<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG: Perubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan, Ada Ancaman Kelaparan Global di 2050</title><description>Hal tersebut disampaikan Dwikorita dalam acara Blended Training of Trainers on Climate Field School for Colombo Plan Member Countries.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050"/><item><title>BMKG: Perubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan, Ada Ancaman Kelaparan Global di 2050</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050</guid><pubDate>Selasa 11 Juli 2023 14:54 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050-2u7NIMeCvk.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/11/337/2844612/bmkg-perubahan-iklim-makin-mengkhawatirkan-ada-ancaman-kelaparan-global-di-2050-2u7NIMeCvk.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya aksi mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita dalam acara Blended Training of Trainers on Climate Field School for Colombo Plan Member Countries.

Menurut Dwikorita, saat ini fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan serta memicu dampak yang lebih luas hingga skala global. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim, dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

&amp;ldquo;Perubahan iklim ini juga mengancam katahanan pangan seluruh negara. Organisasi pangan dunia FAO bahkan memprediksi tahun 2050 mendatang, dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat perubahan iklim, sebagai konsekuensi dari menurunnya hasil panen dan gagal panen,&amp;rdquo; ujar Dwikorita dalam keterangan resminya, Selasa (11/7/2023).


BACA JUGA:
Kepala BMKG: Kerugian Ekonomi Indonesia Capai Rp544 Triliun Akibat Perubahan Iklim


&amp;ldquo;Aksi Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan dengan menekankan di 3 aspek yaitu ekonomi, sosial, dan ekosistem atau bentang alam. Langkah-langkah strategis harus dilakukan guna mencegah risiko yang lebih fatal,&amp;rdquo; tambah dia.

Dwikorita memaparkan, seluruh negara di dunia saat ini mengalami dampak perubahan iklim dengan tingkat yang berbeda-beda, seperti cuaca ekstrem, bencana alam, penurunan keanekaragaman hayati, krisis air, dan lain sebagainya. Karenanya, perlu tindakan konkret seluruh negara untuk menekan laju perubahan iklim ini.

Berdasarkan laporan yang dirilis World Meteorological Organization ( WMO ) atau Organisasi Meteorologi Dunia, lanjut Dwikorita, disebutkan bahwa tahun 2022 menempati peringkat ke-6 tahun terpanas dunia. 2015-2022 menjadi 8 tahun terpanas dalam catatan WMO.

Pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama), dengan tahun 2020 sedang on-the-track menuju salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah dicatat.
Sementara itu, di Indonesia berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG dari 91 stasiun BMKG menunjukkan suhu permukaan rata-rata pada tahun 2022 lebih tinggi 0,9&amp;deg;C dibandingkan tahun 1981-2010, menandakan fenomena peningkatan suhu juga terjadi secara lokal dan global.



Dwikorita menegaskan bahwa pemanasan global memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi, durasi dan intensitas bencana hidrometeorologi. Salah satunya adalah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kekeringan yang ekstrim, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikulat ke udara.



&amp;ldquo;BMKG terus melakukan berbagai aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Di sektor pertanian, BMKG rutin menggelar sekolah lapang iklim (SLI) dengan sasaran penyuluh pertanian dan petani dari berbagai komoditas unggulan. Langkah ini juga untuk memperkuat literasi cuaca dan iklim mereka,&amp;rdquo; tegasnya.



</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya aksi mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita dalam acara Blended Training of Trainers on Climate Field School for Colombo Plan Member Countries.

Menurut Dwikorita, saat ini fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan serta memicu dampak yang lebih luas hingga skala global. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim, dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

&amp;ldquo;Perubahan iklim ini juga mengancam katahanan pangan seluruh negara. Organisasi pangan dunia FAO bahkan memprediksi tahun 2050 mendatang, dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat perubahan iklim, sebagai konsekuensi dari menurunnya hasil panen dan gagal panen,&amp;rdquo; ujar Dwikorita dalam keterangan resminya, Selasa (11/7/2023).


BACA JUGA:
Kepala BMKG: Kerugian Ekonomi Indonesia Capai Rp544 Triliun Akibat Perubahan Iklim


&amp;ldquo;Aksi Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan dengan menekankan di 3 aspek yaitu ekonomi, sosial, dan ekosistem atau bentang alam. Langkah-langkah strategis harus dilakukan guna mencegah risiko yang lebih fatal,&amp;rdquo; tambah dia.

Dwikorita memaparkan, seluruh negara di dunia saat ini mengalami dampak perubahan iklim dengan tingkat yang berbeda-beda, seperti cuaca ekstrem, bencana alam, penurunan keanekaragaman hayati, krisis air, dan lain sebagainya. Karenanya, perlu tindakan konkret seluruh negara untuk menekan laju perubahan iklim ini.

Berdasarkan laporan yang dirilis World Meteorological Organization ( WMO ) atau Organisasi Meteorologi Dunia, lanjut Dwikorita, disebutkan bahwa tahun 2022 menempati peringkat ke-6 tahun terpanas dunia. 2015-2022 menjadi 8 tahun terpanas dalam catatan WMO.

Pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama), dengan tahun 2020 sedang on-the-track menuju salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah dicatat.
Sementara itu, di Indonesia berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG dari 91 stasiun BMKG menunjukkan suhu permukaan rata-rata pada tahun 2022 lebih tinggi 0,9&amp;deg;C dibandingkan tahun 1981-2010, menandakan fenomena peningkatan suhu juga terjadi secara lokal dan global.



Dwikorita menegaskan bahwa pemanasan global memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi, durasi dan intensitas bencana hidrometeorologi. Salah satunya adalah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kekeringan yang ekstrim, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikulat ke udara.



&amp;ldquo;BMKG terus melakukan berbagai aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Di sektor pertanian, BMKG rutin menggelar sekolah lapang iklim (SLI) dengan sasaran penyuluh pertanian dan petani dari berbagai komoditas unggulan. Langkah ini juga untuk memperkuat literasi cuaca dan iklim mereka,&amp;rdquo; tegasnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
