<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Adolf Lembong, Kabur dari Kamp Tawanan Jepang hingga Ikut Gerilyawan di Filipina</title><description>Kisah Adolf Lembong, Kabur dari Kamp Tawanan Jepang hingga Ikut Gerilyawan di Filipina
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina"/><item><title>Kisah Adolf Lembong, Kabur dari Kamp Tawanan Jepang hingga Ikut Gerilyawan di Filipina</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina</guid><pubDate>Selasa 11 Juli 2023 06:24 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/10/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina-R41x8pdI1F.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Letkol Adolf Lembong (kanan). (Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/10/337/2844068/kisah-adolf-lembong-kabur-dari-kamp-tawanan-jepang-hingga-ikut-gerilyawan-di-filipina-R41x8pdI1F.jpg</image><title>Letkol Adolf Lembong (kanan). (Wikipedia)</title></images><description>

LETKOL Adolf Lembong merupakan prajurit yang memiliki pengalaman perang gerilya. Prajurit asal Minahasa itu pernah bergerilya pada Perang Dunia II di Pasifik.


Berdasarkan buku &amp;lsquo;Pribumi Jadi Letnan KNIL&amp;rsquo;, Petrik Matanasi mengutip pernyataan Ventje Sumual, salah satu petarung republik asal Minahasa lainnya, tentang koleganya yang pernah diperebutkan antara TNI dan KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger/Pasukan Kerajaan Hindia Belanda).

&amp;ldquo;Lembong ini perwira muda KNIL dulu. Pernah belajar ke Amerika (Serikat). Pangkatnya kapten dalam pasukan sekutu dan berpengalaman sebagai gerilya yang bertempur di Filipina. Ia lari dari KNIL, masuk laskar kita (KRIS/Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi).&amp;rdquo;



Ditawan Jepang hingga Ikut Perang di Filipina

Lembong sarat pengalaman di belantara gerilya. Saat masih jadi opsir muda KNIL yang bertugas sebagai operator radio, perwira kelahiran 19 Oktober 1910 itu sempat ditawan Jepang di masa Perang Pasifik. Ia kemudian dijadikan budak serdadu di Filipina.

Saat berada di Luzon, Filipina, Lembong dan beberapa eks KNIL asal Minahasa lainnya melarikan diri dari kamp. Ia bersama rekannya bergabung dengan para gerilyawan Filipina pribumi maupun asal Amerika.

Ia berperang bersama gerilyawan lainnya, yaitu Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi, dan William Tantang. Saat perang, Lembong beberapa kali melakukan aksi raid alias memukul lawan secara tiba-tiba.

Dalam kerjasamanya bersama gerilyawan Filipina dan seorang tentara Amerika Kapten Robert Lapham, Lembong dipercaya memimpin Squadran 270. Squadran ini terdiri atas para kolega Minahasanya dan beberapa gerilyawan lokal Filipina.

Pada 6 Januari 1945 jelang kejatuhan Jepang, mereka sukses merebut sebuah gudang makanan dan peralatan Jepang. Sehari kemudian, 10 anggotanya menyergap beberapa truk untuk melumpuhkan 27 tentara Jepang tanpa kerugian luka maupun korban tewas di pihak Squadran 270.





BACA JUGA:
10 Juli 1949, Jenderal Sudirman Kembali dari Perang Gerilya Disambut Peluk Soekarno









Selain itu, di Filipina, Lembong bertemu dengan pujaan hatinya. Wanita bernama Asuncion Angel dinikahinya saat masih bergerilya pada 26 Oktober 1944. Bahkan Angel ikut bersama Lembong kembali ke Indonesia usai Perang Pasifik.


Masa Revolusi hingga Tewas di Kudeta APRA



Lembong memilih ikut pergerakan perjuangan pada Juli 1947 bersama KRIS. Setahun kemudian, Lembong yang sudah menjabat Komandan Brigade XVI sempat ditangkap Belanda saat Agresi Militer II 19 Desember 1948.



Usai penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada 27 Desember 1949, Lembong ditugaskan sebagai Kabag Pendidikan Angkatan Darat.





BACA JUGA:
Sambil Menangis, Ajudan Jenderal A Yani Terobos Rumah Sarwo Edhie Meminta Bantuan











Dalam sebuah misi tugas ke Bandung menemui perwira Siliwangi, Lembong justru ikut menjadi korban pembantaian pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Raymond Westerling di Bandung, Jawa Barat, pada 23 Januari 1950.



Nama putra Minahasa itu kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Bandung yang tak jauh dari Museum Mandala Wangsit yang dulunya, jadi Kantor Staf Kwartier Divisi IV Siliwangi yang turut diserang gerombolan APRA.

</description><content:encoded>

LETKOL Adolf Lembong merupakan prajurit yang memiliki pengalaman perang gerilya. Prajurit asal Minahasa itu pernah bergerilya pada Perang Dunia II di Pasifik.


Berdasarkan buku &amp;lsquo;Pribumi Jadi Letnan KNIL&amp;rsquo;, Petrik Matanasi mengutip pernyataan Ventje Sumual, salah satu petarung republik asal Minahasa lainnya, tentang koleganya yang pernah diperebutkan antara TNI dan KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger/Pasukan Kerajaan Hindia Belanda).

&amp;ldquo;Lembong ini perwira muda KNIL dulu. Pernah belajar ke Amerika (Serikat). Pangkatnya kapten dalam pasukan sekutu dan berpengalaman sebagai gerilya yang bertempur di Filipina. Ia lari dari KNIL, masuk laskar kita (KRIS/Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi).&amp;rdquo;



Ditawan Jepang hingga Ikut Perang di Filipina

Lembong sarat pengalaman di belantara gerilya. Saat masih jadi opsir muda KNIL yang bertugas sebagai operator radio, perwira kelahiran 19 Oktober 1910 itu sempat ditawan Jepang di masa Perang Pasifik. Ia kemudian dijadikan budak serdadu di Filipina.

Saat berada di Luzon, Filipina, Lembong dan beberapa eks KNIL asal Minahasa lainnya melarikan diri dari kamp. Ia bersama rekannya bergabung dengan para gerilyawan Filipina pribumi maupun asal Amerika.

Ia berperang bersama gerilyawan lainnya, yaitu Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi, dan William Tantang. Saat perang, Lembong beberapa kali melakukan aksi raid alias memukul lawan secara tiba-tiba.

Dalam kerjasamanya bersama gerilyawan Filipina dan seorang tentara Amerika Kapten Robert Lapham, Lembong dipercaya memimpin Squadran 270. Squadran ini terdiri atas para kolega Minahasanya dan beberapa gerilyawan lokal Filipina.

Pada 6 Januari 1945 jelang kejatuhan Jepang, mereka sukses merebut sebuah gudang makanan dan peralatan Jepang. Sehari kemudian, 10 anggotanya menyergap beberapa truk untuk melumpuhkan 27 tentara Jepang tanpa kerugian luka maupun korban tewas di pihak Squadran 270.





BACA JUGA:
10 Juli 1949, Jenderal Sudirman Kembali dari Perang Gerilya Disambut Peluk Soekarno









Selain itu, di Filipina, Lembong bertemu dengan pujaan hatinya. Wanita bernama Asuncion Angel dinikahinya saat masih bergerilya pada 26 Oktober 1944. Bahkan Angel ikut bersama Lembong kembali ke Indonesia usai Perang Pasifik.


Masa Revolusi hingga Tewas di Kudeta APRA



Lembong memilih ikut pergerakan perjuangan pada Juli 1947 bersama KRIS. Setahun kemudian, Lembong yang sudah menjabat Komandan Brigade XVI sempat ditangkap Belanda saat Agresi Militer II 19 Desember 1948.



Usai penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada 27 Desember 1949, Lembong ditugaskan sebagai Kabag Pendidikan Angkatan Darat.





BACA JUGA:
Sambil Menangis, Ajudan Jenderal A Yani Terobos Rumah Sarwo Edhie Meminta Bantuan











Dalam sebuah misi tugas ke Bandung menemui perwira Siliwangi, Lembong justru ikut menjadi korban pembantaian pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Raymond Westerling di Bandung, Jawa Barat, pada 23 Januari 1950.



Nama putra Minahasa itu kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Bandung yang tak jauh dari Museum Mandala Wangsit yang dulunya, jadi Kantor Staf Kwartier Divisi IV Siliwangi yang turut diserang gerombolan APRA.

</content:encoded></item></channel></rss>
