<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Danpaspampres Terjun dari Ketinggian 12 Ribu Kaki pada Suhu Minus 2 Derajat Celsius</title><description>Kisah Danpaspampres Terjun dari Ketinggian 12 Ribu Kaki pada Suhu Minus 2 Derajat Celsius</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/22/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/05/22/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius"/><item><title>Kisah Danpaspampres Terjun dari Ketinggian 12 Ribu Kaki pada Suhu Minus 2 Derajat Celsius</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/05/22/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/05/22/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius</guid><pubDate>Senin 22 Mei 2023 07:11 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/21/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius-Ip9QmIjPzm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto : Kopassus)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/21/337/2817429/kisah-danpaspampres-terjun-dari-ketinggian-12-ribu-kaki-pada-suhu-minus-2-derajat-celsius-Ip9QmIjPzm.jpg</image><title>(Foto : Kopassus)</title></images><description>

JAKARTA &amp;ndash; Salah satu kemampuan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah terjun free fall dan melakukan infiltrasi ke jantung musuh secara senyap untuk sabotase.



Mayjen TNI Rafael Granada Baay  membagikan kisahnya nyaris tewas saat terjun free fall di Prancis.

Rafael menceritakan kisahnya itu saat masih berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Korem (Danrem) 074 /Warastratama.


Saat itu, Jenderal Kopassus ini masih berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas di Detasemen Intelijen (Denintel) Komando Pasukan Khusus (Kopassus ).

&quot;Ada satu pengalaman yang membuat nyawa saya di ujung tanduk. Bukan di medan perang, melainkan saat terjun bebas atau free fall,&quot; ujar Rafael.

Dikatakan Rafael, Satuan Kopassus mendatangi undangan dari negara Prancis. Dia diundang oleh pasukan khusus Perancis yang disebut GIGN (Groupe d&amp;rsquo;Intervention de la Gendarmerie Nationale).





BACA JUGA:
Danjen Kopassus Kenang Didikan Prabowo, Prajurit Harus Bermental Baja






Mantan Komandan Grup (Dangrup) 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Surakarta itu ditawari untuk terjun free fall bersama perwira tinggi GIGN. Tanpa menunggu waktu, Rafael langsung mengiyakan ajakan tersebut.

&quot;Dia nawarin terjun dengan ketinggian 12.000 feet. Langsung saya iya kan,&quot; ujar Arbituren Akademi Militer 1993.




BACA JUGA:
Ketika Prajurit Kopassus Eksekusi Dukun Sakti PKI, Ditembak Tidak Mati





Rafael mengakui saat itu tidak memperhitungkan jika kondisi saat musim dingin. Padahal, terjun dengan ketinggian 12.000 feet pada musim dingin bisa bersuhu -2 sampai -9 derajat celcius.

&quot;Terjun dengan suhu serendah itu sangat membahayakan. Mampu membekukan darah sehingga membahayakan penerjun. Saya tidak memperhitungkan sampai sejauh itu saat itu, saat itu bondo nekad saja,&quot; katanya.


Namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Saat terjun di ketinggian itu, baru terasa efek ketika keluar dari pesawat terbang. Tubuh terasa kaku dan pernafasan juga sesak.











Karena sudah sering berlatih di ketinggian yang lebih tinggi dari itu Rafael berhasil mengatasi masalah tersebut.



&quot;Makanya, tentara luar negeri itu sangat menghargai tentara Indonesia. Ya, antara ketidaktahuan, nekat dan nasib baik. Kalau disuruh jujur ya takut juga,&amp;rdquo;ujarnya.





&amp;ldquo;Tapi, saya pernah berlatih di kawasan salju Gunung Jaya Wijaya, Papua. Padahal juga belum pernah terjun payung di sana,&quot; tuturnya.





</description><content:encoded>

JAKARTA &amp;ndash; Salah satu kemampuan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah terjun free fall dan melakukan infiltrasi ke jantung musuh secara senyap untuk sabotase.



Mayjen TNI Rafael Granada Baay  membagikan kisahnya nyaris tewas saat terjun free fall di Prancis.

Rafael menceritakan kisahnya itu saat masih berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Korem (Danrem) 074 /Warastratama.


Saat itu, Jenderal Kopassus ini masih berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas di Detasemen Intelijen (Denintel) Komando Pasukan Khusus (Kopassus ).

&quot;Ada satu pengalaman yang membuat nyawa saya di ujung tanduk. Bukan di medan perang, melainkan saat terjun bebas atau free fall,&quot; ujar Rafael.

Dikatakan Rafael, Satuan Kopassus mendatangi undangan dari negara Prancis. Dia diundang oleh pasukan khusus Perancis yang disebut GIGN (Groupe d&amp;rsquo;Intervention de la Gendarmerie Nationale).





BACA JUGA:
Danjen Kopassus Kenang Didikan Prabowo, Prajurit Harus Bermental Baja






Mantan Komandan Grup (Dangrup) 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Surakarta itu ditawari untuk terjun free fall bersama perwira tinggi GIGN. Tanpa menunggu waktu, Rafael langsung mengiyakan ajakan tersebut.

&quot;Dia nawarin terjun dengan ketinggian 12.000 feet. Langsung saya iya kan,&quot; ujar Arbituren Akademi Militer 1993.




BACA JUGA:
Ketika Prajurit Kopassus Eksekusi Dukun Sakti PKI, Ditembak Tidak Mati





Rafael mengakui saat itu tidak memperhitungkan jika kondisi saat musim dingin. Padahal, terjun dengan ketinggian 12.000 feet pada musim dingin bisa bersuhu -2 sampai -9 derajat celcius.

&quot;Terjun dengan suhu serendah itu sangat membahayakan. Mampu membekukan darah sehingga membahayakan penerjun. Saya tidak memperhitungkan sampai sejauh itu saat itu, saat itu bondo nekad saja,&quot; katanya.


Namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Saat terjun di ketinggian itu, baru terasa efek ketika keluar dari pesawat terbang. Tubuh terasa kaku dan pernafasan juga sesak.











Karena sudah sering berlatih di ketinggian yang lebih tinggi dari itu Rafael berhasil mengatasi masalah tersebut.



&quot;Makanya, tentara luar negeri itu sangat menghargai tentara Indonesia. Ya, antara ketidaktahuan, nekat dan nasib baik. Kalau disuruh jujur ya takut juga,&amp;rdquo;ujarnya.





&amp;ldquo;Tapi, saya pernah berlatih di kawasan salju Gunung Jaya Wijaya, Papua. Padahal juga belum pernah terjun payung di sana,&quot; tuturnya.





</content:encoded></item></channel></rss>
