<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Heroik Ngurah Rai Melawan Belanda dan Kemenangan Telak di Tanah Aron</title><description>Tentu perjalanan mereka dari Munduk Malang ke Karangasem, tak semulus yang diinginkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/21/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/21/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron"/><item><title>Kisah Heroik Ngurah Rai Melawan Belanda dan Kemenangan Telak di Tanah Aron</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/21/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/21/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron</guid><pubDate>Minggu 21 Mei 2023 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/20/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron-5OtYNdxTDx.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Overste (Letkol) I Gusti Ngurah Rai. (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/20/337/2817234/kisah-heroik-ngurah-rai-melawan-belanda-dan-kemenangan-telak-di-tanah-aron-5OtYNdxTDx.jpeg</image><title>Overste (Letkol) I Gusti Ngurah Rai. (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>PASUKAN &amp;ldquo;Ciung Wenara&amp;rdquo; yang dikomandoi&amp;nbsp;Overste&amp;nbsp;(Letkol) I Gusti Ngurah Rai&amp;nbsp;pada&amp;nbsp;28 Mei 1946 melakukan long march atau perjalanan panjang. Kala itu Ngurah Rai sempat meminta bantuan senjata ke Jawa pada April di tahun yang sama. Alih-alih mendapat yang diinginkan, Markas Besar Tentara memutuskan mengirim pasukan bantuan dari&amp;nbsp;Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Sekembalinya ke Bali, Ngurah Rai mengerahkan pasukannya untuk&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;ke bagian timur Pulau Dewata itu, demi mengalihkan perhatian Belanda, sekaligus memudahkan kontak dengan Pulau Jawa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dukun Sakti PKI yang Katanya Kebal Peluru Tewas Didor Kopassus

Tentu perjalanan mereka dari Munduk Malang ke Karangasem, tak semulus yang diinginkan. Sejumlah insiden kontak senjata kerap terjadi dengan pasukan&amp;nbsp;NICA (Nederlandsch Indi&amp;euml; Civil Administratie), maupun Brigade Gajah Merah. Kontak senjata terbesar sempat terjadi di Tanah Aron, Karangasem dengan pasukan Belanda pada 9 Juli 1946.

Seperti dikutip dalam &amp;lsquo;Jurnal Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi&amp;rsquo;, pasukan Ngurah Rai dengan diperkuat prajurit ALRI yang dipimpin&amp;nbsp;Kapten (Laut) Markadi, menang telak dengan menewaskan 82 tentara NICA dan tak satu pun dari prajuritnya kehilangan nyawa.

Tak lama, pasukan Ngurah Rai melanjutkan&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;mereka ke Desa Marga, Tabanan. Kegemilangan pasukannya juga berlanjut setelah mendapat tambahan senjata, usai melucuti Polisi Belanda di Kota Tabanan pada 18 November 1946.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Kopassus Menyamar Jadi Hantu Putih Sikat Habis Pemberontak

Keesokan harinya, Ngurah Rai mengumpulkan para perwira lainnya, Kapten I Gusti Wayan Debes, Mayor I Gusti Putu Wisnu serta Kapten Sugianyar dan Wagimin, untuk mengatur siasat jika kembali terjadi kontak senjata dalam skala besar dengan Belanda.

Sementara di pihak Belanda, pasukan dengan persenjataan lengkap diketahui pengintai dari laskar rakyat, bergerak ke sebelah utara dan selatan Desa Marga pada 20 November 1946.&amp;nbsp;
Letusan pistol dari Ngurah Rai sekira pukul 09.00 pagi pun menandai pertempuran dahsyat &amp;ldquo;Puputan Margarana&amp;rdquo;. Kendati sekitar 400 tentara NICA tewas, namun Ngurah Rai ikut gugur bersama 96 prajuritnya.



Namun hal itu memicu kemarahan Belanda hingga menyerbu posisi pasukan Ngurah Rai di Desa Marga pada 20 November. Dalam pertempuran dahsyat itu, Ngurah Rai gugur bersama 96 prajuritnya.

</description><content:encoded>PASUKAN &amp;ldquo;Ciung Wenara&amp;rdquo; yang dikomandoi&amp;nbsp;Overste&amp;nbsp;(Letkol) I Gusti Ngurah Rai&amp;nbsp;pada&amp;nbsp;28 Mei 1946 melakukan long march atau perjalanan panjang. Kala itu Ngurah Rai sempat meminta bantuan senjata ke Jawa pada April di tahun yang sama. Alih-alih mendapat yang diinginkan, Markas Besar Tentara memutuskan mengirim pasukan bantuan dari&amp;nbsp;Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Sekembalinya ke Bali, Ngurah Rai mengerahkan pasukannya untuk&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;ke bagian timur Pulau Dewata itu, demi mengalihkan perhatian Belanda, sekaligus memudahkan kontak dengan Pulau Jawa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dukun Sakti PKI yang Katanya Kebal Peluru Tewas Didor Kopassus

Tentu perjalanan mereka dari Munduk Malang ke Karangasem, tak semulus yang diinginkan. Sejumlah insiden kontak senjata kerap terjadi dengan pasukan&amp;nbsp;NICA (Nederlandsch Indi&amp;euml; Civil Administratie), maupun Brigade Gajah Merah. Kontak senjata terbesar sempat terjadi di Tanah Aron, Karangasem dengan pasukan Belanda pada 9 Juli 1946.

Seperti dikutip dalam &amp;lsquo;Jurnal Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi&amp;rsquo;, pasukan Ngurah Rai dengan diperkuat prajurit ALRI yang dipimpin&amp;nbsp;Kapten (Laut) Markadi, menang telak dengan menewaskan 82 tentara NICA dan tak satu pun dari prajuritnya kehilangan nyawa.

Tak lama, pasukan Ngurah Rai melanjutkan&amp;nbsp;long march&amp;nbsp;mereka ke Desa Marga, Tabanan. Kegemilangan pasukannya juga berlanjut setelah mendapat tambahan senjata, usai melucuti Polisi Belanda di Kota Tabanan pada 18 November 1946.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Kopassus Menyamar Jadi Hantu Putih Sikat Habis Pemberontak

Keesokan harinya, Ngurah Rai mengumpulkan para perwira lainnya, Kapten I Gusti Wayan Debes, Mayor I Gusti Putu Wisnu serta Kapten Sugianyar dan Wagimin, untuk mengatur siasat jika kembali terjadi kontak senjata dalam skala besar dengan Belanda.

Sementara di pihak Belanda, pasukan dengan persenjataan lengkap diketahui pengintai dari laskar rakyat, bergerak ke sebelah utara dan selatan Desa Marga pada 20 November 1946.&amp;nbsp;
Letusan pistol dari Ngurah Rai sekira pukul 09.00 pagi pun menandai pertempuran dahsyat &amp;ldquo;Puputan Margarana&amp;rdquo;. Kendati sekitar 400 tentara NICA tewas, namun Ngurah Rai ikut gugur bersama 96 prajuritnya.



Namun hal itu memicu kemarahan Belanda hingga menyerbu posisi pasukan Ngurah Rai di Desa Marga pada 20 November. Dalam pertempuran dahsyat itu, Ngurah Rai gugur bersama 96 prajuritnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
