<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Awal Mula Belanda Meminta Maaf Atas Perbudakan di Indonesia, Tersulut Isu Black Lives Matter</title><description>Raja Belanda, Wilhelm-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekerasan pada masa akhir kependudukan Belanda di Indonesia</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter"/><item><title>Awal Mula Belanda Meminta Maaf Atas Perbudakan di Indonesia, Tersulut Isu Black Lives Matter</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/01/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</guid><pubDate>Selasa 01 Agustus 2023 07:52 WIB</pubDate><dc:creator>Diana Aslamiyyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/31/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter-3URul6G6hd.jfif" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/31/337/2855202/awal-mula-belanda-meminta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter-3URul6G6hd.jfif</image><title></title></images><description>JAKARTA - Bersamaan dengan pengembalian keris Pangeran Diponegoro Raja Belanda, Wilhelm-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada masa-masa akhir kependudukan Belanda di Indonesia.
Permohonan maaf ini didasari oleh fakta-fakta yang ditemukan tim research mengenai kekerasan yang dilakukan Belanda, yang kemudian oleh mereka disebut dengan excessive violence atau kekerasan yang eksesif.
Selain membentuk tim yang bertugas melakukan research mengenai kekerasan atau selama pendudukan Belanda di Indonesia, mereka juga membentuk tim lain yang bertugas untuk melakukan penelitian mengenai perbudakan yang dilakukan oleh Belanda di seluruh dunia.

BACA JUGA:
Raja Belanda Minta Maaf Atas Peran Negaranya dalam Perbudakan

Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa hal ini dipicu oleh isu Black Live Matter. Isu ini sendiri muncul setelah terjadinya kematian orang kulit hitam di Amerika oleh polisi kulit putih, kemudian memicu protes diseluruh dunia.
Isu Black Live Matter ini melebar hingga pembahasan bagaimana awal mula orang-orang kulit hitam Amerika datang. Lalu ditemukan fakta bahwa kedatangan mereka merupakan hasil perbudakan yang terjadi pada masa lampau.
Pada masa itu bahkan patung Colombus dimana-mana dipenggal kepalanya, sebab dianggap bertanggung jawab terhadap praktek perbudakan yang terjadi di seluruh dunia. Pada persoalan perbudakan ini rupanya Belanda juga ikut serta dalam praktek perbudakan sejak abad ke-17.&amp;ldquo;Nah termasuk Belanda ini ikut serta di dalam praktek perbudakkan dunia ini sejak abad ke-17 itu dah terjadi perdagangan budak dari jalur Afrika Barat, Afrika Selatan, Timur, sampe India sampe Indonesia itu terlibat,&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).
Margana juga menambahkan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan oleh tim research Insternational Instituut Voor Geschiendenis (IISG) menyatakan bahwa Belanda ikut terlibat dalam perbudakan yang sangat dikecam oleh masyarakat dunia.
Para peneliti itu merekomendasikan agar pemerintah Belanda melakukan pernyataan resmi berupa permohonan maaf atas apa yang terjadi. Sehingga Perdana Menteri Belanda juga ikut meminta maaf atas keterlibatan Belanda dalam praktek perbudakan.</description><content:encoded>JAKARTA - Bersamaan dengan pengembalian keris Pangeran Diponegoro Raja Belanda, Wilhelm-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada masa-masa akhir kependudukan Belanda di Indonesia.
Permohonan maaf ini didasari oleh fakta-fakta yang ditemukan tim research mengenai kekerasan yang dilakukan Belanda, yang kemudian oleh mereka disebut dengan excessive violence atau kekerasan yang eksesif.
Selain membentuk tim yang bertugas melakukan research mengenai kekerasan atau selama pendudukan Belanda di Indonesia, mereka juga membentuk tim lain yang bertugas untuk melakukan penelitian mengenai perbudakan yang dilakukan oleh Belanda di seluruh dunia.

BACA JUGA:
Raja Belanda Minta Maaf Atas Peran Negaranya dalam Perbudakan

Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa hal ini dipicu oleh isu Black Live Matter. Isu ini sendiri muncul setelah terjadinya kematian orang kulit hitam di Amerika oleh polisi kulit putih, kemudian memicu protes diseluruh dunia.
Isu Black Live Matter ini melebar hingga pembahasan bagaimana awal mula orang-orang kulit hitam Amerika datang. Lalu ditemukan fakta bahwa kedatangan mereka merupakan hasil perbudakan yang terjadi pada masa lampau.
Pada masa itu bahkan patung Colombus dimana-mana dipenggal kepalanya, sebab dianggap bertanggung jawab terhadap praktek perbudakan yang terjadi di seluruh dunia. Pada persoalan perbudakan ini rupanya Belanda juga ikut serta dalam praktek perbudakan sejak abad ke-17.&amp;ldquo;Nah termasuk Belanda ini ikut serta di dalam praktek perbudakkan dunia ini sejak abad ke-17 itu dah terjadi perdagangan budak dari jalur Afrika Barat, Afrika Selatan, Timur, sampe India sampe Indonesia itu terlibat,&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).
Margana juga menambahkan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan oleh tim research Insternational Instituut Voor Geschiendenis (IISG) menyatakan bahwa Belanda ikut terlibat dalam perbudakan yang sangat dikecam oleh masyarakat dunia.
Para peneliti itu merekomendasikan agar pemerintah Belanda melakukan pernyataan resmi berupa permohonan maaf atas apa yang terjadi. Sehingga Perdana Menteri Belanda juga ikut meminta maaf atas keterlibatan Belanda dalam praktek perbudakan.</content:encoded></item></channel></rss>
