<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Melihat Perahu Kuno Abad Ke-17 di Indramayu, Tak Sengaja Ditemukan Warga</title><description>Sebuah perahu kuno ada di lokasi objek wisata Pantai Tirtamaya, Desa Juntikedokan.
</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga"/><item><title>Melihat Perahu Kuno Abad Ke-17 di Indramayu, Tak Sengaja Ditemukan Warga</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga</guid><pubDate>Sabtu 20 Mei 2023 12:48 WIB</pubDate><dc:creator>Andrian Supendi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga-GZ92rqi8bo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perahu kuno di Indramayu. (Foto: Andrian Supendi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/20/525/2817043/melihat-perahu-kuno-abad-ke-17-di-indramayu-tak-sengaja-ditemukan-warga-GZ92rqi8bo.jpg</image><title>Perahu kuno di Indramayu. (Foto: Andrian Supendi)</title></images><description>INDRAMAYU - Sebuah perahu kuno ada di lokasi objek wisata Pantai Tirtamaya, Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Perahu kuno itu disinyalir berasal dari abad ke-17 hingga ke-18 masehi, memiliki panjang sekitar 11,5 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 1,5 meter. Perahu itu saat ini berada di ruang semacam aula dengan dinding tembok permanen, di lokasi objek wisata Pantai Tirtamaya.

Penjaga Cagar Budaya Perahu Kuno, Kamira menerangkan, perahu kuno tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh warga Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, pada kedalaman 3 meter saat menggali tanah untuk membuat sumur.

BACA JUGA:
Peringatan Hari Teh Internasional, Ini Sejarah Teh di Dunia

Kemudian, lanjut dia, pada tanggal 1 Februari 1992 dilakukan pengangkatan atau pemindahan perahu ke lokasi objek wisata Tirtamaya, atau sekitar 300 meter dari tempat penemuan.

&quot;Saat perahu kuno ini ditemukan, juga ditemukan pula pecahan keramik asing maupun lokal, lidi ijuk, dan tulang-tulang hewan diduga berjenis kerbau,&quot; terang dia, kepada MNC Portal Indonesia (MPI), di lokasi penyimpanan Perahu Kuno, Sabtu (20/5/2023).

BACA JUGA:
Sejarah Reformasi pada 21 Mei 1998 dan Cara Memperingatinya

Kamira mengatakan, perahu kuno yang saat ini menjadi cagar budaya di Kabupaten Indramayu itu berbahan dasar kayu trembesi serta beberapa bagian lainnnya terbuat dari besi.

Menurutnya, berdasarkan struktur dan konstruksinya, perahu tersebut tergolong ke dalam tipe lokal yang sudah dikenal luas oleh masyarakat setempat. Dia menyebut penggunaan galaran menjadi indikasi bahwa perahu tersebut merupakan jenis perahu angkutan, bukan perahu nelayan.

&quot;Karena di lingkungan pesisir Indramayu perahu nelayan tidak memakai galaran, melainkan hanya memakai satu lapis papan saja,&quot; kata dia.Di sisi lain, Kamira Mengungkapkan bahwa perahu kuno ini bukan perahu dengan tradisi Asia Tenggara, namun dilihat dari struktur, konstruksi, dan cara pengerjaannya, perahu kuno itu memiliki ciri paduan antara tradisi Asia Tenggara dan tradisi China.



&quot;Salah satunya terlihat dalam penggunaan paku besi sebagai penyambung papan dengan gading-gading. Paduan tradisi ini dikenal dengan sebutan tradisi Laut Cina Selatan,&quot; pungkas Kamira.

</description><content:encoded>INDRAMAYU - Sebuah perahu kuno ada di lokasi objek wisata Pantai Tirtamaya, Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Perahu kuno itu disinyalir berasal dari abad ke-17 hingga ke-18 masehi, memiliki panjang sekitar 11,5 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 1,5 meter. Perahu itu saat ini berada di ruang semacam aula dengan dinding tembok permanen, di lokasi objek wisata Pantai Tirtamaya.

Penjaga Cagar Budaya Perahu Kuno, Kamira menerangkan, perahu kuno tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh warga Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, pada kedalaman 3 meter saat menggali tanah untuk membuat sumur.

BACA JUGA:
Peringatan Hari Teh Internasional, Ini Sejarah Teh di Dunia

Kemudian, lanjut dia, pada tanggal 1 Februari 1992 dilakukan pengangkatan atau pemindahan perahu ke lokasi objek wisata Tirtamaya, atau sekitar 300 meter dari tempat penemuan.

&quot;Saat perahu kuno ini ditemukan, juga ditemukan pula pecahan keramik asing maupun lokal, lidi ijuk, dan tulang-tulang hewan diduga berjenis kerbau,&quot; terang dia, kepada MNC Portal Indonesia (MPI), di lokasi penyimpanan Perahu Kuno, Sabtu (20/5/2023).

BACA JUGA:
Sejarah Reformasi pada 21 Mei 1998 dan Cara Memperingatinya

Kamira mengatakan, perahu kuno yang saat ini menjadi cagar budaya di Kabupaten Indramayu itu berbahan dasar kayu trembesi serta beberapa bagian lainnnya terbuat dari besi.

Menurutnya, berdasarkan struktur dan konstruksinya, perahu tersebut tergolong ke dalam tipe lokal yang sudah dikenal luas oleh masyarakat setempat. Dia menyebut penggunaan galaran menjadi indikasi bahwa perahu tersebut merupakan jenis perahu angkutan, bukan perahu nelayan.

&quot;Karena di lingkungan pesisir Indramayu perahu nelayan tidak memakai galaran, melainkan hanya memakai satu lapis papan saja,&quot; kata dia.Di sisi lain, Kamira Mengungkapkan bahwa perahu kuno ini bukan perahu dengan tradisi Asia Tenggara, namun dilihat dari struktur, konstruksi, dan cara pengerjaannya, perahu kuno itu memiliki ciri paduan antara tradisi Asia Tenggara dan tradisi China.



&quot;Salah satunya terlihat dalam penggunaan paku besi sebagai penyambung papan dengan gading-gading. Paduan tradisi ini dikenal dengan sebutan tradisi Laut Cina Selatan,&quot; pungkas Kamira.

</content:encoded></item></channel></rss>
