<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BNPT: Radikalisasi dan Terorisme Sasar Anak-anak, Remaja, dan Perempuan</title><description>Rycko Amelza Dahniel menyebutkan dinamika radikalisme dan terorisme terus mengalami pengembangan</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan"/><item><title>BNPT: Radikalisasi dan Terorisme Sasar Anak-anak, Remaja, dan Perempuan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan</guid><pubDate>Jum'at 28 Juli 2023 20:53 WIB</pubDate><dc:creator>Nur Khabibi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan-GylKzD2pEC.jpeg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/28/337/2853926/bnpt-radikalisasi-dan-terorisme-sasar-anak-anak-remaja-dan-perempuan-GylKzD2pEC.jpeg</image><title></title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8xNi8xLzE2NzI1MC81L3g4bHRnbGQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA&amp;nbsp;- Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Rycko Amelza Dahniel menyebutkan dinamika radikalisme dan terorisme terus mengalami pengembangan dengan menyusup ke sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Selain itu, kelompoknya yang dimaksud juga mulai melakukan perubahan pendekatan, dari hard menjadi soft approach.

&quot;Sel-sel terorisme ini di permukaan menggunakan jubah agama, sementara di bawah permukaan melakukan gerakan ideologi dalam ruang yang gelap secara sistematis, masif, dan terencana,&quot; kata Rycko dalam sambutannya di acara syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) BNPT ke-13 dengan Tema 'BNPT Hadir untuk Negeri, Indonesia Damai Menuju Indonesia Emas' di Djakarta Theater, Jalan M.H. Thamrin No.9 Jakarta Pusat, Jumat (28/7/2023).


BACA JUGA:
 Wapres: Jangan Lengah, Terorisme Kadang Muncul di Atas dan Bawah Permukaan


&quot;Mereka terus melakukan konsolidasi, melakukan rekrutmen dan penggalangan dana dengan berbagai cara,&quot; sambungnya.

Rycko menjelaskan, kelompok tersebut pun memiliki target yang mereka anggap mudah untuk &quot;dicekoki&quot;.

&quot;Hasil penelitian daripada Indonesian IK Hub BNPT-Output tahun 2023 menunjukkan bahwa kelompok-kelompok rentan, para remaja, anak-anak, dan perempuan menjadi sasaran utama daripada radikalisasi,&quot; ucapnya.

Sebelumnya, Rycko menyatakan kemajuan dunia teknologi dan pandemi Covid-19 menjadi salah dua penyebab tingginya radikalisasi yang merujuk pada hasil penelitian IK Hub BNPT Outlook 2023.

&quot;Kemajuan teknologi IT dan masa pandemi covid-19 mendorong semakin masifnya online radicalization yang melahirkan self-radicalization dan lone wolf,&quot; kata Rycko.

Hal tersebut diperkuat, jelas Rycko dengan hasil penelitian Setara Institut yang dilakukan di Padang, Surabaya, Bogor, Bandung, dan Surakarta dalam kurun waktu 2016-2023.

&quot;Penelitian ini menunjukkan, terjadi peningkatan migrasi dari kategori toleran menjadi intoleran pasif, dari intolerean pasif menjadi intoleran aktif, dan dari intoleran aktif menjadi terparpar,&quot; papar Rycko.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8xNi8xLzE2NzI1MC81L3g4bHRnbGQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA&amp;nbsp;- Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Rycko Amelza Dahniel menyebutkan dinamika radikalisme dan terorisme terus mengalami pengembangan dengan menyusup ke sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Selain itu, kelompoknya yang dimaksud juga mulai melakukan perubahan pendekatan, dari hard menjadi soft approach.

&quot;Sel-sel terorisme ini di permukaan menggunakan jubah agama, sementara di bawah permukaan melakukan gerakan ideologi dalam ruang yang gelap secara sistematis, masif, dan terencana,&quot; kata Rycko dalam sambutannya di acara syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) BNPT ke-13 dengan Tema 'BNPT Hadir untuk Negeri, Indonesia Damai Menuju Indonesia Emas' di Djakarta Theater, Jalan M.H. Thamrin No.9 Jakarta Pusat, Jumat (28/7/2023).


BACA JUGA:
 Wapres: Jangan Lengah, Terorisme Kadang Muncul di Atas dan Bawah Permukaan


&quot;Mereka terus melakukan konsolidasi, melakukan rekrutmen dan penggalangan dana dengan berbagai cara,&quot; sambungnya.

Rycko menjelaskan, kelompok tersebut pun memiliki target yang mereka anggap mudah untuk &quot;dicekoki&quot;.

&quot;Hasil penelitian daripada Indonesian IK Hub BNPT-Output tahun 2023 menunjukkan bahwa kelompok-kelompok rentan, para remaja, anak-anak, dan perempuan menjadi sasaran utama daripada radikalisasi,&quot; ucapnya.

Sebelumnya, Rycko menyatakan kemajuan dunia teknologi dan pandemi Covid-19 menjadi salah dua penyebab tingginya radikalisasi yang merujuk pada hasil penelitian IK Hub BNPT Outlook 2023.

&quot;Kemajuan teknologi IT dan masa pandemi covid-19 mendorong semakin masifnya online radicalization yang melahirkan self-radicalization dan lone wolf,&quot; kata Rycko.

Hal tersebut diperkuat, jelas Rycko dengan hasil penelitian Setara Institut yang dilakukan di Padang, Surabaya, Bogor, Bandung, dan Surakarta dalam kurun waktu 2016-2023.

&quot;Penelitian ini menunjukkan, terjadi peningkatan migrasi dari kategori toleran menjadi intoleran pasif, dari intolerean pasif menjadi intoleran aktif, dan dari intoleran aktif menjadi terparpar,&quot; papar Rycko.</content:encoded></item></channel></rss>
