<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertanda Tragedi, Laut Berubah Merah Iringi Perjalanan Pasukan Kerajaan Sunda ke Majapahit</title><description>Perang Bubat berakhir dengan pembantaian pasukan Kerajaan Sunda oleh Majapahit.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/19/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/19/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit"/><item><title>Pertanda Tragedi, Laut Berubah Merah Iringi Perjalanan Pasukan Kerajaan Sunda ke Majapahit</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/19/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/19/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit</guid><pubDate>Senin 19 Juni 2023 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/18/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit-NatCimMyK6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gajah Mada. (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/18/337/2832950/pertanda-tragedi-laut-berubah-merah-iringi-perjalanan-pasukan-kerajaan-sunda-ke-majapahit-NatCimMyK6.jpg</image><title>Gajah Mada. (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Perang Bubat yang merusak hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda adalah sebuah peristiwa yang diyakini tak lepas dari kebimbangan Raja Hayam Wuruk, yang selalu dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada sebagai tokoh sentral di Kerajaan.
Dikisahkan bahwa sebelum pecahnya perang, telah ada tanda-tanda yang tidak dihiraukan oleh Raja Sunda dan rombongannya sebelum berangkat ke Majapahit.

BACA JUGA:
Kala Hang Tuah Kalahkan Pendekar Majapahit, Dihadiahi Keris Taming Sari&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dikisahkan bahwa setelah menerima pinangan Hayam Wuruk, Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, permaisuri, dan beberapa pejabat istana berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi untuk melangsungkan pernikahan di Trowulan, ibukota Majapahit. Namun, konon sebelum rombongan berangkat, telah ada tanda-tanda buruk  yang tidak dihiraukan oleh Raja Sunda dan rombongannya.
Dikutip dari buku &quot;Perang Bubat 1279 Saka : Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit&quot; tulisan Sri Wintala Achmad, pasukan Sunda berangkat ke Majapahit di hari yang telah ditentukan.
Saat itu Maharaja Linggabuana Wisesa ke Majapahit tidak membawa terlalu banyak pasukan dalam perjalanan ke Trowulan. Ratusan rakyat Galuh mengantarkan sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai.

BACA JUGA:
Kala Raja Sunda Langgar Tabu Nikahi Wanita Majapahit

Sesampainya di pantai, konon ada sebuah kejutan di mana mereka menyaksikan laut berwarna merah darah yang melambangkan bahwa rombongan itu tidak bakal kembali ke negeri kelahirannya.
Namun, tanda itu tak dihiraukan oleh Maharaja Linggabuana Wisesa dan rombongannya. Mereka tetap berangkat menuju Majapahit dengan penuh misteri.Rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan patih Amangkubhumi Gajah Mada yang menyampaikan maksud agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda takluk Sunda ke Majapahit.&amp;nbsp;
Perlakuan Gajah mada ini membuat marah Maharaja Linggabuana Wisesa yang merasa harga dirinya terinjak-injak. Tetapi, sebagai raja yang bijak, Maharaja Linggabuana Wisesa enggan bertindak gegabah, untuk serta merta mengadakan perlawanan di tempat itu.
Hanya saja, kearifan hati Wisesa tak diikuti oleh anak buah dan bangsawan Kerajaan Sunda Galuh.
Mereka mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai pengantin, bukan sebagai tanda takluk Sunda terhadap kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Namun, Hayam Wuruk tampaknya belum berani mengambil keputusan tepat. Faktor usia yang masih muda menjadikannya bimbang, apalagi kedudukan Gajah Mada yang sekelas perdana menteri menjadi tokoh andalan untuk Majapahit dalam mengambil kebijakan.
Di sisi lain, rombongan pengantin Sunda mulai muak dengan perlakuan yang diterimanya dari Gajah Mada. Beberapa pejabat istana Sunda seperti Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gempong, Panji Melong, Rangga Kaweni, Sutrajali, Jagatsaya, Urang Pangulu, Urang Saya, dan Urang Siring, naik pitam.Mereka pun memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada, meski secara jumlah jelas kalah telak. Sebelum raja Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada dan pasukannya sudah melakukan penyerangan ke lapangan Bubat dan mengancam raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, untuk mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Demi mempertahankan kehormatan dan harga diri sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana Wisesa menolak tekanan itu. Satu lesatan anak panah, entah busur dari siapa menerjang utusan Gajah Mada hingga terkapar di tanah.
Suasana pun tidak terkendali, perang pun tidak terelakkan lagi. Rombongan pengantin Sunda yang tidak siap berperang menghunus pedang dan merentangkan gendewa untuk menghadapi pasukan Majapahit yang sudah siaga berperang.
Perang yang tak imbang pun pecah antara pasukan Gajah mada dengan pasukan Balamati para pejabat, dan para menteri dari Kerajaan Sunda di lapangan Bubat.
Pasukan Sunda menyerang ke arah selatan, di sana pasukan Majapahit dibuat kocar-kacir. Namun, serangan dari pasukan Sunda itu dipatahkan oleh pasukan Majapahit di bawah komando Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewis, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Para menteri Araraman dan pasukan berkuda berganti menyerang pasukan Sunda.Serangan itu berhasil meluluhlantahkan pertahanan hingga pasukan Sunda menyingkir ke arah barat daya. Pasukan Sunda dapat dikepung berhadapan dengan pasukan yang dipimpin langsung Gajah Mada.
Setiap prajurit Sunda yang menghadang kereta Gajah Mada berhasil disingkirkan satu persatu sehingga peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, para menteri, dan pejabat Kerajaan Sunda.
Kemenangan yang dibayar mahal setelah itu, karena Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bunuh diri setelah melihat ayahnya dan seluruh rombongan Sunda gugur dalam pertempuran itu.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Perang Bubat yang merusak hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda adalah sebuah peristiwa yang diyakini tak lepas dari kebimbangan Raja Hayam Wuruk, yang selalu dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada sebagai tokoh sentral di Kerajaan.
Dikisahkan bahwa sebelum pecahnya perang, telah ada tanda-tanda yang tidak dihiraukan oleh Raja Sunda dan rombongannya sebelum berangkat ke Majapahit.

BACA JUGA:
Kala Hang Tuah Kalahkan Pendekar Majapahit, Dihadiahi Keris Taming Sari&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dikisahkan bahwa setelah menerima pinangan Hayam Wuruk, Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, permaisuri, dan beberapa pejabat istana berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi untuk melangsungkan pernikahan di Trowulan, ibukota Majapahit. Namun, konon sebelum rombongan berangkat, telah ada tanda-tanda buruk  yang tidak dihiraukan oleh Raja Sunda dan rombongannya.
Dikutip dari buku &quot;Perang Bubat 1279 Saka : Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit&quot; tulisan Sri Wintala Achmad, pasukan Sunda berangkat ke Majapahit di hari yang telah ditentukan.
Saat itu Maharaja Linggabuana Wisesa ke Majapahit tidak membawa terlalu banyak pasukan dalam perjalanan ke Trowulan. Ratusan rakyat Galuh mengantarkan sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai.

BACA JUGA:
Kala Raja Sunda Langgar Tabu Nikahi Wanita Majapahit

Sesampainya di pantai, konon ada sebuah kejutan di mana mereka menyaksikan laut berwarna merah darah yang melambangkan bahwa rombongan itu tidak bakal kembali ke negeri kelahirannya.
Namun, tanda itu tak dihiraukan oleh Maharaja Linggabuana Wisesa dan rombongannya. Mereka tetap berangkat menuju Majapahit dengan penuh misteri.Rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan patih Amangkubhumi Gajah Mada yang menyampaikan maksud agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda takluk Sunda ke Majapahit.&amp;nbsp;
Perlakuan Gajah mada ini membuat marah Maharaja Linggabuana Wisesa yang merasa harga dirinya terinjak-injak. Tetapi, sebagai raja yang bijak, Maharaja Linggabuana Wisesa enggan bertindak gegabah, untuk serta merta mengadakan perlawanan di tempat itu.
Hanya saja, kearifan hati Wisesa tak diikuti oleh anak buah dan bangsawan Kerajaan Sunda Galuh.
Mereka mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai pengantin, bukan sebagai tanda takluk Sunda terhadap kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Namun, Hayam Wuruk tampaknya belum berani mengambil keputusan tepat. Faktor usia yang masih muda menjadikannya bimbang, apalagi kedudukan Gajah Mada yang sekelas perdana menteri menjadi tokoh andalan untuk Majapahit dalam mengambil kebijakan.
Di sisi lain, rombongan pengantin Sunda mulai muak dengan perlakuan yang diterimanya dari Gajah Mada. Beberapa pejabat istana Sunda seperti Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gempong, Panji Melong, Rangga Kaweni, Sutrajali, Jagatsaya, Urang Pangulu, Urang Saya, dan Urang Siring, naik pitam.Mereka pun memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada, meski secara jumlah jelas kalah telak. Sebelum raja Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada dan pasukannya sudah melakukan penyerangan ke lapangan Bubat dan mengancam raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, untuk mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Demi mempertahankan kehormatan dan harga diri sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana Wisesa menolak tekanan itu. Satu lesatan anak panah, entah busur dari siapa menerjang utusan Gajah Mada hingga terkapar di tanah.
Suasana pun tidak terkendali, perang pun tidak terelakkan lagi. Rombongan pengantin Sunda yang tidak siap berperang menghunus pedang dan merentangkan gendewa untuk menghadapi pasukan Majapahit yang sudah siaga berperang.
Perang yang tak imbang pun pecah antara pasukan Gajah mada dengan pasukan Balamati para pejabat, dan para menteri dari Kerajaan Sunda di lapangan Bubat.
Pasukan Sunda menyerang ke arah selatan, di sana pasukan Majapahit dibuat kocar-kacir. Namun, serangan dari pasukan Sunda itu dipatahkan oleh pasukan Majapahit di bawah komando Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewis, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Para menteri Araraman dan pasukan berkuda berganti menyerang pasukan Sunda.Serangan itu berhasil meluluhlantahkan pertahanan hingga pasukan Sunda menyingkir ke arah barat daya. Pasukan Sunda dapat dikepung berhadapan dengan pasukan yang dipimpin langsung Gajah Mada.
Setiap prajurit Sunda yang menghadang kereta Gajah Mada berhasil disingkirkan satu persatu sehingga peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, para menteri, dan pejabat Kerajaan Sunda.
Kemenangan yang dibayar mahal setelah itu, karena Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bunuh diri setelah melihat ayahnya dan seluruh rombongan Sunda gugur dalam pertempuran itu.</content:encoded></item></channel></rss>
