<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Awalnya Dapat Beasiswa, Septian Akhirnya Pindah Jadi WN Singapura</title><description>Septian (38), mendapatkan beasiswa untuk kuliah S1 di Nanyang Technological University setelah lulus SMA di Jakarta pada 2003.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura"/><item><title>Awalnya Dapat Beasiswa, Septian Akhirnya Pindah Jadi WN Singapura</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura</guid><pubDate>Kamis 13 Juli 2023 19:02 WIB</pubDate><dc:creator>Angkasa Yudhistira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura-n8exXParrc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Septian Hartono jadi WN Singapura (Foto : BBC/Septian Hartono)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/13/18/2846038/awalnya-dapat-beasiswa-septian-akhirnya-pindah-jadi-wn-singapura-n8exXParrc.jpg</image><title>Septian Hartono jadi WN Singapura (Foto : BBC/Septian Hartono)</title></images><description>JAKARTA - Sebanyak 1.000 warga negara Indonesia (WNI) bertalenta pindah menjadi warga negara Singapura setiap tahun. Hal tersebut disampaikan Dirjen Imigrasi Indonesia, Silmy Karim, beberapa waktu lalu.

Salah satu dari ribuan WNI itu adalah Septian Hartono, yang memilih jadi warga negara Singapura pada 2020. Septian telah lebih dari 15 tahun di Singapura menjabarkannya apa yang dialaminya sebagai proses yang natural.


BACA JUGA:
Kisah WNI yang Pindah Kewarganegaraan ke Singapura dengan Alasan Pragmatis


Septian (38), mendapatkan beasiswa untuk kuliah S1 di Nanyang Technological University setelah lulus SMA di Jakarta pada 2003. Sebagai penerima beasiswa, Septian diwajibkan bekerja di perusahaan Singapura selama tiga tahun.

Sehingga jika ditotal, Septian tinggal di Singapura selama tujuh tahun sebelum menyandang status permanent resident (PR).


BACA JUGA:
 Di Indonesia sejak 1984, Dosen WN Singapura Dideportasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Kemudian, Septian lantas menikah dengan seorang perempuan asal Indonesia yang juga mendapat beasiswa di NTU. Keduanya dikaruniai anak, lalu mereka memutuskan untuk tinggal dalam jangka panjang di Singapura.

&amp;ldquo;Setelah itu, make sense kalau kita convert (pindah kewarganegaraan),&amp;rdquo; katanya dilansir dari BBC News Indonesia, Kamis (13/7/2023).

Bagi Septian, keputusannya berganti kewarganegaraan tidak diambil begitu saja. Selama 15 tahun dia berkali-kali mempertimbangkan untuk pulang ke Indonesia tetapi akhirnya memutuskan untuk tinggal karena alasan pragmatis.Salah satu alasannya adalah karier. Di mana Septian bekerja sebagai teknisi kesehatan di rumah sakit umum terbesar di Singapura dan dia merasa apa yang dia kerjakan sekarang belum ada di Indonesia. Jika pun ada, levelnya tidak sama seperti di Singapura.

Faktor lainnya ialah standar hidup di Singapura yang dinilai lebih baik dari Indonesia berkat fasilitas publiknya.

&amp;ldquo;Di Singapura keluarga kami bisa tinggal di rumah susun publik, ke mana-mana menggunakan transportasi publik, sekolah [anak] di sekolah negeri, saya bekerja di RS Umum. Saya melihat bahwa hidup yang so-called baik itu justru hidup yang bisa menikmati fasilitas-fasilitas publik ini,&amp;rdquo; kata Septian.</description><content:encoded>JAKARTA - Sebanyak 1.000 warga negara Indonesia (WNI) bertalenta pindah menjadi warga negara Singapura setiap tahun. Hal tersebut disampaikan Dirjen Imigrasi Indonesia, Silmy Karim, beberapa waktu lalu.

Salah satu dari ribuan WNI itu adalah Septian Hartono, yang memilih jadi warga negara Singapura pada 2020. Septian telah lebih dari 15 tahun di Singapura menjabarkannya apa yang dialaminya sebagai proses yang natural.


BACA JUGA:
Kisah WNI yang Pindah Kewarganegaraan ke Singapura dengan Alasan Pragmatis


Septian (38), mendapatkan beasiswa untuk kuliah S1 di Nanyang Technological University setelah lulus SMA di Jakarta pada 2003. Sebagai penerima beasiswa, Septian diwajibkan bekerja di perusahaan Singapura selama tiga tahun.

Sehingga jika ditotal, Septian tinggal di Singapura selama tujuh tahun sebelum menyandang status permanent resident (PR).


BACA JUGA:
 Di Indonesia sejak 1984, Dosen WN Singapura Dideportasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Kemudian, Septian lantas menikah dengan seorang perempuan asal Indonesia yang juga mendapat beasiswa di NTU. Keduanya dikaruniai anak, lalu mereka memutuskan untuk tinggal dalam jangka panjang di Singapura.

&amp;ldquo;Setelah itu, make sense kalau kita convert (pindah kewarganegaraan),&amp;rdquo; katanya dilansir dari BBC News Indonesia, Kamis (13/7/2023).

Bagi Septian, keputusannya berganti kewarganegaraan tidak diambil begitu saja. Selama 15 tahun dia berkali-kali mempertimbangkan untuk pulang ke Indonesia tetapi akhirnya memutuskan untuk tinggal karena alasan pragmatis.Salah satu alasannya adalah karier. Di mana Septian bekerja sebagai teknisi kesehatan di rumah sakit umum terbesar di Singapura dan dia merasa apa yang dia kerjakan sekarang belum ada di Indonesia. Jika pun ada, levelnya tidak sama seperti di Singapura.

Faktor lainnya ialah standar hidup di Singapura yang dinilai lebih baik dari Indonesia berkat fasilitas publiknya.

&amp;ldquo;Di Singapura keluarga kami bisa tinggal di rumah susun publik, ke mana-mana menggunakan transportasi publik, sekolah [anak] di sekolah negeri, saya bekerja di RS Umum. Saya melihat bahwa hidup yang so-called baik itu justru hidup yang bisa menikmati fasilitas-fasilitas publik ini,&amp;rdquo; kata Septian.</content:encoded></item></channel></rss>
