<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Eks Presiden: Rusia Akan Gunakan Senjata Nuklir Jika Serangan Balasan Ukraina Sukses</title><description>Medvedev telah berulang kali memperingatkan tentang poenggunaan senjata nuklir Rusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses"/><item><title>Eks Presiden: Rusia Akan Gunakan Senjata Nuklir Jika Serangan Balasan Ukraina Sukses</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses</guid><pubDate>Senin 31 Juli 2023 06:13 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses-pU7OJQdv1j.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/31/18/2854658/eks-presiden-rusia-akan-gunakan-senjata-nuklir-jika-serangan-balasan-ukraina-sukses-pU7OJQdv1j.jpg</image><title>Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev. (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8yNy8xLzE1MjQ5NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MOSKOW - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang telah beberapa kali mengangkat isu penggunaan senjata nuklir terhadap Ukraina, pada Minggu, (30/7/2023) mengatakan bahwa Moskow harus menggunakan senjata pemusnah massal tersebut jika serangan balasan Kyiv yang sedang berlangsung, berhasil.

BACA JUGA:
Rusia Akan Anggap Jet Tempur F-16 di Ukraina Sebagai Ancaman Nuklir

Medvedev, yang menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, sebuah badan yang diketuai oleh Presiden Vladimir Putin, mengatakan dalam sebuah pesan di akun media sosial resminya bahwa Rusia akan dipaksa untuk kembali ke doktrin nuklirnya dalam skenario kemenangan Ukraina.
&amp;ldquo;Bayangkan jika.. ofensif, yang didukung oleh NATO, berhasil dan mereka merobek sebagian tanah kami maka kami akan dipaksa untuk menggunakan senjata nuklir sesuai aturan keputusan dari presiden Rusia,&amp;rdquo; kata Medvedev, sebagaimana dilansir Reuters.
&quot;Tidak akan ada pilihan lain. Jadi musuh kita harus berdoa untuk (kesuksesan) prajurit kita. Mereka memastikan bahwa api nuklir global tidak tersulut,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Apakah Rusia Akan Benar-Benar Menggunakan Senjata Nuklir di Perang Ukraina?

Medvedev, yang menyebut dirinya sebagai salah satu tokoh paling pro perang di Rusia, tampaknya mengacu pada bagian dari doktrin nuklir Rusia yang menetapkan bahwa senjata nuklir dapat digunakan sebagai tanggapan atas agresi terhadap Rusia yang dilakukan dengan menggunakan senjata konvensional yang mengancam keberadaan negara Rusia.Ukraina mencoba untuk merebut kembali wilayah yang telah dianeksasi secara sepihak oleh Rusia dan dinyatakan sebagai bagian dari wilayahnya sendiri, sebuah langkah yang dikutuk oleh Kyiv dan sebagian besar Barat.
Putin mengatakan pada Sabtu, (29/7/2023) bahwa tidak ada perubahan medan perang yang serius untuk dilaporkan dalam beberapa hari terakhir dan bahwa Ukraina telah kehilangan banyak peralatan militer sejak memulai serangan balasan pada 4 Juni..
Kritikus Kremlin sebelumnya menuduh Medvedev membuat pernyataan ekstrem dalam upaya menghalangi negara-negara Barat untuk terus memasok senjata ke Ukraina.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8yNy8xLzE1MjQ5NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MOSKOW - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang telah beberapa kali mengangkat isu penggunaan senjata nuklir terhadap Ukraina, pada Minggu, (30/7/2023) mengatakan bahwa Moskow harus menggunakan senjata pemusnah massal tersebut jika serangan balasan Kyiv yang sedang berlangsung, berhasil.

BACA JUGA:
Rusia Akan Anggap Jet Tempur F-16 di Ukraina Sebagai Ancaman Nuklir

Medvedev, yang menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, sebuah badan yang diketuai oleh Presiden Vladimir Putin, mengatakan dalam sebuah pesan di akun media sosial resminya bahwa Rusia akan dipaksa untuk kembali ke doktrin nuklirnya dalam skenario kemenangan Ukraina.
&amp;ldquo;Bayangkan jika.. ofensif, yang didukung oleh NATO, berhasil dan mereka merobek sebagian tanah kami maka kami akan dipaksa untuk menggunakan senjata nuklir sesuai aturan keputusan dari presiden Rusia,&amp;rdquo; kata Medvedev, sebagaimana dilansir Reuters.
&quot;Tidak akan ada pilihan lain. Jadi musuh kita harus berdoa untuk (kesuksesan) prajurit kita. Mereka memastikan bahwa api nuklir global tidak tersulut,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Apakah Rusia Akan Benar-Benar Menggunakan Senjata Nuklir di Perang Ukraina?

Medvedev, yang menyebut dirinya sebagai salah satu tokoh paling pro perang di Rusia, tampaknya mengacu pada bagian dari doktrin nuklir Rusia yang menetapkan bahwa senjata nuklir dapat digunakan sebagai tanggapan atas agresi terhadap Rusia yang dilakukan dengan menggunakan senjata konvensional yang mengancam keberadaan negara Rusia.Ukraina mencoba untuk merebut kembali wilayah yang telah dianeksasi secara sepihak oleh Rusia dan dinyatakan sebagai bagian dari wilayahnya sendiri, sebuah langkah yang dikutuk oleh Kyiv dan sebagian besar Barat.
Putin mengatakan pada Sabtu, (29/7/2023) bahwa tidak ada perubahan medan perang yang serius untuk dilaporkan dalam beberapa hari terakhir dan bahwa Ukraina telah kehilangan banyak peralatan militer sejak memulai serangan balasan pada 4 Juni..
Kritikus Kremlin sebelumnya menuduh Medvedev membuat pernyataan ekstrem dalam upaya menghalangi negara-negara Barat untuk terus memasok senjata ke Ukraina.</content:encoded></item></channel></rss>
