<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Gegara Miskin Uang, Empat Wilayah Kekuasaan Mataram Terpaksa Pinjam ke Belanda   </title><description>Alhasil mereka terpaksa meminjam uang kepada pemerintah Kompeni Belanda untuk menutupi pembiayaan wilayahnya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/30/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/06/30/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda"/><item><title> Gegara Miskin Uang, Empat Wilayah Kekuasaan Mataram Terpaksa Pinjam ke Belanda   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/06/30/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/06/30/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda</guid><pubDate>Jum'at 30 Juni 2023 08:30 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/28/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda-S7il0nAx0Z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sultan Amangkurat I (foto: dok wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/28/337/2838248/gegara-miskin-uang-empat-wilayah-kekuasaan-mataram-terpaksa-pinjam-ke-belanda-S7il0nAx0Z.jpg</image><title>Sultan Amangkurat I (foto: dok wikipedia)</title></images><description>
SEJUMLAH wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di pesisir, konon mulai dirugikan dengan sistem baru yang berujung kekurangan uang. Alhasil mereka terpaksa meminjam uang kepada pemerintah Kompeni Belanda untuk menutupi pembiayaan wilayahnya.

Bahkan empat penguasa pesisir ini ternyata tidak dapat membayar sesuatu pun, atau jika dapat hanya sedikit. Hal ini karena mereka tak punya banyak uang dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Keadaan keuangan terparah dialami adalah Tumenggung Pati dan Ngabei Martanata dari Jepara. Sekitar bulan Puasa atau tepatnya bulan April-Mei tahun 1659. Sultan Amangkurat I pun segera menuntut dari yang tersebut pertama ini semua hasil pendapatan dan uang tol dari Pati.

BACA JUGA:
Momen Sultan Amangkurat I Kehilangan Wilayah Kekuasaan di Pulau Kalimantan

H.J. De Graaf pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot; menyebut Tumenggung Pati minta kepada Kompeni untuk meminjaminya uang 20.000 rial. yang akan digunakan untuk menyelamatkan dirinya sebagaimana ia tuliskan surat itu ke kompeni. Apabila ia tidak diberi uang itu, maka ada kemungkinan ia akan diberhentikan dari jabatannya dan seluruh milik serta harta bendanya akan disita.

Karena Sunan menghendaki uang itu amat segera&quot;. Sekalipun permintaannya itu disampaikan oleh kakaknya, Wirawangsa, Kompeni menolaknya dengan sangat hormat, karena berlawanan dengan instruksi-instruksi ada.

Dipertimbangkan bahwa menolak permintaan itu memang berat, tetapi kalau dipenuhi, penagihan kembalinya akan lebih berat. Selain itu, masih ada penguasa pesisir lainnya yang miskin juga dan butuh uang. Tetapi Kompeni bersedia memberikan uang muka kalau ada penyerahan beras, gula, lada, kayu, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:
Kisah Belanda Beri Sultan Amangkurat I Barang Mewah dan Langka Usai Berdamai

Tidak berkecil hati setelah pengalamannya yang pertama itu, Tumenggung Pati sekali lagi menyuruh anaknya yang laki- laki, Wirasuta, dan seorang kakaknya yang lain meminjam uang dari residen, karena ia benar-benar membutuhkannya. Ia berjanji akan menyerahkan sebagai penggantinya 200 balok besar seharga 1 sampai 2 ribu rial.

Utusan tumenggung itu bahkan dilarang meninggalkan loji, sebelum diperolehnya 1 sampai 2 ribu gulden. Mereka tinggal di loji selama 1-2 hari, dan setelah itu residen merasa terpaksa menyerahkan kepada mereka senilai 500 ringgit atas penyerahan 300 balok besar, dengan perjanjian bahwa 100 buah sudah tersedia pada saat tibanya kapal yang pertama.



Setengah tahun kemudian, keadaan tidak banyak berubah Tumenggung Pati mengirimkan dengan kapalnya sendiri Lurah Naya ke Batavia, dengan 500 pikul gula putih dan lain-lain bahan makanan. Ia minta supaya barang-barang itu dipasarkan karena ia sangat membutuhkan uang untuk membayar Sultan Amangkurat I, sebab ia tidak bisa meminjam uang di mana pun.



Di Jepara pun keadaaan kritis juga meningkat. Tetapi Kepala Daerah Jepara, yang bukan sahabat Kompeni, merasa ragu meminta tolong kepada Batavia. Sementara itu, ia berusaha mengatasi kekurangannya itu dengan menuntutnya dari warganya.



Warga mengharapkan bahwa pada awal atau akhir bulan Puasa (Agustus 1659) akan terjadi perubahan pemerintahan. Pada hari itu biasanya para pembesar menyampaikan uang yang telah didapat.



Kemudian mereka kumpulkan kepada Istana, dan apabila ada kekurangan, sudah tentu hal itu akan menimbulkan mutasi -, mutasi yang pahit. Setelah penduduk Jepara habis-habisan diperas maka barulah Kompeni didekati. Ngabei Martanata mengirimkan anak laki-lakinya, Bagus Pusparaga, ke Batavia untuk meminjam 3 sampai 4 ribu ringgit, karena Sunan pernah memberi uang kepada saya.



Maka sekarang uang itu harus dikembalikan, sedangkan uang itu masih kurang. Ia berjanji dengan khidmat akan mengembalikan uang yang dipinjamnya itu dengan hasil - hasil kayu, gula putih, dan lain sebagainya. Bahkan ia ingin membangun dan memberikan sebuah kapal.</description><content:encoded>
SEJUMLAH wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di pesisir, konon mulai dirugikan dengan sistem baru yang berujung kekurangan uang. Alhasil mereka terpaksa meminjam uang kepada pemerintah Kompeni Belanda untuk menutupi pembiayaan wilayahnya.

Bahkan empat penguasa pesisir ini ternyata tidak dapat membayar sesuatu pun, atau jika dapat hanya sedikit. Hal ini karena mereka tak punya banyak uang dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Keadaan keuangan terparah dialami adalah Tumenggung Pati dan Ngabei Martanata dari Jepara. Sekitar bulan Puasa atau tepatnya bulan April-Mei tahun 1659. Sultan Amangkurat I pun segera menuntut dari yang tersebut pertama ini semua hasil pendapatan dan uang tol dari Pati.

BACA JUGA:
Momen Sultan Amangkurat I Kehilangan Wilayah Kekuasaan di Pulau Kalimantan

H.J. De Graaf pada &quot;Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I&quot; menyebut Tumenggung Pati minta kepada Kompeni untuk meminjaminya uang 20.000 rial. yang akan digunakan untuk menyelamatkan dirinya sebagaimana ia tuliskan surat itu ke kompeni. Apabila ia tidak diberi uang itu, maka ada kemungkinan ia akan diberhentikan dari jabatannya dan seluruh milik serta harta bendanya akan disita.

Karena Sunan menghendaki uang itu amat segera&quot;. Sekalipun permintaannya itu disampaikan oleh kakaknya, Wirawangsa, Kompeni menolaknya dengan sangat hormat, karena berlawanan dengan instruksi-instruksi ada.

Dipertimbangkan bahwa menolak permintaan itu memang berat, tetapi kalau dipenuhi, penagihan kembalinya akan lebih berat. Selain itu, masih ada penguasa pesisir lainnya yang miskin juga dan butuh uang. Tetapi Kompeni bersedia memberikan uang muka kalau ada penyerahan beras, gula, lada, kayu, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:
Kisah Belanda Beri Sultan Amangkurat I Barang Mewah dan Langka Usai Berdamai

Tidak berkecil hati setelah pengalamannya yang pertama itu, Tumenggung Pati sekali lagi menyuruh anaknya yang laki- laki, Wirasuta, dan seorang kakaknya yang lain meminjam uang dari residen, karena ia benar-benar membutuhkannya. Ia berjanji akan menyerahkan sebagai penggantinya 200 balok besar seharga 1 sampai 2 ribu rial.

Utusan tumenggung itu bahkan dilarang meninggalkan loji, sebelum diperolehnya 1 sampai 2 ribu gulden. Mereka tinggal di loji selama 1-2 hari, dan setelah itu residen merasa terpaksa menyerahkan kepada mereka senilai 500 ringgit atas penyerahan 300 balok besar, dengan perjanjian bahwa 100 buah sudah tersedia pada saat tibanya kapal yang pertama.



Setengah tahun kemudian, keadaan tidak banyak berubah Tumenggung Pati mengirimkan dengan kapalnya sendiri Lurah Naya ke Batavia, dengan 500 pikul gula putih dan lain-lain bahan makanan. Ia minta supaya barang-barang itu dipasarkan karena ia sangat membutuhkan uang untuk membayar Sultan Amangkurat I, sebab ia tidak bisa meminjam uang di mana pun.



Di Jepara pun keadaaan kritis juga meningkat. Tetapi Kepala Daerah Jepara, yang bukan sahabat Kompeni, merasa ragu meminta tolong kepada Batavia. Sementara itu, ia berusaha mengatasi kekurangannya itu dengan menuntutnya dari warganya.



Warga mengharapkan bahwa pada awal atau akhir bulan Puasa (Agustus 1659) akan terjadi perubahan pemerintahan. Pada hari itu biasanya para pembesar menyampaikan uang yang telah didapat.



Kemudian mereka kumpulkan kepada Istana, dan apabila ada kekurangan, sudah tentu hal itu akan menimbulkan mutasi -, mutasi yang pahit. Setelah penduduk Jepara habis-habisan diperas maka barulah Kompeni didekati. Ngabei Martanata mengirimkan anak laki-lakinya, Bagus Pusparaga, ke Batavia untuk meminjam 3 sampai 4 ribu ringgit, karena Sunan pernah memberi uang kepada saya.



Maka sekarang uang itu harus dikembalikan, sedangkan uang itu masih kurang. Ia berjanji dengan khidmat akan mengembalikan uang yang dipinjamnya itu dengan hasil - hasil kayu, gula putih, dan lain sebagainya. Bahkan ia ingin membangun dan memberikan sebuah kapal.</content:encoded></item></channel></rss>
