<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terungkap dalam Kitab Nagarakretagama, Raja Hayam Wuruk Sempat Satukan 3 Aliran Agama</title><description>Hal ini terungkap alam kitab Nagarakretagama pada Pupuh 81.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/22/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/22/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama"/><item><title>Terungkap dalam Kitab Nagarakretagama, Raja Hayam Wuruk Sempat Satukan 3 Aliran Agama</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/22/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/22/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama</guid><pubDate>Sabtu 22 Juli 2023 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/21/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama-ETzMWTAnVB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Hayam Wuruk (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/21/337/2850148/terungkap-dalam-kitab-nagarakretagama-raja-hayam-wuruk-sempat-satukan-3-aliran-agama-ETzMWTAnVB.jpg</image><title>Raja Hayam Wuruk (Foto: Wikipedia)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penyatuan tiga keyakinan sempat terjadi pada masa Raja  Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit. Istilah penyatuan tiga aliran ini disebut tripaksa atau tiga sayap yakni Siwa, Buddha, dan Brahma.
Hal ini terungkap alam kitab Nagarakretagama pada Pupuh 81. Di pupuh atau bab itu dijelaskan usaha Hayam Wuruk untuk menyatukan tiga aliran agama di Majapahit. Pupuh itu juga menyebutkan bahwa para pendetanya yang disebut caturdwija tunduk pada ajaran.
Menurut buku &amp;lsquo;Tafsir Sejarah Nagarakertagama&amp;rsquo;karya Slamet Muljana, istilah dwija dalam Hinduisme berarti lahir dua kali. Kelahiran yang pertama ialah kelahiran sebagai manusia, kelahiran kedua berupa upacara pengalungan benang suci atau disebut upavita, sebagai tanda bahwa seseorang telah diterima sebagai anggota masyarakat Arya.


BACA JUGA:
 Dua Pembisik yang Bikin Hayam Wuruk Bertekad Nikahi Putri Cantik Raja Sunda&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Upacara inisiasi ini dilakukan bagi golongan brahmana pada umur 12 tahun. Hanya ketiga golongan inilah yang dikatakan lahir dua kali. Sementara golongan sudra hanya lahir satu kali, namun kemudian istilah dwija vitu hanya semata-mata diperuntukkan bagi golongan pendeta saja, yakni kaum brahmana.


BACA JUGA:
 Momen Raja Sunda Langgar Tradisi Lokal saat Nikahkan Putrinya dengan Hayam Wuruk&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dari pemberitaan di Nagarakertagama inilah dapat diambil kesimpulan bahwa di Majapahit pada abad 14 ada empat golongan pendeta. Keempatnya yakni Siwa, Brahma, Wisnu, dan Buddha. Jadi terdapat empat aliran agama, yakni Siwa, Brahma, Wisnu, dan Buddha.

Karena jumlahnya terlalu kecil, aliran Brahma itu tidak dimasukkan dalam tripaksa. Demikianlah tripaksa itu mencakup tiga aliran agama lainnya, yang besar jumlah pengikutnya. Di antara tiga aliran ini agama Siwa mempunyai pengikut paling banyak berkat kedudukannya menjadi agama resmi Kerajaan Majapahit.

Agama Buddha menduduki tempat kedua, perkembangan Buddha memang sengaja ditekan agar jangan menyaingi agama Siwa. Pada Nagarakertagama pupuh 16 dinyatakan bahwa para pendeta Buddha yang diutus ke daerah untuk mengumpulkan upeti, dilarang berkunjung dan menyiarkan agama di daerah-daerah di sebelah barat Majapahit.

Hal ini dikarenakan karena di daerah itu agama Buddha tidak mempunyai pengikut. Mereka hanya diperbolehkan menyiarkan agama di daerah sebelah timur Majapahit, terutama di Pulau Bali dan Lombok. Sebaliknya para pendeta Siwa boleh berkunjung dan menyiarkan agamanya di mana saja tanpa mengenal pembatasan.

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penyatuan tiga keyakinan sempat terjadi pada masa Raja  Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit. Istilah penyatuan tiga aliran ini disebut tripaksa atau tiga sayap yakni Siwa, Buddha, dan Brahma.
Hal ini terungkap alam kitab Nagarakretagama pada Pupuh 81. Di pupuh atau bab itu dijelaskan usaha Hayam Wuruk untuk menyatukan tiga aliran agama di Majapahit. Pupuh itu juga menyebutkan bahwa para pendetanya yang disebut caturdwija tunduk pada ajaran.
Menurut buku &amp;lsquo;Tafsir Sejarah Nagarakertagama&amp;rsquo;karya Slamet Muljana, istilah dwija dalam Hinduisme berarti lahir dua kali. Kelahiran yang pertama ialah kelahiran sebagai manusia, kelahiran kedua berupa upacara pengalungan benang suci atau disebut upavita, sebagai tanda bahwa seseorang telah diterima sebagai anggota masyarakat Arya.


BACA JUGA:
 Dua Pembisik yang Bikin Hayam Wuruk Bertekad Nikahi Putri Cantik Raja Sunda&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Upacara inisiasi ini dilakukan bagi golongan brahmana pada umur 12 tahun. Hanya ketiga golongan inilah yang dikatakan lahir dua kali. Sementara golongan sudra hanya lahir satu kali, namun kemudian istilah dwija vitu hanya semata-mata diperuntukkan bagi golongan pendeta saja, yakni kaum brahmana.


BACA JUGA:
 Momen Raja Sunda Langgar Tradisi Lokal saat Nikahkan Putrinya dengan Hayam Wuruk&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dari pemberitaan di Nagarakertagama inilah dapat diambil kesimpulan bahwa di Majapahit pada abad 14 ada empat golongan pendeta. Keempatnya yakni Siwa, Brahma, Wisnu, dan Buddha. Jadi terdapat empat aliran agama, yakni Siwa, Brahma, Wisnu, dan Buddha.

Karena jumlahnya terlalu kecil, aliran Brahma itu tidak dimasukkan dalam tripaksa. Demikianlah tripaksa itu mencakup tiga aliran agama lainnya, yang besar jumlah pengikutnya. Di antara tiga aliran ini agama Siwa mempunyai pengikut paling banyak berkat kedudukannya menjadi agama resmi Kerajaan Majapahit.

Agama Buddha menduduki tempat kedua, perkembangan Buddha memang sengaja ditekan agar jangan menyaingi agama Siwa. Pada Nagarakertagama pupuh 16 dinyatakan bahwa para pendeta Buddha yang diutus ke daerah untuk mengumpulkan upeti, dilarang berkunjung dan menyiarkan agama di daerah-daerah di sebelah barat Majapahit.

Hal ini dikarenakan karena di daerah itu agama Buddha tidak mempunyai pengikut. Mereka hanya diperbolehkan menyiarkan agama di daerah sebelah timur Majapahit, terutama di Pulau Bali dan Lombok. Sebaliknya para pendeta Siwa boleh berkunjung dan menyiarkan agamanya di mana saja tanpa mengenal pembatasan.

</content:encoded></item></channel></rss>
