<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Fakta Belanda Minta Maaf Atas Perbudakan di Indonesia, Tersulut Isu Black Lives Matter</title><description>Permohonan maaf ini didasari oleh fakta-fakta yang ditemukan tim research mengenai kekerasan yang dilakukan Belanda</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter"/><item><title>5 Fakta Belanda Minta Maaf Atas Perbudakan di Indonesia, Tersulut Isu Black Lives Matter</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter</guid><pubDate>Rabu 02 Agustus 2023 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter-x9PqeNtIpk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/02/337/2855882/5-fakta-belanda-minta-maaf-atas-perbudakan-di-indonesia-tersulut-isu-black-lives-matter-x9PqeNtIpk.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMS8xLzE2ODYyMS81L3g4bXhleWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bersamaan dengan pengembalian keris Pangeran Diponegoro Raja Belanda, Wilhelm-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada masa-masa akhir kependudukan Belanda di Indonesia.
Permohonan maaf ini didasari oleh fakta-fakta yang ditemukan tim research mengenai kekerasan yang dilakukan Belanda, yang kemudian oleh mereka disebut dengan excessive violence atau kekerasan yang eksesif.
Okezone merangkum 5 fakta Belanda minta maaf ke Indonesia atas perbudakaan selama penjajahan. Berikut ulasannya:
1. Belanda Bentuk Tim Kaji Kekerasan selama Penjajahan
Selain membentuk tim yang bertugas melakukan research mengenai kekerasan atau selama pendudukan Belanda di Indonesia, mereka juga membentuk tim lain yang bertugas untuk melakukan penelitian mengenai perbudakan yang dilakukan oleh Belanda di seluruh dunia.

BACA JUGA:
Malaysia Berpotensi Kehilangan Puluhan Poin, Timnas Indonesia Melesat ke Ranking 144 FIFA?

2. Permintaan Maaf Belanda Dipicu Isu Black Live Matter
Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa hal ini dipicu oleh isu Black Live Matter. Isu ini sendiri muncul setelah terjadinya kematian orang kulit hitam di Amerika oleh polisi kulit putih, kemudian memicu protes diseluruh dunia.

BACA JUGA:
Jadwal Wakil Indonesia di Australia Open 2023 Hari Kedua: 11 Pebulu Tangkis Siap Beraksi, Ada Jonatan Christie hingga Anthony Ginting!

3. Ditemukan Fakta Perbudakan dalam Isu Black Live Matter
Isu Black Live Matter ini melebar hingga pembahasan bagaimana awal mula orang-orang kulit hitam Amerika datang. Lalu ditemukan fakta bahwa kedatangan mereka merupakan hasil perbudakan yang terjadi pada masa lampau.Pada masa itu bahkan patung Colombus dimana-mana dipenggal kepalanya, sebab dianggap bertanggung jawab terhadap praktek perbudakan yang terjadi di seluruh dunia. Pada persoalan perbudakan ini rupanya Belanda juga ikut serta dalam praktek perbudakan sejak abad ke-17.
&amp;ldquo;Nah termasuk Belanda ini ikut serta di dalam praktek perbudakkan dunia ini sejak abad ke-17 itu dah terjadi perdagangan budak dari jalur Afrika Barat, Afrika Selatan, Timur, sampe India sampe Indonesia itu terlibat,&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).

BACA JUGA:
BWF Australia Open 2023 Segera Hadir, Ini Fakta Unik Venue State Sports Centre

4. Belanda Ikut Terlibat dalam Perbudakan
Margana juga menambahkan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan oleh tim research Insternational Instituut Voor Geschiendenis (IISG) menyatakan bahwa Belanda ikut terlibat dalam perbudakan yang sangat dikecam oleh masyarakat dunia.
5. Peniliti Sarankan Belanda Minta Maaf ke Pemerintah Indonesia
Para peneliti itu merekomendasikan agar pemerintah Belanda melakukan pernyataan resmi berupa permohonan maaf atas apa yang terjadi. Sehingga Perdana Menteri Belanda juga ikut meminta maaf atas keterlibatan Belanda dalam praktek perbudakan.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMS8xLzE2ODYyMS81L3g4bXhleWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bersamaan dengan pengembalian keris Pangeran Diponegoro Raja Belanda, Wilhelm-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada masa-masa akhir kependudukan Belanda di Indonesia.
Permohonan maaf ini didasari oleh fakta-fakta yang ditemukan tim research mengenai kekerasan yang dilakukan Belanda, yang kemudian oleh mereka disebut dengan excessive violence atau kekerasan yang eksesif.
Okezone merangkum 5 fakta Belanda minta maaf ke Indonesia atas perbudakaan selama penjajahan. Berikut ulasannya:
1. Belanda Bentuk Tim Kaji Kekerasan selama Penjajahan
Selain membentuk tim yang bertugas melakukan research mengenai kekerasan atau selama pendudukan Belanda di Indonesia, mereka juga membentuk tim lain yang bertugas untuk melakukan penelitian mengenai perbudakan yang dilakukan oleh Belanda di seluruh dunia.

BACA JUGA:
Malaysia Berpotensi Kehilangan Puluhan Poin, Timnas Indonesia Melesat ke Ranking 144 FIFA?

2. Permintaan Maaf Belanda Dipicu Isu Black Live Matter
Anggota Komite Repatriasi Benda Sejarah dan Budaya Indonesia, Dr. Sri Margana, M.Phil, menjelaskan bahwa hal ini dipicu oleh isu Black Live Matter. Isu ini sendiri muncul setelah terjadinya kematian orang kulit hitam di Amerika oleh polisi kulit putih, kemudian memicu protes diseluruh dunia.

BACA JUGA:
Jadwal Wakil Indonesia di Australia Open 2023 Hari Kedua: 11 Pebulu Tangkis Siap Beraksi, Ada Jonatan Christie hingga Anthony Ginting!

3. Ditemukan Fakta Perbudakan dalam Isu Black Live Matter
Isu Black Live Matter ini melebar hingga pembahasan bagaimana awal mula orang-orang kulit hitam Amerika datang. Lalu ditemukan fakta bahwa kedatangan mereka merupakan hasil perbudakan yang terjadi pada masa lampau.Pada masa itu bahkan patung Colombus dimana-mana dipenggal kepalanya, sebab dianggap bertanggung jawab terhadap praktek perbudakan yang terjadi di seluruh dunia. Pada persoalan perbudakan ini rupanya Belanda juga ikut serta dalam praktek perbudakan sejak abad ke-17.
&amp;ldquo;Nah termasuk Belanda ini ikut serta di dalam praktek perbudakkan dunia ini sejak abad ke-17 itu dah terjadi perdagangan budak dari jalur Afrika Barat, Afrika Selatan, Timur, sampe India sampe Indonesia itu terlibat,&amp;rdquo; Ujar Margana, dalam Special Dialogue Okezone, pada Selasa(1/8/2023).

BACA JUGA:
BWF Australia Open 2023 Segera Hadir, Ini Fakta Unik Venue State Sports Centre

4. Belanda Ikut Terlibat dalam Perbudakan
Margana juga menambahkan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan oleh tim research Insternational Instituut Voor Geschiendenis (IISG) menyatakan bahwa Belanda ikut terlibat dalam perbudakan yang sangat dikecam oleh masyarakat dunia.
5. Peniliti Sarankan Belanda Minta Maaf ke Pemerintah Indonesia
Para peneliti itu merekomendasikan agar pemerintah Belanda melakukan pernyataan resmi berupa permohonan maaf atas apa yang terjadi. Sehingga Perdana Menteri Belanda juga ikut meminta maaf atas keterlibatan Belanda dalam praktek perbudakan.

</content:encoded></item></channel></rss>
