<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Buntut Perang Bubat, Gajah Mada Moksa Saat Diburu Tentara Majapahit</title><description>Pecahnya Perang Bubat berakibat fatal bagi Mahapatih Gajah Mada.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit"/><item><title>Buntut Perang Bubat, Gajah Mada Moksa Saat Diburu Tentara Majapahit</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit</guid><pubDate>Rabu 02 Agustus 2023 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/01/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit-BMar9XdjnE.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Gajah Mada. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/01/337/2855547/buntut-perang-bubat-gajah-mada-moksa-saat-diburu-tentara-majapahit-BMar9XdjnE.jfif</image><title>Gajah Mada. </title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yMS8xLzE1MzU0OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Meski memiliki peran penting di kalangan istana Kerajaan Majapahit, reputasi Mahapatih Gajah Mada rusak menyusul pecahnya Perang Bubat yang menewaskan rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Trowulan. Gajah Mada dianggap sebagai biang keladi pertumpahan darah itu dan semua yang dia cita-citakan dan upayakan menjadi berantakan.

BACA JUGA:
Kesedihan Hayam Wuruk saat Dyah Pitaloka Bunuh Diri Usai Perang Bubat

Sebagaimana diketahui, Perang Bubat bermula saat Raja Hayam Wuruk jatuh cinta pada putri Raja Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi. Pinangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka diterima Raja Sunda, yang bersama rombongan dan sejumlah pasukannya datang ke Trowulan, ibu kota Majapahit.
Namun, kisah cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ini menggoda Gajah Mada, yang bercita-cita menaklukkan seluruh Nusantara. Sang Majapahit ingin pernikahan Hayam Wuruk sebagai bagian tunduknya Sunda ke Majapahit secara politik, karena kala itu hanya Sunda yang belum tunduk ke Majapahit.

BACA JUGA:
 Usai Perang Bubat, Nasib Gajah Mada Merana, Kematiannya Pun Penuh Misteri&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Hal ini menimbulkan perselisihan antara rombongan Kerajaan Sunda yang tiba di Trowulan dengan pasukan yang dipimpin Gajah mada sehingga perang akhirnya pecah di Alun-Alun Bubat. Seluruh rombongan Kerajaan Sunda terbunuh dalam kejadian itu, bahkan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi melakukan bunuh diri setelah melihat ayahnya dan rombongan pengiringnya tewas.Gajah Mada dianggap sebagai biang keladi kegagalan pernikahan Hayam Wuruk yang hingga berusia 23 tahun masih belum memiliki pendamping. Pejabat istana pun memerintahkan Gajah Mada untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Saat inilah, Gajah Mada sebagaimana digambarkan oleh sejarawan Prof Slamet Muljana pada bukunya &quot;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit&quot;, menunjukkan kesaktian luar biasa, yang bahkan tak dimiliki oleh Raja Hayam Wuruk.
Ketika pasukan Majapahit mengepung rumah Gajah Mada untuk mencarinya, mereka bersorak membuat sanak sang patih ketakutan tak berani keluar. Istri Gajah Mada Ken Bebed, yang gemetar mendengar kedatangan para tentara, meminta suaminya untuk menyerah saja.

BACA JUGA:
Kisah Pusat Kerajaan Majapahit Berada di Kecamatan Trowulan, Terdapat Puluhan Situs hingga Pemakaman

Saat bala tentara Majapahit berdesak-desak masuk halaman rumah. Mahapatih Gajah Mada yang telah bersiap menggunakan cawat celana geringsing, berselubung kain putih, bersabuk atmaraksi, berdiri di tengah halaman, bersemedi.
Seketika itu juga sang patih dengan jiwa raganya moksa ke Wisnuloka, kediaman yang konon ditepati Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Seisi rumah kepatihan dengan serta merta mencucurkan air mata menyaksikan kejadian itu.
Tentara Majapahit yang merangsek masuk ke rumah hanya menemukan Ken Bebed yang memegang keris terhunus, namun tak melihat keberadaan sang Mahapati. Setelah mencari di berbagai tempat tanpa hasil, mereka akhirnya menjarah rumah tersebut.



Bala Majapahit pun dikerahkan mencari Gajah mada menelusuri desa-desa yang telah moksa.&amp;nbsp;
Setelah suaminya moksa, Ken Bebed pun meninggalkan rumah mengembara mencari tempat bersembunyi jauh dari ibu kota Majapahit.
Konon, di tengah pengembaraannya Ken Bebed bertemu dengan seorang pria, yang sangat bagus rupanya seolah-olah titisan Dewa Asmara. Tingkah lakunya mirip sang suami Gajah Mada. Ken Bebed tak putus-putusnya bertanya kepada pria itu, siapa dia, dan dari mana asalnya.
Sang pria itu akhirnya mengaku dia berasal dari Majapahit dan sedang menelusur desa dan tempat-tempat sunyi untuk mencari maut. Ken Bebed mengenali pria itu sebagai suaminya yang telah moksa dan memeluknya, namun pria itu telah menghilang.
Setelah pertemuan itu, Ken Bebed pun segera berdandan, berlangir, bersisir, berkampuh lungsir putih, berselubung kain putih. Kemudian, dengan keris yang sudah terhunus dia menikam dadanya sendiri hingga tewas, mengikuti jejak sang suami.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yMS8xLzE1MzU0OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Meski memiliki peran penting di kalangan istana Kerajaan Majapahit, reputasi Mahapatih Gajah Mada rusak menyusul pecahnya Perang Bubat yang menewaskan rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Trowulan. Gajah Mada dianggap sebagai biang keladi pertumpahan darah itu dan semua yang dia cita-citakan dan upayakan menjadi berantakan.

BACA JUGA:
Kesedihan Hayam Wuruk saat Dyah Pitaloka Bunuh Diri Usai Perang Bubat

Sebagaimana diketahui, Perang Bubat bermula saat Raja Hayam Wuruk jatuh cinta pada putri Raja Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi. Pinangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka diterima Raja Sunda, yang bersama rombongan dan sejumlah pasukannya datang ke Trowulan, ibu kota Majapahit.
Namun, kisah cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ini menggoda Gajah Mada, yang bercita-cita menaklukkan seluruh Nusantara. Sang Majapahit ingin pernikahan Hayam Wuruk sebagai bagian tunduknya Sunda ke Majapahit secara politik, karena kala itu hanya Sunda yang belum tunduk ke Majapahit.

BACA JUGA:
 Usai Perang Bubat, Nasib Gajah Mada Merana, Kematiannya Pun Penuh Misteri&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Hal ini menimbulkan perselisihan antara rombongan Kerajaan Sunda yang tiba di Trowulan dengan pasukan yang dipimpin Gajah mada sehingga perang akhirnya pecah di Alun-Alun Bubat. Seluruh rombongan Kerajaan Sunda terbunuh dalam kejadian itu, bahkan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi melakukan bunuh diri setelah melihat ayahnya dan rombongan pengiringnya tewas.Gajah Mada dianggap sebagai biang keladi kegagalan pernikahan Hayam Wuruk yang hingga berusia 23 tahun masih belum memiliki pendamping. Pejabat istana pun memerintahkan Gajah Mada untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Saat inilah, Gajah Mada sebagaimana digambarkan oleh sejarawan Prof Slamet Muljana pada bukunya &quot;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit&quot;, menunjukkan kesaktian luar biasa, yang bahkan tak dimiliki oleh Raja Hayam Wuruk.
Ketika pasukan Majapahit mengepung rumah Gajah Mada untuk mencarinya, mereka bersorak membuat sanak sang patih ketakutan tak berani keluar. Istri Gajah Mada Ken Bebed, yang gemetar mendengar kedatangan para tentara, meminta suaminya untuk menyerah saja.

BACA JUGA:
Kisah Pusat Kerajaan Majapahit Berada di Kecamatan Trowulan, Terdapat Puluhan Situs hingga Pemakaman

Saat bala tentara Majapahit berdesak-desak masuk halaman rumah. Mahapatih Gajah Mada yang telah bersiap menggunakan cawat celana geringsing, berselubung kain putih, bersabuk atmaraksi, berdiri di tengah halaman, bersemedi.
Seketika itu juga sang patih dengan jiwa raganya moksa ke Wisnuloka, kediaman yang konon ditepati Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Seisi rumah kepatihan dengan serta merta mencucurkan air mata menyaksikan kejadian itu.
Tentara Majapahit yang merangsek masuk ke rumah hanya menemukan Ken Bebed yang memegang keris terhunus, namun tak melihat keberadaan sang Mahapati. Setelah mencari di berbagai tempat tanpa hasil, mereka akhirnya menjarah rumah tersebut.



Bala Majapahit pun dikerahkan mencari Gajah mada menelusuri desa-desa yang telah moksa.&amp;nbsp;
Setelah suaminya moksa, Ken Bebed pun meninggalkan rumah mengembara mencari tempat bersembunyi jauh dari ibu kota Majapahit.
Konon, di tengah pengembaraannya Ken Bebed bertemu dengan seorang pria, yang sangat bagus rupanya seolah-olah titisan Dewa Asmara. Tingkah lakunya mirip sang suami Gajah Mada. Ken Bebed tak putus-putusnya bertanya kepada pria itu, siapa dia, dan dari mana asalnya.
Sang pria itu akhirnya mengaku dia berasal dari Majapahit dan sedang menelusur desa dan tempat-tempat sunyi untuk mencari maut. Ken Bebed mengenali pria itu sebagai suaminya yang telah moksa dan memeluknya, namun pria itu telah menghilang.
Setelah pertemuan itu, Ken Bebed pun segera berdandan, berlangir, bersisir, berkampuh lungsir putih, berselubung kain putih. Kemudian, dengan keris yang sudah terhunus dia menikam dadanya sendiri hingga tewas, mengikuti jejak sang suami.</content:encoded></item></channel></rss>
