<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertama Kalinya dalam Sejarah, Biden Setuju AS Bagikan Bukti Kejahatan Perang Rusia dengan ICC</title><description>Informasi apa yang dibagikan AS pada akhirnya akan bergantung pada apa yang diminta jaksa ICC untuk penyelidikan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc"/><item><title>Pertama Kalinya dalam Sejarah, Biden Setuju AS Bagikan Bukti Kejahatan Perang Rusia dengan ICC</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc</guid><pubDate>Kamis 27 Juli 2023 13:10 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc-xXkfEfFE5A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden AS Joe Biden (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/27/18/2853021/pertama-kalinya-dalam-sejarah-biden-setuju-as-bagikan-bukti-kejahatan-perang-rusia-dengan-icc-xXkfEfFE5A.jpg</image><title>Presiden AS Joe Biden (Foto: AP)</title></images><description>NEW YORK - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah memutuskan untuk mengizinkan AS bekerja sama dengan penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas kejahatan perang Rusia di Ukraina.
Menurut dua pejabat AS dan sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada CNN, keputusan tersebut diambil setelah berbulan-bulan perdebatan internal dan menandai perubahan bersejarah, karena ini akan menjadi pertama kalinya AS setuju untuk berbagi bukti dengan pengadilan. AS diketahui bukan pihak dalam ICC.

&quot;Itu bisa sangat penting,&quot; kata salah satu sumber, menambahkan bahwa pemerintah AS sekarang memiliki &quot;lampu hijau yang jelas&quot; untuk berbagi informasi dan bukti dengan ICC.

BACA JUGA:
Amnesty International Duga Kejahatan Perang Terjadi saat Pertempuran Israel-Gaza, Minta ICC Selidiki

Sumber itu menjelaskan, informasi apa yang dibagikan AS pada akhirnya akan bergantung pada apa yang diminta jaksa ICC untuk penyelidikan.


BACA JUGA:
Fasilitas Kesehatan dan Staf Medis Terancam Jadi Sasaran Kejahatan Perang Mematikan Sudan

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional tidak akan mengomentari langsung keputusan tersebut, tetapi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Biden telah bersikap jelas, yakni perlu ada pertanggungjawaban bagi para pelaku dan pendukung kejahatan perang dan kekejaman lainnya di Ukraina.

Seperti diketahui, selama perang Rusia-Ukraina, pejabat administrasi Biden telah memperoleh bukti dugaan kejahatan perang Rusia di Ukraina. Bukti ini dikumpulkan melalui mekanisme pengumpulan intelijen di antara saluran lain.Tetapi pemerintah berdebat selama berbulan-bulan secara internal tentang apakah akan membagikan bukti itu dengan pengadilan, karena para pejabat bergulat dengan kemungkinan bahwa hal itu dapat menjadi preseden yang suatu hari nanti dapat digunakan untuk melawan Amerika Serikat.

Pentagon menjadi pihak yang paling khawatir tentang bekerja sama dengan pengadilan dan khawatir bahwa hal itu dapat menjadi preseden bagi ICC untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh orang Amerika di Irak.

</description><content:encoded>NEW YORK - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah memutuskan untuk mengizinkan AS bekerja sama dengan penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas kejahatan perang Rusia di Ukraina.
Menurut dua pejabat AS dan sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada CNN, keputusan tersebut diambil setelah berbulan-bulan perdebatan internal dan menandai perubahan bersejarah, karena ini akan menjadi pertama kalinya AS setuju untuk berbagi bukti dengan pengadilan. AS diketahui bukan pihak dalam ICC.

&quot;Itu bisa sangat penting,&quot; kata salah satu sumber, menambahkan bahwa pemerintah AS sekarang memiliki &quot;lampu hijau yang jelas&quot; untuk berbagi informasi dan bukti dengan ICC.

BACA JUGA:
Amnesty International Duga Kejahatan Perang Terjadi saat Pertempuran Israel-Gaza, Minta ICC Selidiki

Sumber itu menjelaskan, informasi apa yang dibagikan AS pada akhirnya akan bergantung pada apa yang diminta jaksa ICC untuk penyelidikan.


BACA JUGA:
Fasilitas Kesehatan dan Staf Medis Terancam Jadi Sasaran Kejahatan Perang Mematikan Sudan

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional tidak akan mengomentari langsung keputusan tersebut, tetapi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Biden telah bersikap jelas, yakni perlu ada pertanggungjawaban bagi para pelaku dan pendukung kejahatan perang dan kekejaman lainnya di Ukraina.

Seperti diketahui, selama perang Rusia-Ukraina, pejabat administrasi Biden telah memperoleh bukti dugaan kejahatan perang Rusia di Ukraina. Bukti ini dikumpulkan melalui mekanisme pengumpulan intelijen di antara saluran lain.Tetapi pemerintah berdebat selama berbulan-bulan secara internal tentang apakah akan membagikan bukti itu dengan pengadilan, karena para pejabat bergulat dengan kemungkinan bahwa hal itu dapat menjadi preseden yang suatu hari nanti dapat digunakan untuk melawan Amerika Serikat.

Pentagon menjadi pihak yang paling khawatir tentang bekerja sama dengan pengadilan dan khawatir bahwa hal itu dapat menjadi preseden bagi ICC untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh orang Amerika di Irak.

</content:encoded></item></channel></rss>
