<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pohon Sukun Bercabang Lima Inspirasi Bung Karno Lahirkan Pancasila   </title><description>Di sekitar lokasi pengasingannya, terdapat sebuah taman, tempat Bung Karno banyak merenung.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/01/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/01/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila"/><item><title>Kisah Pohon Sukun Bercabang Lima Inspirasi Bung Karno Lahirkan Pancasila   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/01/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/01/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila</guid><pubDate>Kamis 01 Juni 2023 06:04 WIB</pubDate><dc:creator>Donatus Nador</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/31/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila-FG7UA1G3Pj.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Soekarno. (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/31/337/2823432/kisah-pohon-sukun-bercabang-lima-inspirasi-bung-karno-lahirkan-pancasila-FG7UA1G3Pj.jpeg</image><title>Soekarno. (Foto: Wikipedia)</title></images><description>KISAH tentang Soekarno yang dibuang ke Flores, tepatnya di Ende yang sekarang menjadi salah satu kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu dikaitkan dengan pohon sukun.

Sejarah mencatat, pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, Soekarno kerap kali keluar masuk penjara. Setelah dipenjara di tempat tahanan Sukamiskin pada 1934-1939, Bung Karno masih dianggap sebagai figur berbahaya bagi kepentingan kolonial Belanda.

Ketakutan itulah yang mendorong penjajah untuk membuang Soekarno ke Flores, tepatnya Ende, sebuah tempat yang jauh dan terpencil di Indonesia bagian timur.

BACA JUGA:
Soekarno : Saya Bukanlah Pencipta Pancasila

Bung Karno menjalani masa tahanan di Ende dalam waktu yang relatif lama, yakni selama empat tahun, dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Saking jauhnya dari Jawa menuju Flores, waktu yang ditempuh Bung Karno mencapai 8 hari perjalanan dengan menggunakan kapal laut.

Soekarno didampingi istri tercinta Inggit Garnasih, anak angkat Ratna Djuami, serta Ibu Amsi mertuanya. Mereka menempati rumah sederhana milik Abdullah Ambuwawu di kawasan Ambugaga, kampung kecil yang terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang. Di sinilah Soekarno dan keluarga menjalani kehidupan bersahaja.

BACA JUGA:
Momen Bersejarah Presiden Soekarno dan Toko Buku Gunung Agung&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sebagaimana lumrah, tokoh yang dibuang ke tempat terpencil, akses untuk berkoresponden menjadi fakta tak bisa dipungkiri. Namun, di sinilah ketokohan itu menguat. Ia ditempa menjadi tokoh yang makin tegar di alam yang serba sulit. Soekarno jadi memiliki banyak waktu untuk membaca dan lebih banyak berpikir daripada sebelumnya.

Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar pluralisme dengan bergaul bersama pastor di Ende. Ia mengalami keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat. Selain itu, Soekarno juga mulai melukis dan menulis naskah pementasan drama.

Tak hanya itu, Bung Karno juga berkebun. Di sekitar lokasi pengasingannya, terdapat sebuah taman, tempat Bung Karno banyak merenung. Di taman tersebut, terdapat pohon sukun yang rindang bercabang lima. Dari sinilah Soekarno merancang lima bulir yang menjadi dasar Pancasila.Melalui perenungan yang mendalam di taman ini dan di bawah rindang pohon sukun, Bung Karno mendapat ilham bahwa negara ini harus memiliki ideologi yang merangkum berbagai aspek kebangsaan.


Pada tahun 1954, Bung Karno meresmikan &quot;Rumah Museum&quot; di taman tempat ia merenung. Di atas prasasti tertulis, &quot;Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila&quot;.

Saat ini, kawasan taman Soekarno merenung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya serta diskusi. Selain menjadi lokasi lahirnya Pancasila, taman juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang tidak boleh dilewatkan.



Taman itu tampak indah dan dipercantik dengan patung Sukarno yang tengah duduk sambil menghadap laut. Patung karya perupa Hanafi ini diresmikan Wapres Boediono tahun 2013. Lokasi patung adalah tempat Soekarno merenungkan Pancasila dulu.



Hanya, pohon sukun yang asli telah lama tumbang, tepatnya tahun 1960. Sedangkan pohon sukun baru sebagai penggantinya adalah pohon sukun yang ditanam oleh Megawati Sukarnoputri, saat menjadi presiden.

</description><content:encoded>KISAH tentang Soekarno yang dibuang ke Flores, tepatnya di Ende yang sekarang menjadi salah satu kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu dikaitkan dengan pohon sukun.

Sejarah mencatat, pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, Soekarno kerap kali keluar masuk penjara. Setelah dipenjara di tempat tahanan Sukamiskin pada 1934-1939, Bung Karno masih dianggap sebagai figur berbahaya bagi kepentingan kolonial Belanda.

Ketakutan itulah yang mendorong penjajah untuk membuang Soekarno ke Flores, tepatnya Ende, sebuah tempat yang jauh dan terpencil di Indonesia bagian timur.

BACA JUGA:
Soekarno : Saya Bukanlah Pencipta Pancasila

Bung Karno menjalani masa tahanan di Ende dalam waktu yang relatif lama, yakni selama empat tahun, dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Saking jauhnya dari Jawa menuju Flores, waktu yang ditempuh Bung Karno mencapai 8 hari perjalanan dengan menggunakan kapal laut.

Soekarno didampingi istri tercinta Inggit Garnasih, anak angkat Ratna Djuami, serta Ibu Amsi mertuanya. Mereka menempati rumah sederhana milik Abdullah Ambuwawu di kawasan Ambugaga, kampung kecil yang terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang. Di sinilah Soekarno dan keluarga menjalani kehidupan bersahaja.

BACA JUGA:
Momen Bersejarah Presiden Soekarno dan Toko Buku Gunung Agung&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sebagaimana lumrah, tokoh yang dibuang ke tempat terpencil, akses untuk berkoresponden menjadi fakta tak bisa dipungkiri. Namun, di sinilah ketokohan itu menguat. Ia ditempa menjadi tokoh yang makin tegar di alam yang serba sulit. Soekarno jadi memiliki banyak waktu untuk membaca dan lebih banyak berpikir daripada sebelumnya.

Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar pluralisme dengan bergaul bersama pastor di Ende. Ia mengalami keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat. Selain itu, Soekarno juga mulai melukis dan menulis naskah pementasan drama.

Tak hanya itu, Bung Karno juga berkebun. Di sekitar lokasi pengasingannya, terdapat sebuah taman, tempat Bung Karno banyak merenung. Di taman tersebut, terdapat pohon sukun yang rindang bercabang lima. Dari sinilah Soekarno merancang lima bulir yang menjadi dasar Pancasila.Melalui perenungan yang mendalam di taman ini dan di bawah rindang pohon sukun, Bung Karno mendapat ilham bahwa negara ini harus memiliki ideologi yang merangkum berbagai aspek kebangsaan.


Pada tahun 1954, Bung Karno meresmikan &quot;Rumah Museum&quot; di taman tempat ia merenung. Di atas prasasti tertulis, &quot;Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila&quot;.

Saat ini, kawasan taman Soekarno merenung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya serta diskusi. Selain menjadi lokasi lahirnya Pancasila, taman juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang tidak boleh dilewatkan.



Taman itu tampak indah dan dipercantik dengan patung Sukarno yang tengah duduk sambil menghadap laut. Patung karya perupa Hanafi ini diresmikan Wapres Boediono tahun 2013. Lokasi patung adalah tempat Soekarno merenungkan Pancasila dulu.



Hanya, pohon sukun yang asli telah lama tumbang, tepatnya tahun 1960. Sedangkan pohon sukun baru sebagai penggantinya adalah pohon sukun yang ditanam oleh Megawati Sukarnoputri, saat menjadi presiden.

</content:encoded></item></channel></rss>
