas, yang dapat menangkap artinya menolak.

Namun, sekali lagi sang anak menolak, karena ia menganggap bukan abdi ayahnya, melainkan abdi Sultan Amangkurat I. Di mana, hidup serta matinya berada di tangan Sunan. Raja memerintahkan kepadanya supaya taat, kalau tidak mau terkena murka Raja.



Lalu, ditariknya semua anak buahnya, dan disuruhnya pergi kepada ayahnya, dan dikumpulkannya tidak kurang dari 200.000 orang dan segala kekuatan dari kawan- kawannya semua, untuk mendatangi pamannya, Purbaya. Orangtua ini tidak menjadi goyah untuk menghadap ke istana.



Selanjutnya, dikirimnya putranya kembali kepada Sunan untuk menyatakan rasa terima kasihnya atas kehormatan yang sesungguhnya tidak patut diberikan kepadanya itu. Ia, Raden Mas, harus tetap mengabdi kepada Raja, karena ia, Purbaya, cukup pandai untuk menerima atasannya dengan cara yang semestinya.

</description><content:encoded>KONFLIK antara Raja Mataram dengan pamannya Pangeran Purbaya terjadi usai pembunuhan besar-besaran ulama dan keluarganya. Sang paman merasa khawatir akibat ulah yang dilakukan keponakannya itu saat memimpin Mataram.

Pangeran Purbaya pun lantas tak menghadap ke istana tanpa pemberitahuan apapun ke sultan. Kekhawatirannya ditangkap oleh Sultan Amangkurat I sebagai bagian dari memberontak.

BACA JUGA:
Kisah Empat Pejabat yang Diperintah Bunuh Ulama Oleh Raja Mataram


Maka, sultan Mataram ini diam-diam memperkuat dirinya, karena banyak sekali anak buah serta anak cucunya, yang seluruhnya 50 orang, dan kawan-kawannya yang berkedudukan.

Putra Pangeran Purbaya yakni Raden Mas, yang juga orang kepercayaan raja pun merasa khawatir dengan ulah sang ayahnya. Dikisahkan pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot;, dari H.J. De Graaf, sudah tentu Sunan tidak merasa senang menghadapi keadaan itu. Ia merasa khawatir kalau-kalau terjadi kerusuhan.

Oleh karena itu, dikirimnya Raden Mas kembali kepada ayahnya dengan pesan bahwa Pangeran Purbaya mempunyai alasan untuk tidak lagi hadir di Istana karena ia (Tegalwangi) dalam melakukan pekerjaan besar ini (pembunuhan secara besar-besaran yang baru lalu) tidak berembuk terlebih dahulu dengannya (Purbaya).

BACA JUGA:
Keris Setan Kober Jadi Saksi Pertarungan Kakak Beradik Trah Raja Mataram


Sultan Amangkurat I pun akan mengunjunginya keesokan harinya untuk menyampaikan maaf, dan memerintahkan putranya itu agar tetap bersama ayahnya untuk dapat membantu menghormati para tamu. Tetapi sang putra Raden Mas, yang dapat menangkap artinya menolak.

Namun, sekali lagi sang anak menolak, karena ia menganggap bukan abdi ayahnya, melainkan abdi Sultan Amangkurat I. Di mana, hidup serta matinya berada di tangan Sunan. Raja memerintahkan kepadanya supaya taat, kalau tidak mau terkena murka Raja.



Lalu, ditariknya semua anak buahnya, dan disuruhnya pergi kepada ayahnya, dan dikumpulkannya tidak kurang dari 200.000 orang dan segala kekuatan dari kawan- kawannya semua, untuk mendatangi pamannya, Purbaya. Orangtua ini tidak menjadi goyah untuk menghadap ke istana.



Selanjutnya, dikirimnya putranya kembali kepada Sunan untuk menyatakan rasa terima kasihnya atas kehormatan yang sesungguhnya tidak patut diberikan kepadanya itu. Ia, Raden Mas, harus tetap mengabdi kepada Raja, karena ia, Purbaya, cukup pandai untuk menerima atasannya dengan cara yang semestinya.

</content:encoded></item></channel></rss>
