<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Ditulis oleh Sang Pemenang, Benarkah?</title><description>Banyak informasi simpang siur dengan sumber yang tak pasti mengenai sejarah Indonesia bertebaran diberbagai media sosial.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah"/><item><title>Sejarah Ditulis oleh Sang Pemenang, Benarkah?</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah</guid><pubDate>Selasa 01 Agustus 2023 06:06 WIB</pubDate><dc:creator>Diana Aslamiyyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/31/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah-KImATykjmA.jfif" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/31/337/2855194/sejarah-ditulis-oleh-sang-pemenang-benarkah-KImATykjmA.jfif</image><title></title></images><description>JAKARTA - Pada masa kemajuan teknologi sekarang ini, penyebaran berita hoaks dan pemahaman-pemahaman yang salah menjadi suatu hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Tak terkecuali dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Banyak informasi simpang siur dengan sumber yang tak pasti mengenai sejarah Indonesia bertebaran diberbagai media sosial.
Hal ini dapat dilihat melalui banyaknya penyebaran teori konspirasi sejarah di media sosial. Teori konspirasi ini kemudian memunculkan isu yang sangat kental bahwa sebenarnya sejarah-sejarah yang ada ditulis oleh para pemenang. Isu ini lah yang kemudian membuat banyak masyarakat lebih mempercayai teori konspirasi dari pada fakta-fakta sejarah yang ada.

BACA JUGA:
Mengapa Manusia Jawa Belum Bisa Pulang ke Indonesia dari Belanda?

Lantas bagaimana tanggapan ahli mengenai hal ini?
Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa kalimat ini awalnya muncul pada masa pemerintahan yang otoriter.
Salah satu ciri dari pemerintahan otoriter ini adalah memonopoli tafsir sejarah. Tetapi menurut dia, kalimat ini sudah tidak berlaku lagi, sebab saat ini kita telah memasuki dunia atau pemerintahan yang demokratis. Pada saat ini setiap orang memiliki kontrol terhadap apa saja yang muncul dalam perdebatan wacana tentang sejarah.Ia juga menambahkan bahwa saat ini masyarakat telah memiliki kebebasan dalam memilih referensi yang dianggap lebih sesuai dengan fakta-fakta sejarah, tanpa perlu mempedulikan dari mana datangnya referensi tersebut.
Margana juga menyarankan agar persoalan-persoalan yang berkaitan dengan sejarah hendaknya diserahkan kepada ahlinya.
&amp;ldquo;Tapi saya selalu menyarankan pada kalau persoalan-persoalan sejarah hendaknya diletakkan pada referensi sejarah yang berbasis pada penelitian yang benar&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).</description><content:encoded>JAKARTA - Pada masa kemajuan teknologi sekarang ini, penyebaran berita hoaks dan pemahaman-pemahaman yang salah menjadi suatu hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Tak terkecuali dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Banyak informasi simpang siur dengan sumber yang tak pasti mengenai sejarah Indonesia bertebaran diberbagai media sosial.
Hal ini dapat dilihat melalui banyaknya penyebaran teori konspirasi sejarah di media sosial. Teori konspirasi ini kemudian memunculkan isu yang sangat kental bahwa sebenarnya sejarah-sejarah yang ada ditulis oleh para pemenang. Isu ini lah yang kemudian membuat banyak masyarakat lebih mempercayai teori konspirasi dari pada fakta-fakta sejarah yang ada.

BACA JUGA:
Mengapa Manusia Jawa Belum Bisa Pulang ke Indonesia dari Belanda?

Lantas bagaimana tanggapan ahli mengenai hal ini?
Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa kalimat ini awalnya muncul pada masa pemerintahan yang otoriter.
Salah satu ciri dari pemerintahan otoriter ini adalah memonopoli tafsir sejarah. Tetapi menurut dia, kalimat ini sudah tidak berlaku lagi, sebab saat ini kita telah memasuki dunia atau pemerintahan yang demokratis. Pada saat ini setiap orang memiliki kontrol terhadap apa saja yang muncul dalam perdebatan wacana tentang sejarah.Ia juga menambahkan bahwa saat ini masyarakat telah memiliki kebebasan dalam memilih referensi yang dianggap lebih sesuai dengan fakta-fakta sejarah, tanpa perlu mempedulikan dari mana datangnya referensi tersebut.
Margana juga menyarankan agar persoalan-persoalan yang berkaitan dengan sejarah hendaknya diserahkan kepada ahlinya.
&amp;ldquo;Tapi saya selalu menyarankan pada kalau persoalan-persoalan sejarah hendaknya diletakkan pada referensi sejarah yang berbasis pada penelitian yang benar&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).</content:encoded></item></channel></rss>
