<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kala Pidato Provokatif Teman Seperjuangan Buat Raja Majapahit Raden Wijaya Tersinggung</title><description>Pemberontakan pertama ini tercatat dalam sejarah Majapahit pada tahun 1295.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung"/><item><title>Kala Pidato Provokatif Teman Seperjuangan Buat Raja Majapahit Raden Wijaya Tersinggung</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung</guid><pubDate>Jum'at 28 Juli 2023 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung-Q08QXLnuyx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/28/337/2853409/kala-pidato-provokatif-teman-seperjuangan-buat-raja-majapahit-raden-wijaya-tersinggung-Q08QXLnuyx.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8yNy8xLzE2ODQ1Ni81L3g4bXRyYWY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Raden Wijaya raja pertama Kerajaan Majapahit harus menghadapi kenyataan pahit pertama sebagai penguasa. Pasalnya salah satu kawan lama dan teman seperjuangannya Ranggalawe memutuskan membelot hingga akhirnya mengadakan pemberontakan ke pemerintahannya.
Pemberontakan pertama ini tercatat dalam sejarah Majapahit pada tahun 1295. Ranggalawe notabene adalah anak dari Arya Wiraraja, sahabat karib Raden Wijaya. Sosok Arya Wiraraja sendiri adalah orang pertama yang dihormatinya semasa dalam bahaya karena telah membawa serombongan kuda dari Madura.

BACA JUGA:
Terima KTA Berasuransi Perindo, Pengemudi Ojol Apresiasi karena Peduli dengan Profesinya

Dikisahkan pada &quot;Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit&quot;,  Ranggalawe tidak senang dengan penunjukkannya sebagai gubernur dermaga Tuban yang strategis itu. Ia berharap diangkat sebagai Menteri Kepala Pemerintahan pada Pemerintah Pusat.

BACA JUGA:
Sosialisasikan KTA Berasuransi Perindo ke Ojol, Bacaleg Perindo: Kami Siap Membantu!

Ranggalawe kian murka tatkala jabatan itu jatuh ke tangan saingannya, Mpu Nambi, putra yang cakap dari Mpu Sina, yang tak lain adalah rekan ayahnya di Dewan Menteri Keamanan. Entah sudah berapa generasi, keluarga - keluarga papan atas ini saling berebut kekuasaan.
Pikir mereka, kehadiran seorang raja yang masih muda dan tak berpengalaman memberikan peluang bagi mereka untuk menumpuk kekuasaan dengan sejenak melupakan permusuhan lama. Terlepas dari fakta bahwa pengangkatan pejabat tinggi adalah hak prerogatif raja, Ranggalawe sempat mengingkari perkawanan lamanya dengan Raden Wijaya, dengan berpidato di hadapan seluruh hadirin istana, yang merupakan bagian dari acara rutin yang resmi.Saat itu Ranggalawe mengutarakan usaha Raden Wijaya akan sia-sia karena menunjuk Mpu Nambi. Bahkan Ranggalawe menyebut Raden Wijaya telah membuat kesalahan serius dengan pengangkatannya yang tidak akan menguntungkan negara.

Ranggalawe bahkan secara tegas mengutarakan dalam pidatonya bahwa Nambi itu sosok yang bodoh, lemah, takut, dan busuk. Dalam segala hal, Ranggalawe mengatakan Nambi mengecewakan. Singkatnya, Nambi disebut Ranggalawe manusia tanpa keberanian, tanpa wibawa, tanpa reputasi, tanpa kepribadian.

BACA JUGA:
Rio Fahmi Angkat Suara terkait Kedatangan Oliver Bias ke Persija, Takut Tersaingi?

Di akhir pidatonya, Ranggalawe meyakini citra negara Majapahit akan hancur dengan pengangkatan Nambi. Bahkan apa yang dilakukan Raden Wijaya itu dianggap Ranggalawe justru menurunkan reputasinya sendiri. Ia pun menantang Nambi duel satu lawan satu di manapun dan kapan pun waktunya.

BACA JUGA:
Harapan Pemain Persija Jakarta Setelah Timnas Indonesia Hadapi Brunei di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Ungkapan kemarahan ini menyinggung perasaan raja dan warga keraton lainnya, yang mendesak Ranggalawe agar berpikir masak-masak sebelum menentukan sikap. Nambi mengabaikan tantangan duel tersebut.

Setelah itu, Ranggalawe cepat-cepat pulang dan mengadu kepada ayahnya, seraya bersikeras bahwa hanya ada dua pilihan: kembali melayani raja, atau berontak. Ketika sang ayah menganjurkan agar ia mengendalikan kemarahannya dan tetap setia pada raja, Ranggalawe menjelaskan apa yang ia rasakan.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8yNy8xLzE2ODQ1Ni81L3g4bXRyYWY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Raden Wijaya raja pertama Kerajaan Majapahit harus menghadapi kenyataan pahit pertama sebagai penguasa. Pasalnya salah satu kawan lama dan teman seperjuangannya Ranggalawe memutuskan membelot hingga akhirnya mengadakan pemberontakan ke pemerintahannya.
Pemberontakan pertama ini tercatat dalam sejarah Majapahit pada tahun 1295. Ranggalawe notabene adalah anak dari Arya Wiraraja, sahabat karib Raden Wijaya. Sosok Arya Wiraraja sendiri adalah orang pertama yang dihormatinya semasa dalam bahaya karena telah membawa serombongan kuda dari Madura.

BACA JUGA:
Terima KTA Berasuransi Perindo, Pengemudi Ojol Apresiasi karena Peduli dengan Profesinya

Dikisahkan pada &quot;Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit&quot;,  Ranggalawe tidak senang dengan penunjukkannya sebagai gubernur dermaga Tuban yang strategis itu. Ia berharap diangkat sebagai Menteri Kepala Pemerintahan pada Pemerintah Pusat.

BACA JUGA:
Sosialisasikan KTA Berasuransi Perindo ke Ojol, Bacaleg Perindo: Kami Siap Membantu!

Ranggalawe kian murka tatkala jabatan itu jatuh ke tangan saingannya, Mpu Nambi, putra yang cakap dari Mpu Sina, yang tak lain adalah rekan ayahnya di Dewan Menteri Keamanan. Entah sudah berapa generasi, keluarga - keluarga papan atas ini saling berebut kekuasaan.
Pikir mereka, kehadiran seorang raja yang masih muda dan tak berpengalaman memberikan peluang bagi mereka untuk menumpuk kekuasaan dengan sejenak melupakan permusuhan lama. Terlepas dari fakta bahwa pengangkatan pejabat tinggi adalah hak prerogatif raja, Ranggalawe sempat mengingkari perkawanan lamanya dengan Raden Wijaya, dengan berpidato di hadapan seluruh hadirin istana, yang merupakan bagian dari acara rutin yang resmi.Saat itu Ranggalawe mengutarakan usaha Raden Wijaya akan sia-sia karena menunjuk Mpu Nambi. Bahkan Ranggalawe menyebut Raden Wijaya telah membuat kesalahan serius dengan pengangkatannya yang tidak akan menguntungkan negara.

Ranggalawe bahkan secara tegas mengutarakan dalam pidatonya bahwa Nambi itu sosok yang bodoh, lemah, takut, dan busuk. Dalam segala hal, Ranggalawe mengatakan Nambi mengecewakan. Singkatnya, Nambi disebut Ranggalawe manusia tanpa keberanian, tanpa wibawa, tanpa reputasi, tanpa kepribadian.

BACA JUGA:
Rio Fahmi Angkat Suara terkait Kedatangan Oliver Bias ke Persija, Takut Tersaingi?

Di akhir pidatonya, Ranggalawe meyakini citra negara Majapahit akan hancur dengan pengangkatan Nambi. Bahkan apa yang dilakukan Raden Wijaya itu dianggap Ranggalawe justru menurunkan reputasinya sendiri. Ia pun menantang Nambi duel satu lawan satu di manapun dan kapan pun waktunya.

BACA JUGA:
Harapan Pemain Persija Jakarta Setelah Timnas Indonesia Hadapi Brunei di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Ungkapan kemarahan ini menyinggung perasaan raja dan warga keraton lainnya, yang mendesak Ranggalawe agar berpikir masak-masak sebelum menentukan sikap. Nambi mengabaikan tantangan duel tersebut.

Setelah itu, Ranggalawe cepat-cepat pulang dan mengadu kepada ayahnya, seraya bersikeras bahwa hanya ada dua pilihan: kembali melayani raja, atau berontak. Ketika sang ayah menganjurkan agar ia mengendalikan kemarahannya dan tetap setia pada raja, Ranggalawe menjelaskan apa yang ia rasakan.</content:encoded></item></channel></rss>
