<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tokoh Ansor Bersaksi soal Pengganyangan PKI pada 1965</title><description>Tokoh Ansor Bersaksi soal Pengganyangan PKI pada 1965
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965"/><item><title>Tokoh Ansor Bersaksi soal Pengganyangan PKI pada 1965</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965</guid><pubDate>Rabu 28 Juni 2023 08:24 WIB</pubDate><dc:creator>Solichan Arif</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965-DWvFtEx9YH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Chudlori. (Solichan Arif)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/28/337/2838275/tokoh-ansor-bersaksi-soal-pengganyangan-pki-pada-1965-DWvFtEx9YH.jpg</image><title>Chudlori. (Solichan Arif)</title></images><description>




BLITAR - Penyampaian informasi yang tidak secepat masa kini membuat kabar penculikan tujuh Jenderal terkait G30S PKI diterima terlambat di berbagai daerah.

&quot;Kita memang terlambat menerima kabar adanya Gerakan 30 September 1965. Memang saat itu tidak banyak saluran informasi seperti sekarang,&quot; ujar Chudlori Hasyim (83), bekas Pimpinan Ansor Nahdlatul Ulama (NU) Blitar, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, pada 2015 silam.



Saat itu, Chudlori terlihat bugar. Perawakanya jangkung, tinggi, dan besar dibandingkan kebanyakan orang Indonesia. Nada bicaranya juga lantang. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan tekanan. Ia juga masih piawai melontarkan candaan. Guyonan khas warga nahdliyin.

&quot;Ansor Zaman 1965 jelas lebih kuat dan gagah. Tidak seperti Ansor zaman sekarang,&quot; ucapnya.





BACA JUGA:
Kisah Mencekam Gua Grubug Saksi Bisu Eksekusi Simpatisan PKI







Ayah empat anak dan kakek enam cucu itu adalah salah satu penggagas sekaligus pendiri Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU.


Walau secara umum sehat, sebuah tongkat penyangga menopang kaki kirinya. Tongkat alumunium dengan bagian atas sebagai penumpu ketiak itu yang menemani Chudlori kemana pun ia pergi.



Langkahnya tampak tertatih. Begitu juga saat keluar dari kamar menuju ruang tamu. Suatu ruang yang bersih dan tertata.



Baca Selengkapnya : Kesaksian Tokoh Ansor soal Peristiwa Berdarah Pengganyangan PKI Tahun 1965





</description><content:encoded>




BLITAR - Penyampaian informasi yang tidak secepat masa kini membuat kabar penculikan tujuh Jenderal terkait G30S PKI diterima terlambat di berbagai daerah.

&quot;Kita memang terlambat menerima kabar adanya Gerakan 30 September 1965. Memang saat itu tidak banyak saluran informasi seperti sekarang,&quot; ujar Chudlori Hasyim (83), bekas Pimpinan Ansor Nahdlatul Ulama (NU) Blitar, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, pada 2015 silam.



Saat itu, Chudlori terlihat bugar. Perawakanya jangkung, tinggi, dan besar dibandingkan kebanyakan orang Indonesia. Nada bicaranya juga lantang. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan tekanan. Ia juga masih piawai melontarkan candaan. Guyonan khas warga nahdliyin.

&quot;Ansor Zaman 1965 jelas lebih kuat dan gagah. Tidak seperti Ansor zaman sekarang,&quot; ucapnya.





BACA JUGA:
Kisah Mencekam Gua Grubug Saksi Bisu Eksekusi Simpatisan PKI







Ayah empat anak dan kakek enam cucu itu adalah salah satu penggagas sekaligus pendiri Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU.


Walau secara umum sehat, sebuah tongkat penyangga menopang kaki kirinya. Tongkat alumunium dengan bagian atas sebagai penumpu ketiak itu yang menemani Chudlori kemana pun ia pergi.



Langkahnya tampak tertatih. Begitu juga saat keluar dari kamar menuju ruang tamu. Suatu ruang yang bersih dan tertata.



Baca Selengkapnya : Kesaksian Tokoh Ansor soal Peristiwa Berdarah Pengganyangan PKI Tahun 1965





</content:encoded></item></channel></rss>
