<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Khawatir Jepang Buang Air Radioaktif Fukushima ke Laut, Warga Korsel Ramai-Ramai Borong Garam</title><description>Ini menyebabkan lonjakan harga garam di Korea Selatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam"/><item><title>Khawatir Jepang Buang Air Radioaktif Fukushima ke Laut, Warga Korsel Ramai-Ramai Borong Garam</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam</guid><pubDate>Jum'at 07 Juli 2023 17:57 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam-uIvMYP2M6l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/07/18/2842960/khawatir-jepang-buang-air-radioaktif-fukushima-ke-laut-warga-korsel-ramai-ramai-borong-garam-uIvMYP2M6l.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxMy8xMC8wNy8xMC80OTMzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
SEOUL &amp;ndash; Niatan Jepang untuk membuang lebih dari 1 metrik ton air limbah radioaktif pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima ke laut membuat penduduk Korea Selatan memborong garam laut dan barang-barang lainnya karena khawatir akan keselamatan mereka.

BACA JUGA:
Dianggap Aman dan Tak Berbahaya, Jepang Akan Buang 1 Juta Ton Air Radioaktif PLTN Fukushima ke Laut pada Tahun Ini

Air limbah tersebut terutama digunakan untuk mendinginkan reaktor yang rusak di pembangkit listrik Fukushima di utara Tokyo, setelah dilanda gempa bumi dan tsunami pada 2011.
Pekan ini, Badan Energi Aton Internasional (IAEA) telah menyetujui proposal Jepang untuk membuat air limbah itu ke Samudera Pasifik. Berdasarkan rencana itu, proses pembuangan tersebut akan memakan waktu 30 hingga 40 tahun, meski saat ini belum ada tanggal yang ditetapkan untuk memulai pembuangan.

BACA JUGA:
Badan PBB Setujui Rencana Jepang Buang Air Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

Jepang berulang kali memberikan jaminan bahwa airnya aman, dengan mengatakan bahwa air tersebut telah disaring untuk menghilangkan sebagian besar isotop meskipun mengandung jejak tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.
Tapi nelayan dan pembeli di Jepang dan di seluruh kawasan Asia Timur khawatir.

Kekhawatiran itu bahkan sudah melanda penduduk Korea Selatan sejak akhir bulan lalu, seperti yang disampaikan Lee Young-min, ibu dua anak berusia 38 tahun, yang tinggal di Seongnam, sebelah selatan Seoul.
&quot;Saya baru saja membeli 5 kilogram garam,&quot; kata Lee, sebagaimana dilansir Reuters.
Dia berkata dia belum pernah membeli begitu banyak garam sebelumnya tetapi merasa dia harus melakukan apa yang dia bisa untuk melindungi keluarganya.
&quot;Sebagai seorang ibu membesarkan dua anak, saya tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Saya ingin memberi mereka makan dengan aman.&quot;
Warga yang berbondong-bondong menimbun, berkontribusi pada kenaikan hampir 27% harga garam di Korea Selatan pada Juni dari dua bulan lalu, meskipun para pejabat mengatakan cuaca dan produksi yang lebih rendah juga menjadi penyebabnya.
Sebagai tanggapan, pemerintah melepaskan sekira 50 metrik ton garam sehari dari stok, dengan diskon 20% dari harga pasar, hingga 11 Juli.
Otoritas perikanan Korea Selatan mengatakan mereka akan terus mengawasi ladang garam untuk setiap peningkatan radioaktivitas. Korea Selatan telah melarang makanan laut dari perairan dekat Fukushima, di pantai timur Jepang.China juga mengkritik rencana Jepang untuk melepaskan air, menuduh Tokyo kurang transparan dan mengatakan hal itu mengancam lingkungan laut dan kesehatan orang-orang di seluruh dunia.
Jepang mengatakan telah memberikan penjelasan rinci dan didukung sains tentang rencananya kepada tetangganya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Hirokazu Matsuno mengatakan pada Juni bahwa epang melihat peningkatan pemahaman tentang masalah ini meskipun tidak begitu terlihat di toko-toko Seoul.
&quot;Saya datang untuk membeli garam tapi tidak ada yang tersisa,&quot; kata Kim Myung-ok, 73 tahun, berdiri di rak supermarket yang kosong. &quot;Terakhir kali aku datang juga tidak ada.&quot;
&quot;Pelepasan air mengkhawatirkan. Kami sudah tua dan sudah cukup hidup tapi saya mengkhawatirkan anak-anak.&quot;</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxMy8xMC8wNy8xMC80OTMzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
SEOUL &amp;ndash; Niatan Jepang untuk membuang lebih dari 1 metrik ton air limbah radioaktif pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima ke laut membuat penduduk Korea Selatan memborong garam laut dan barang-barang lainnya karena khawatir akan keselamatan mereka.

BACA JUGA:
Dianggap Aman dan Tak Berbahaya, Jepang Akan Buang 1 Juta Ton Air Radioaktif PLTN Fukushima ke Laut pada Tahun Ini

Air limbah tersebut terutama digunakan untuk mendinginkan reaktor yang rusak di pembangkit listrik Fukushima di utara Tokyo, setelah dilanda gempa bumi dan tsunami pada 2011.
Pekan ini, Badan Energi Aton Internasional (IAEA) telah menyetujui proposal Jepang untuk membuat air limbah itu ke Samudera Pasifik. Berdasarkan rencana itu, proses pembuangan tersebut akan memakan waktu 30 hingga 40 tahun, meski saat ini belum ada tanggal yang ditetapkan untuk memulai pembuangan.

BACA JUGA:
Badan PBB Setujui Rencana Jepang Buang Air Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

Jepang berulang kali memberikan jaminan bahwa airnya aman, dengan mengatakan bahwa air tersebut telah disaring untuk menghilangkan sebagian besar isotop meskipun mengandung jejak tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.
Tapi nelayan dan pembeli di Jepang dan di seluruh kawasan Asia Timur khawatir.

Kekhawatiran itu bahkan sudah melanda penduduk Korea Selatan sejak akhir bulan lalu, seperti yang disampaikan Lee Young-min, ibu dua anak berusia 38 tahun, yang tinggal di Seongnam, sebelah selatan Seoul.
&quot;Saya baru saja membeli 5 kilogram garam,&quot; kata Lee, sebagaimana dilansir Reuters.
Dia berkata dia belum pernah membeli begitu banyak garam sebelumnya tetapi merasa dia harus melakukan apa yang dia bisa untuk melindungi keluarganya.
&quot;Sebagai seorang ibu membesarkan dua anak, saya tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Saya ingin memberi mereka makan dengan aman.&quot;
Warga yang berbondong-bondong menimbun, berkontribusi pada kenaikan hampir 27% harga garam di Korea Selatan pada Juni dari dua bulan lalu, meskipun para pejabat mengatakan cuaca dan produksi yang lebih rendah juga menjadi penyebabnya.
Sebagai tanggapan, pemerintah melepaskan sekira 50 metrik ton garam sehari dari stok, dengan diskon 20% dari harga pasar, hingga 11 Juli.
Otoritas perikanan Korea Selatan mengatakan mereka akan terus mengawasi ladang garam untuk setiap peningkatan radioaktivitas. Korea Selatan telah melarang makanan laut dari perairan dekat Fukushima, di pantai timur Jepang.China juga mengkritik rencana Jepang untuk melepaskan air, menuduh Tokyo kurang transparan dan mengatakan hal itu mengancam lingkungan laut dan kesehatan orang-orang di seluruh dunia.
Jepang mengatakan telah memberikan penjelasan rinci dan didukung sains tentang rencananya kepada tetangganya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Hirokazu Matsuno mengatakan pada Juni bahwa epang melihat peningkatan pemahaman tentang masalah ini meskipun tidak begitu terlihat di toko-toko Seoul.
&quot;Saya datang untuk membeli garam tapi tidak ada yang tersisa,&quot; kata Kim Myung-ok, 73 tahun, berdiri di rak supermarket yang kosong. &quot;Terakhir kali aku datang juga tidak ada.&quot;
&quot;Pelepasan air mengkhawatirkan. Kami sudah tua dan sudah cukup hidup tapi saya mengkhawatirkan anak-anak.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
