<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akademisi Minta Regulasi Bahaya Kemasan Secara Transparan</title><description>Begitu juga dengan etilen glikol yang ada pada sirup obat batuk dan galon sekali pakai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan"/><item><title>Akademisi Minta Regulasi Bahaya Kemasan Secara Transparan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan</guid><pubDate>Sabtu 24 Juni 2023 00:50 WIB</pubDate><dc:creator>Faisal Haris</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan-1AVQuvavNB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/24/338/2836237/akademisi-minta-regulasi-bahaya-kemasan-secara-transparan-1AVQuvavNB.jpg</image><title>Illustrasi shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Sebanyak puluhan jenis kemasan diizinkan dan digunakan sebagai pembungkus makanan minuman, termasuk aneka jenis kemasan plastik. Semuanya itu memiliki risiko karena terbuat dari zat kimia.
Kepala Center For Entrepreneurship, Tourism, Information and Strategy Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto meminta regulator untuk tidak boleh bersikap diskriminatif dengan hanya menyorot potensi bahaya satu jenis kemasan satu jenis kemasan saja.

BACA JUGA:
Risiko Jangka Panjang BPA, Bisa Sebabkan Kanker?

Seperti Polikarbonat (PC), tanpa melakukan transparansi bahaya untuk jenis kemasan lain seperti kemasan plastik PET yang digunakan untuk galon sekali pakai.
&amp;ldquo;Tapi, pada tahu nggak kalau bahan pembuatan galon sekali pakai atau yang PET itu juga mengandung etilen glikol yang kemarin lagi ramai mencemari obat batuk,&amp;rdquo; ujarnya, Jumat (23/6/2023).
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi  Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta  ini memberikan beberapa contoh seperti pada kasus sirup obat batuk dan isu BPA berbahaya galon guna ulang. Dia juga melihat perlakukan serupa di mana tidak ada transparansi terkait masalah ini.

BACA JUGA:
Hampir 80 Siswi Sekolah Afghanistan Diracun, Dirawat di Rumah Sakit&amp;nbsp;

Secara aspek kimia, dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai zat-zat kimia dalam kemasan pangan ini. Namun, dari ilmu komunikasi, dia mengatakan bahwa ada ketidaktransparanan regulator dalam mempublikasikan hasil risetnya terhadap zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasan pangan seperti kasus etilen glikol yang terjadi baru-baru ini.&amp;ldquo;Bukan ranah saya mengomentari aspek kimia dari etilen glikol dan BPA yang ada dalam kemasan pangan. Tapi, saya bisa menganalisanya dari sudut komunikasinya,&amp;rdquo; ujarnya.

Dia mencontohkan soal BPA yang cuma menyampaikan berdasarkan apa yang dibacanya dari kasus-kasus yang terjadi di Eropa dan Amerika. Begitu juga dengan perkembangan isu ini di Indonesia.
Begitu juga dengan etilen glikol yang ada pada sirup obat batuk dan galon sekali pakai, dia hanya mengetahui secara teori saja bahwa zat-zat kimia dalam kemasan-kemasan itu bisa membahayakan kesehatan.

&amp;ldquo;Tapi bagaimana zat-zat tersebut bisa membahayakan, itu kan ranahnya para ahli-ahli kimia yang tahu. Saya sama sekali tidak paham hal itu,&amp;rdquo; tutupnya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Sebanyak puluhan jenis kemasan diizinkan dan digunakan sebagai pembungkus makanan minuman, termasuk aneka jenis kemasan plastik. Semuanya itu memiliki risiko karena terbuat dari zat kimia.
Kepala Center For Entrepreneurship, Tourism, Information and Strategy Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto meminta regulator untuk tidak boleh bersikap diskriminatif dengan hanya menyorot potensi bahaya satu jenis kemasan satu jenis kemasan saja.

BACA JUGA:
Risiko Jangka Panjang BPA, Bisa Sebabkan Kanker?

Seperti Polikarbonat (PC), tanpa melakukan transparansi bahaya untuk jenis kemasan lain seperti kemasan plastik PET yang digunakan untuk galon sekali pakai.
&amp;ldquo;Tapi, pada tahu nggak kalau bahan pembuatan galon sekali pakai atau yang PET itu juga mengandung etilen glikol yang kemarin lagi ramai mencemari obat batuk,&amp;rdquo; ujarnya, Jumat (23/6/2023).
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi  Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta  ini memberikan beberapa contoh seperti pada kasus sirup obat batuk dan isu BPA berbahaya galon guna ulang. Dia juga melihat perlakukan serupa di mana tidak ada transparansi terkait masalah ini.

BACA JUGA:
Hampir 80 Siswi Sekolah Afghanistan Diracun, Dirawat di Rumah Sakit&amp;nbsp;

Secara aspek kimia, dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai zat-zat kimia dalam kemasan pangan ini. Namun, dari ilmu komunikasi, dia mengatakan bahwa ada ketidaktransparanan regulator dalam mempublikasikan hasil risetnya terhadap zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasan pangan seperti kasus etilen glikol yang terjadi baru-baru ini.&amp;ldquo;Bukan ranah saya mengomentari aspek kimia dari etilen glikol dan BPA yang ada dalam kemasan pangan. Tapi, saya bisa menganalisanya dari sudut komunikasinya,&amp;rdquo; ujarnya.

Dia mencontohkan soal BPA yang cuma menyampaikan berdasarkan apa yang dibacanya dari kasus-kasus yang terjadi di Eropa dan Amerika. Begitu juga dengan perkembangan isu ini di Indonesia.
Begitu juga dengan etilen glikol yang ada pada sirup obat batuk dan galon sekali pakai, dia hanya mengetahui secara teori saja bahwa zat-zat kimia dalam kemasan-kemasan itu bisa membahayakan kesehatan.

&amp;ldquo;Tapi bagaimana zat-zat tersebut bisa membahayakan, itu kan ranahnya para ahli-ahli kimia yang tahu. Saya sama sekali tidak paham hal itu,&amp;rdquo; tutupnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
