<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Kala Pasukan Mataram Bantu Belanda Lintasi Sungai yang Penuh Buaya Ganas   </title><description>Mataram konon turut membantu pasukan Belanda menanggulangi upaya - upaya perlawanan dari masyarakat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas"/><item><title> Kala Pasukan Mataram Bantu Belanda Lintasi Sungai yang Penuh Buaya Ganas   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas</guid><pubDate>Minggu 25 Juni 2023 10:11 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas-qHoKHHCO8f.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/25/337/2836686/kala-pasukan-mataram-bantu-belanda-lintasi-sungai-yang-penuh-buaya-ganas-qHoKHHCO8f.jpg</image><title>Illustrasi (foto: dok Okezone)</title></images><description>
KERAJAAN Mataram konon turut membantu pasukan Belanda menanggulangi upaya - upaya perlawanan dari masyarakat. Kala itu sang penguasa jatuh di tangan Sultan Amangkurat II yang baru naik tahta menjadi raja di usia muda.

Pasukan Mataram itu berangkat dan bergabung dengan pasukan Belanda pertama kali bergerak dari Jepara menuju pedalaman Jawa. Saat itu waktu menunjukkan hari Senin 5 September 1678 kala Sultan Amangkurat II baru naik tahta pada 1677.

Sang penguasa Mataram ini turut tersingkir dari keraton lama akibat serangkaian peristiwa. Sang penguasa Mataram ini kemudian membangun keraton baru di Kartasura, menggantikan keratonnya di Plered.

BACA JUGA:
Mengenal Ratu Sanjaya, Raja Pertama Kerajaan Mataram Kuno

Lucien Adam pada &quot;Antara Lawu dan Wilis : Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan&quot;, menyebutkan, sang raja muda bersama prajuritnya bergabung dengan pasukan Hurdt. Pada 28 September 1678, pasukan ini mencapai Kali Sawur yang sekarang menjadi perbatasan antara Surakarta dan Madiun.

Dalam catatan harian Hurdt, nama sungai tersebut memakai nama sebuah desa, Dusun Kiping,&quot; yang sekarang masih ada dan masuk wilayah Surakarta. Pada 1678, desa tersebut masuk wilayah Jogorogo, yang membentang sampai Kali Ketonggo, sebuah anak sungai Kali Madiun.

Pada keesokan harinya, 29 September, pasukan Hurdt kemudian menyeberangi Kali Sawur dan melewati suatu daerah yang dideskripsikan sebagai tanah yang sangat indah pemandangannya, tinggi, tetapi terpencil. Selanjutnya, pasukan menyeberangi dua sungai kecil.

BACA JUGA:
Masa Surut Kerajaan Kalingga Usai Diserang Sanjaya Pendiri Mataram Kuno

Sungai pertama adalah Kali Dadung, yang sampai sekarang dikenal dengan nama yang sama dan merupakan cabang Bengawan Solo. Setengah jam kemudian, pasukan itu tiba di Sungai Brongo, yang kemungkinan besar kini dikenal sebagai Kali Kedungmiri atau Kali Kenteng.

Setelah melewati kedua kali ini, pasukan memasuki sebuah daerah yang digambarkan sebagai lanskap yang sangat menyenangkan, membentang luas, polos, dan tinggi. Sebuah dataran yang penuh dengan rusa dan babi yang berlindung di bawah pohon hijau dan cabang-cabang sungai.



Mereka melanjutkan perjalanan melalui sawah berawa yang berada di barat laut daerah Walikukun dan menyeberangi Sungai Brak yang diduga adalah Kali Bibis. Hurdt kemudian mencatat bahwa pasukan berhenti di Desa Kapo, yang sesungguhnya pasti merupakan Desa Kawuk, sebuah permukiman paling tua di daerah Walikukun. Di tempat ini, pasukan beristirahat hingga 2 Oktober 1678.



Sementara tentara Hurdt menempuh jalur tadi, Kapten Arnout Wesdorp atau sekitar 1640 - 1678, beserta pasukannya sendiri pergi ke Jogorogo karena diperkirakan daerah itu masih menjadi pertahanan kekuatan besar pemberontak.



Namun demikian, perjalanan ini sia-sia karena penginapan (logementen) itu telah sepi dan ditinggalkan musuhnya dan juga oleh penduduknya, yang lari menuju daerah pegunungan. Dengan demikian, pada 30 September, Kapten Wesdorp diperintahkan untuk pergi membawa pasukan garda depan atau bernama avant-garde menuju Desa Gerih, sebuah desa yang masih ada sampai sekarang atau sekarang di Kecamatan Geneng, di dekat Kali Trinil atau Kali Gerih. Desa ini berada di jalan besar Maospati-Ngawi, dekat dengan perbatasan Magetan dan Ngawi.



Pasukan ini lain yang dipimpin oleh Hurdt, termasuk di dalamnya pasukan dari Kerajaan Mataram bergerak melanjutkan perjalanan pada 2 Oktober dari Kapo atau Kawuk ke arah tenggara.



Pasukan ini melewati banyak anak sungai dan Kali Bagaal, atau yang diduga sebagai Kali Begal, yang merupakan daerah tak berpenghuni. Hurdt menyebutkan bahwa daerah ini merupakan dataran luas berupa tanah yang liar dan tidak ditanami, serta tidak dapat ditemukan desa. Rombongan pasukan kemudian sampai di Kali Kacitan, mungkin yang dimaksud adalah Kali Katikan, hingga menyeberangi Kali Ketonggo.



Sungai terakhir yang dilewati pasukan berada tujuh kilometer sebelah barat Kali Katikan, yaitu anak sungai utama Kali Madiun yang di bagian dalamnya banyak buaya dan kaiman atau dapat dikatakan sebagai buaya kecil dengan kepala lebih pendek dan gepeng. Oleh sebab itu, pasukan mencari tempat yang alirannya dangkal untuk melewati sungai ini.</description><content:encoded>
KERAJAAN Mataram konon turut membantu pasukan Belanda menanggulangi upaya - upaya perlawanan dari masyarakat. Kala itu sang penguasa jatuh di tangan Sultan Amangkurat II yang baru naik tahta menjadi raja di usia muda.

Pasukan Mataram itu berangkat dan bergabung dengan pasukan Belanda pertama kali bergerak dari Jepara menuju pedalaman Jawa. Saat itu waktu menunjukkan hari Senin 5 September 1678 kala Sultan Amangkurat II baru naik tahta pada 1677.

Sang penguasa Mataram ini turut tersingkir dari keraton lama akibat serangkaian peristiwa. Sang penguasa Mataram ini kemudian membangun keraton baru di Kartasura, menggantikan keratonnya di Plered.

BACA JUGA:
Mengenal Ratu Sanjaya, Raja Pertama Kerajaan Mataram Kuno

Lucien Adam pada &quot;Antara Lawu dan Wilis : Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan&quot;, menyebutkan, sang raja muda bersama prajuritnya bergabung dengan pasukan Hurdt. Pada 28 September 1678, pasukan ini mencapai Kali Sawur yang sekarang menjadi perbatasan antara Surakarta dan Madiun.

Dalam catatan harian Hurdt, nama sungai tersebut memakai nama sebuah desa, Dusun Kiping,&quot; yang sekarang masih ada dan masuk wilayah Surakarta. Pada 1678, desa tersebut masuk wilayah Jogorogo, yang membentang sampai Kali Ketonggo, sebuah anak sungai Kali Madiun.

Pada keesokan harinya, 29 September, pasukan Hurdt kemudian menyeberangi Kali Sawur dan melewati suatu daerah yang dideskripsikan sebagai tanah yang sangat indah pemandangannya, tinggi, tetapi terpencil. Selanjutnya, pasukan menyeberangi dua sungai kecil.

BACA JUGA:
Masa Surut Kerajaan Kalingga Usai Diserang Sanjaya Pendiri Mataram Kuno

Sungai pertama adalah Kali Dadung, yang sampai sekarang dikenal dengan nama yang sama dan merupakan cabang Bengawan Solo. Setengah jam kemudian, pasukan itu tiba di Sungai Brongo, yang kemungkinan besar kini dikenal sebagai Kali Kedungmiri atau Kali Kenteng.

Setelah melewati kedua kali ini, pasukan memasuki sebuah daerah yang digambarkan sebagai lanskap yang sangat menyenangkan, membentang luas, polos, dan tinggi. Sebuah dataran yang penuh dengan rusa dan babi yang berlindung di bawah pohon hijau dan cabang-cabang sungai.



Mereka melanjutkan perjalanan melalui sawah berawa yang berada di barat laut daerah Walikukun dan menyeberangi Sungai Brak yang diduga adalah Kali Bibis. Hurdt kemudian mencatat bahwa pasukan berhenti di Desa Kapo, yang sesungguhnya pasti merupakan Desa Kawuk, sebuah permukiman paling tua di daerah Walikukun. Di tempat ini, pasukan beristirahat hingga 2 Oktober 1678.



Sementara tentara Hurdt menempuh jalur tadi, Kapten Arnout Wesdorp atau sekitar 1640 - 1678, beserta pasukannya sendiri pergi ke Jogorogo karena diperkirakan daerah itu masih menjadi pertahanan kekuatan besar pemberontak.



Namun demikian, perjalanan ini sia-sia karena penginapan (logementen) itu telah sepi dan ditinggalkan musuhnya dan juga oleh penduduknya, yang lari menuju daerah pegunungan. Dengan demikian, pada 30 September, Kapten Wesdorp diperintahkan untuk pergi membawa pasukan garda depan atau bernama avant-garde menuju Desa Gerih, sebuah desa yang masih ada sampai sekarang atau sekarang di Kecamatan Geneng, di dekat Kali Trinil atau Kali Gerih. Desa ini berada di jalan besar Maospati-Ngawi, dekat dengan perbatasan Magetan dan Ngawi.



Pasukan ini lain yang dipimpin oleh Hurdt, termasuk di dalamnya pasukan dari Kerajaan Mataram bergerak melanjutkan perjalanan pada 2 Oktober dari Kapo atau Kawuk ke arah tenggara.



Pasukan ini melewati banyak anak sungai dan Kali Bagaal, atau yang diduga sebagai Kali Begal, yang merupakan daerah tak berpenghuni. Hurdt menyebutkan bahwa daerah ini merupakan dataran luas berupa tanah yang liar dan tidak ditanami, serta tidak dapat ditemukan desa. Rombongan pasukan kemudian sampai di Kali Kacitan, mungkin yang dimaksud adalah Kali Katikan, hingga menyeberangi Kali Ketonggo.



Sungai terakhir yang dilewati pasukan berada tujuh kilometer sebelah barat Kali Katikan, yaitu anak sungai utama Kali Madiun yang di bagian dalamnya banyak buaya dan kaiman atau dapat dikatakan sebagai buaya kecil dengan kepala lebih pendek dan gepeng. Oleh sebab itu, pasukan mencari tempat yang alirannya dangkal untuk melewati sungai ini.</content:encoded></item></channel></rss>
