<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Idul Adha Potensi Berbeda, Menko PMK: Sudah Biasa, Berbeda Itu Indah</title><description>Adapun Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri, Idul Adha jatuh pada 29 Juni 2023.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah"/><item><title>Idul Adha Potensi Berbeda, Menko PMK: Sudah Biasa, Berbeda Itu Indah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah</guid><pubDate>Jum'at 09 Juni 2023 05:34 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah-8LBqP81cCE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko PMK, Muhadjir Effendy (Foto: Binti M)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/09/337/2827701/idul-adha-potensi-berbeda-menko-pmk-sudah-biasa-berbeda-itu-indah-8LBqP81cCE.jpg</image><title>Menko PMK, Muhadjir Effendy (Foto: Binti M)</title></images><description>JAKARTA - Idul Adha 1444 H berpotensi berbeda antara pemerintah dengan Muhammadiyah. Di mana, Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada 28 Juni 2023.&amp;nbsp;
Adapun Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri, Idul Adha jatuh pada 29 Juni 2023. Namun, untuk penetapannya menunggu hasil sidang isbat yang dilaksanakan Kementerian Agama (Kemenag).
&quot;Idul Adha memang berpotensi jatuh di hari yang berbeda. Hal itu sudah diketahui oleh masyarakat luas. Dan itu sudah biasa. Terjadi karena perbedaan metode dalam penetapan  tanggal 10 Dzulhijjah,&quot; ujar Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Kamis (9/6/2023).

BACA JUGA:
Tanggal Idul Adha Berpotensi Beda, Kemenag: Sikapi dengan Bijak dan Saling Menghargai

Menurut Muhadjir, yang satu menggunakan metode Hisab  yang lain menggunakan metode Ru&amp;rsquo;yah. Masing-masing sama-sama punya argumen ilmiah maupun  syari&amp;rsquo;ah.

&quot;Perbedaan semacam itu memang dimungkinkan di dalam Islam. Karena itu hanya persoalan  Furu&amp;rsquo; *(cabang) bukan persoalan *Ushul (Pokok),&quot; katanya.

BACA JUGA:
Pemprov DKI Larang Limbah Kurban Idul Adha Dibuang ke Saluran Air


Kalau pemerintah menetapkan salah satu  darinya, itu soal pilihan kebijakan saja. Yang terpenting, kesediaan untuk saling menghormati dan menghargai.

&quot;Bersama-sama menciptakan suasana aman dan rasa  nyaman dalam perbedaan. Semua berpikir positif,  bahwa di balik perbedaan itu pasti ada hikmah. Dan berbeda  itu indah,&quot;  pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Idul Adha 1444 H berpotensi berbeda antara pemerintah dengan Muhammadiyah. Di mana, Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada 28 Juni 2023.&amp;nbsp;
Adapun Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri, Idul Adha jatuh pada 29 Juni 2023. Namun, untuk penetapannya menunggu hasil sidang isbat yang dilaksanakan Kementerian Agama (Kemenag).
&quot;Idul Adha memang berpotensi jatuh di hari yang berbeda. Hal itu sudah diketahui oleh masyarakat luas. Dan itu sudah biasa. Terjadi karena perbedaan metode dalam penetapan  tanggal 10 Dzulhijjah,&quot; ujar Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Kamis (9/6/2023).

BACA JUGA:
Tanggal Idul Adha Berpotensi Beda, Kemenag: Sikapi dengan Bijak dan Saling Menghargai

Menurut Muhadjir, yang satu menggunakan metode Hisab  yang lain menggunakan metode Ru&amp;rsquo;yah. Masing-masing sama-sama punya argumen ilmiah maupun  syari&amp;rsquo;ah.

&quot;Perbedaan semacam itu memang dimungkinkan di dalam Islam. Karena itu hanya persoalan  Furu&amp;rsquo; *(cabang) bukan persoalan *Ushul (Pokok),&quot; katanya.

BACA JUGA:
Pemprov DKI Larang Limbah Kurban Idul Adha Dibuang ke Saluran Air


Kalau pemerintah menetapkan salah satu  darinya, itu soal pilihan kebijakan saja. Yang terpenting, kesediaan untuk saling menghormati dan menghargai.

&quot;Bersama-sama menciptakan suasana aman dan rasa  nyaman dalam perbedaan. Semua berpikir positif,  bahwa di balik perbedaan itu pasti ada hikmah. Dan berbeda  itu indah,&quot;  pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
