<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hujan Berpotensi Melanda Wilayah Indonesia Sepekan ke Depan, Begini Penjelasan BMKG</title><description>BMKG mengeluarkan prediksi bahwa hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg"/><item><title>Hujan Berpotensi Melanda Wilayah Indonesia Sepekan ke Depan, Begini Penjelasan BMKG</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg</guid><pubDate>Sabtu 24 Juni 2023 11:23 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg-Kn4wskhrMz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi/ Doc: Antara</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/24/337/2836343/hujan-berpotensi-melanda-wilayah-indonesia-sepekan-ke-depan-begini-penjelasan-bmkg-Kn4wskhrMz.jpg</image><title>Ilustrasi/ Doc: Antara</title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wOC8xLzE2Njk3OC81L3g4bG0yeWY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi bahwa hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Meskipun, saat ini sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.



Sebelumnya, BMKG telah menyampaikan terkait peluang terjadinya El Nino dengan level lemah hingga kuat yang secara umum dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia. Namun, dalam sepekan terakhir curah hujan tinggi yang menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor masih sering terjadi. Lalu, kondisi dinamika atmosfer apa yang mempengaruhi kondisi tersebut?

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Peringatan Bulan Bung Karno, Kader PDIP Merahkan GBK Senayan


Prakirawan Cuaca BMKG, Marlin Denata mengatakan berdasarkan hasil analisis perkembangan musim kemarau per Dasarian I Juni 2023 sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang meliputi wilayah Aceh bagian timur, Sumatera Utara bagian timur dan barat, Riau bagian timur, Bengkulu bagian selatan Lampung bagian selatan.



&amp;ldquo;Kemudian di Banten, DKI Jakarta, sebagian besar Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian besar wilayah Jawa Timur, sebagian besar Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian kepulauan Maluku, sebagian Maluku Utara, dan sebagian Papua bagian selatan,&amp;rdquo; kata Marlin dalam laporan video BMKG, dikutip Sabtu (24/6/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Prabowo Subianto Tiba di Rumah Duka Desmond



Marlin pun mengatakan secara umum puncak musim kemarau 2023 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2023. &amp;ldquo;Meskipun saat ini sebagian besar wilayah Indonesia berada pada musim kemarau, namun dinamika atmosfer harian menunjukkan kondisi yang labil sehingga mengakibatkan potensi pertumbuhan awan hujan menjadi signifikan di beberapa wilayah Indonesia.&amp;rdquo;



Dia mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir antara lain yang pertama yaitu aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation atau MJO di wilayah Indonesia. &amp;ldquo;Aktifnya MJO di wilayah Indonesia berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia,&amp;rdquo; kata Marlin.



Faktor kedua, kata Marlin, yaitu aktifnya gelombang ekuator seperti gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin. &amp;ldquo;Sama halnya seperti MJO, ketika gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin aktif di wilayah Indonesia maka dapat berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.&amp;rdquo;







&amp;ldquo;Fenomena gelombang Rossby Ekuatorial bergerak dari arah Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia dengan melewati wilayah Indonesia. Sebaliknya gelombang Kelvin bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia,&amp;rdquo; jelasnya.







Sementara itu, Marlin mengatakan faktor ketiga yaitu terbentuknya pola-pola pusaran angin daerah belokan maupun daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.







&amp;ldquo;Dengan kompleks dan beragamnya faktor pembentuk cuaca di wilayah Indonesia, perubahan cuaca dapat terjadi begitu cepat. Meskipun sepekan terakhir curah hujan masih cukup tinggi namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan akibat fenomena El Nino yang diikuti oleh fenomena IOD positif pada musim kemarau tahun ini,&amp;rdquo; paparnya.</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8wOC8xLzE2Njk3OC81L3g4bG0yeWY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi bahwa hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Meskipun, saat ini sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.



Sebelumnya, BMKG telah menyampaikan terkait peluang terjadinya El Nino dengan level lemah hingga kuat yang secara umum dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia. Namun, dalam sepekan terakhir curah hujan tinggi yang menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor masih sering terjadi. Lalu, kondisi dinamika atmosfer apa yang mempengaruhi kondisi tersebut?

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Peringatan Bulan Bung Karno, Kader PDIP Merahkan GBK Senayan


Prakirawan Cuaca BMKG, Marlin Denata mengatakan berdasarkan hasil analisis perkembangan musim kemarau per Dasarian I Juni 2023 sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang meliputi wilayah Aceh bagian timur, Sumatera Utara bagian timur dan barat, Riau bagian timur, Bengkulu bagian selatan Lampung bagian selatan.



&amp;ldquo;Kemudian di Banten, DKI Jakarta, sebagian besar Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian besar wilayah Jawa Timur, sebagian besar Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian kepulauan Maluku, sebagian Maluku Utara, dan sebagian Papua bagian selatan,&amp;rdquo; kata Marlin dalam laporan video BMKG, dikutip Sabtu (24/6/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Prabowo Subianto Tiba di Rumah Duka Desmond



Marlin pun mengatakan secara umum puncak musim kemarau 2023 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2023. &amp;ldquo;Meskipun saat ini sebagian besar wilayah Indonesia berada pada musim kemarau, namun dinamika atmosfer harian menunjukkan kondisi yang labil sehingga mengakibatkan potensi pertumbuhan awan hujan menjadi signifikan di beberapa wilayah Indonesia.&amp;rdquo;



Dia mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir antara lain yang pertama yaitu aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation atau MJO di wilayah Indonesia. &amp;ldquo;Aktifnya MJO di wilayah Indonesia berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia,&amp;rdquo; kata Marlin.



Faktor kedua, kata Marlin, yaitu aktifnya gelombang ekuator seperti gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin. &amp;ldquo;Sama halnya seperti MJO, ketika gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin aktif di wilayah Indonesia maka dapat berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.&amp;rdquo;







&amp;ldquo;Fenomena gelombang Rossby Ekuatorial bergerak dari arah Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia dengan melewati wilayah Indonesia. Sebaliknya gelombang Kelvin bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia,&amp;rdquo; jelasnya.







Sementara itu, Marlin mengatakan faktor ketiga yaitu terbentuknya pola-pola pusaran angin daerah belokan maupun daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.







&amp;ldquo;Dengan kompleks dan beragamnya faktor pembentuk cuaca di wilayah Indonesia, perubahan cuaca dapat terjadi begitu cepat. Meskipun sepekan terakhir curah hujan masih cukup tinggi namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan akibat fenomena El Nino yang diikuti oleh fenomena IOD positif pada musim kemarau tahun ini,&amp;rdquo; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
