<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Bumi Semakin Panas, Kepala BMKG: Ancaman Krisis Pangan Bukan Isapan Jempol   </title><description>Dwikorita Karnawati menyebut ancaman krisis pangan sebagai dampak dari perubahan iklim bukan sekadar isapan jempol.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol"/><item><title> Bumi Semakin Panas, Kepala BMKG: Ancaman Krisis Pangan Bukan Isapan Jempol   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol</guid><pubDate>Jum'at 07 Juli 2023 14:18 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol-kqTQKQqdeh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi (foto: freepick)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/07/337/2842763/bumi-semakin-panas-kepala-bmkg-ancaman-krisis-pangan-bukan-isapan-jempol-kqTQKQqdeh.jpg</image><title>Illustrasi (foto: freepick)</title></images><description>

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebut ancaman krisis pangan sebagai dampak dari perubahan iklim bukan sekadar isapan jempol. Menurut Dwikorita, kencangnya laju perubahan iklim berdampak pada ketahanan pangan nasional akibat hasil panen menurun hingga gagal tanam.

&amp;ldquo;Suhu atau temperatur bumi secara global saat ini naik 1,2 derajat celsius. Angka tersebut dipandang sebagai angka yang kecil, padahal itu adalah angka yang besar dan mematikan. Banyak fenomena ekstrem, bencana hidrometeorologi yang diakibatkan pemanasan global tadi,&amp;rdquo; ungkap Dwikorita dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/7/2023).

BACA JUGA:
BMKG: 60% Wilayah Zona Musim Indonesia Telah Masuk Musim Kemarau&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dwikorita mengatakan, bencana kelaparan sebagaimana yang diprediksi organisasi pangan dunia FAO akan terjadi di tahun 2050 adalah ancaman nyata. Situasi ini bukan hanya menjadi ancaman bagi Indonesia atau terbatas negara-negara berkembang saja. Melainkan seluruh negara-negara dunia menghadapi ancaman yang sama jika tidak ada langkah kongkrit untuk mengatasi krisis iklim.

&amp;ldquo;Tahun 2050 mendatang jumlah penduduk dunia diperkirakan menembus angka 10 miliar. Jika ketahanan pangan negara-negara di dunia lemah, maka akan terjadi bencana kelaparan akibat jumlah produksi pangan yang terus menurun sebagai dampak dari perubahan iklim,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dwikorita menuturkan, tidak sedikit yang beranggapan bahwa ancaman perubahan iklim dan krisis pangan belum terlalu terlihat di Indonesia, karena ketersediaan sumber daya alam masih cukup melimpah dan kondisi geografis Indonesia yang memungkinkan produksi pertanian tetap berjalan sepanjang tahun.

BACA JUGA:
Presiden Jokowi Minta Para Menteri Waspadai Musim Kemarau Panjang Dampak El Nino

Namun, Dwikorita mengatakan, jika situasi iklim global saat ini tidak direspon secara serius maka Indonesia bisa terlambat untuk mengantisipasi bencana kelaparan pada tahun 2050.

&amp;ldquo;Ketahanan pangan nasional Indonesia dihadapkan pada tantangan besar berupa kenaikan populasi penduduk di tengah produksi pangan yang cenderung stagnan,&amp;rdquo; paparnya.

Oleh karena itu, kata Dwikorita, pihaknya terus melakukan berbagai lompatan sebagai langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Tidak hanya di sisi teknologi, namun juga di sisi sumber daya manusia (SDM) yang terus diupgrade sesuai tuntutan dan kebutuhan yang semakin kompleks.



&amp;ldquo;Data dan informasi yang dikeluarkan BMKG tidak hanya dibutuhkan untuk urusan penanggulangan bencana alam saja, namun juga kesehatan, konstruksi, energi pertambangan, pertanian kehutanan, tata ruang, industri, pariwisata, transportasi, pertahanan keamanan, sumber daya air, hingga kelautan perikanan,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebut ancaman krisis pangan sebagai dampak dari perubahan iklim bukan sekadar isapan jempol. Menurut Dwikorita, kencangnya laju perubahan iklim berdampak pada ketahanan pangan nasional akibat hasil panen menurun hingga gagal tanam.

&amp;ldquo;Suhu atau temperatur bumi secara global saat ini naik 1,2 derajat celsius. Angka tersebut dipandang sebagai angka yang kecil, padahal itu adalah angka yang besar dan mematikan. Banyak fenomena ekstrem, bencana hidrometeorologi yang diakibatkan pemanasan global tadi,&amp;rdquo; ungkap Dwikorita dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/7/2023).

BACA JUGA:
BMKG: 60% Wilayah Zona Musim Indonesia Telah Masuk Musim Kemarau&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dwikorita mengatakan, bencana kelaparan sebagaimana yang diprediksi organisasi pangan dunia FAO akan terjadi di tahun 2050 adalah ancaman nyata. Situasi ini bukan hanya menjadi ancaman bagi Indonesia atau terbatas negara-negara berkembang saja. Melainkan seluruh negara-negara dunia menghadapi ancaman yang sama jika tidak ada langkah kongkrit untuk mengatasi krisis iklim.

&amp;ldquo;Tahun 2050 mendatang jumlah penduduk dunia diperkirakan menembus angka 10 miliar. Jika ketahanan pangan negara-negara di dunia lemah, maka akan terjadi bencana kelaparan akibat jumlah produksi pangan yang terus menurun sebagai dampak dari perubahan iklim,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dwikorita menuturkan, tidak sedikit yang beranggapan bahwa ancaman perubahan iklim dan krisis pangan belum terlalu terlihat di Indonesia, karena ketersediaan sumber daya alam masih cukup melimpah dan kondisi geografis Indonesia yang memungkinkan produksi pertanian tetap berjalan sepanjang tahun.

BACA JUGA:
Presiden Jokowi Minta Para Menteri Waspadai Musim Kemarau Panjang Dampak El Nino

Namun, Dwikorita mengatakan, jika situasi iklim global saat ini tidak direspon secara serius maka Indonesia bisa terlambat untuk mengantisipasi bencana kelaparan pada tahun 2050.

&amp;ldquo;Ketahanan pangan nasional Indonesia dihadapkan pada tantangan besar berupa kenaikan populasi penduduk di tengah produksi pangan yang cenderung stagnan,&amp;rdquo; paparnya.

Oleh karena itu, kata Dwikorita, pihaknya terus melakukan berbagai lompatan sebagai langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Tidak hanya di sisi teknologi, namun juga di sisi sumber daya manusia (SDM) yang terus diupgrade sesuai tuntutan dan kebutuhan yang semakin kompleks.



&amp;ldquo;Data dan informasi yang dikeluarkan BMKG tidak hanya dibutuhkan untuk urusan penanggulangan bencana alam saja, namun juga kesehatan, konstruksi, energi pertambangan, pertanian kehutanan, tata ruang, industri, pariwisata, transportasi, pertahanan keamanan, sumber daya air, hingga kelautan perikanan,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
