<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Mencekam Penggali Jasad Pahlawan Revolusi G30S/PKI di Lubang Buaya, Ada yang Kesurupan dan Temukan Potongan Jari    </title><description>Cerita mencekam diutarakan salah satu penggali jasad pahlawan Revolusi G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari"/><item><title>Cerita Mencekam Penggali Jasad Pahlawan Revolusi G30S/PKI di Lubang Buaya, Ada yang Kesurupan dan Temukan Potongan Jari    </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari</guid><pubDate>Jum'at 04 Agustus 2023 06:00 WIB</pubDate><dc:creator>Furqon Al Fauzi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/03/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari-KV9tP1mAFC.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/03/337/2857183/cerita-mencekam-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-g30s-pki-di-lubang-buaya-ada-yang-kesurupan-dan-temukan-potongan-jari-KV9tP1mAFC.jpg</image><title></title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMC8wMi8xLzEwMzQ2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Cerita mencekam diutarakan salah satu penggali jasad pahlawan Revolusi G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta. Bahkan mereka menemuka beberapa barang aneh hingga potongan jari.

Seperti diketahui, Indonesia pernah diguncang peristiwa kelam yang dinamai Gerakan 30 September (G30S/PKI). Peristiwa tersebut berupa penculikan 6 perwira tinggi militer Indonesia dan 1 perwira pertama.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terbunuhnya DN Aidit, Gembong PKI yang Bertanggung Jawab atas G30S

Ketujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban antara lain, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.  Namun beberapa hari kemudian jasad para pahlawan revolusi tersebut pun ditemukan.

Delapan warga sekitar turut membantu menggali sumur Lubang Buaya tempat para Jenderal dikubur. Dikutip video yang diunggah oleh akun Kurator Museum di kanal YouTube, menampilkan wawancara salah satu penggali makam yang bernama Yusuf pada 1998.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Rumor Penculikan Istri Soekarno di Tengah Huru Hara G30S PKI

Pada kesempatan itu Yusuf bercerita bahwa saat menggali Lubang Buaya ia masih berusia 16 tahun. Cerita bermula ketika pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota keamanan masyarakat diminta seorang Lurah untuk membantu membetulkan jembatan.
Yusuf sama sekali tidak tahu jika bakal ikut membantu menggali mencari lubang para korban dikubur. Lantas dengan membawa cangkul, Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi.

Namun sesampainya di lokasi ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya juga sedang memacul.

BACA JUGA:
G30S Pecah, Jenderal Kopassus Ini Tidak Percaya Soeharto Masih Hidup&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Di situ saya lihat ada bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya datang sama Pane,&amp;rdquo; buka Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum.

Setelah menggali kebun bersama tujuh temannya, ditemukanlah sumur selebar 4 meter yang sebelumnya di tumpuk tanah dengan sengaja. Kemudian mereka diperintahkan tentara baret merah agar tetap terus menggali sumur itu. Sampai akhirnya mereka menggali dan menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, dan hijau.

&amp;ldquo;Terus ada serombongan datang bilang persisnya di sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau juga siapa,&amp;rdquo; Yusuf melanjutkan cerita.

Yusuf dan teman-temannya terus menggali sumur tersebut bahkan larut malam. Di antara mereka pun bahkan sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

&amp;ldquo;Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,&amp;rdquo; jelasnya.


Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi. Dan dari kejauhan mereka mengaku melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

&quot;Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,&amp;rdquo; kata Yusuf.

Para tentara akhirnya pergi meninggalkan daerah Lubang Buaya usai berhasil menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Prajurit Kopassus Hadapi Dukun Sakti Anggota G30S PKI yang Kebal Peluru

Bahkan sekitar jam 23.30 WIB atau stengah 12 malam salah satu kawannya menemukan potongan jari manusia. Kemudian melaporkan tentara terkait penemuan tersebut.

Baru pada pukul sekitar 00:30 WIB Yusuf dan kawan-kawannya dipersilahkan untuk beristirahat. Mereka dibawa ke sebuah rumah untuk diberikan makan dan kopi.

&amp;ldquo;Dikasih makan tapi nasi udah basi,&amp;rdquo; pungkas Yusuf. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa yang mereka gali adalah tempat pembuangan 7 pahlawan revolusi keganasan PKI.

Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, disaat salah satu dari teman Yusuf yakni Pane kesurupan dengan terus menangis.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMC8wMi8xLzEwMzQ2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Cerita mencekam diutarakan salah satu penggali jasad pahlawan Revolusi G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta. Bahkan mereka menemuka beberapa barang aneh hingga potongan jari.

Seperti diketahui, Indonesia pernah diguncang peristiwa kelam yang dinamai Gerakan 30 September (G30S/PKI). Peristiwa tersebut berupa penculikan 6 perwira tinggi militer Indonesia dan 1 perwira pertama.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terbunuhnya DN Aidit, Gembong PKI yang Bertanggung Jawab atas G30S

Ketujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban antara lain, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.  Namun beberapa hari kemudian jasad para pahlawan revolusi tersebut pun ditemukan.

Delapan warga sekitar turut membantu menggali sumur Lubang Buaya tempat para Jenderal dikubur. Dikutip video yang diunggah oleh akun Kurator Museum di kanal YouTube, menampilkan wawancara salah satu penggali makam yang bernama Yusuf pada 1998.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Rumor Penculikan Istri Soekarno di Tengah Huru Hara G30S PKI

Pada kesempatan itu Yusuf bercerita bahwa saat menggali Lubang Buaya ia masih berusia 16 tahun. Cerita bermula ketika pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota keamanan masyarakat diminta seorang Lurah untuk membantu membetulkan jembatan.
Yusuf sama sekali tidak tahu jika bakal ikut membantu menggali mencari lubang para korban dikubur. Lantas dengan membawa cangkul, Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi.

Namun sesampainya di lokasi ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya juga sedang memacul.

BACA JUGA:
G30S Pecah, Jenderal Kopassus Ini Tidak Percaya Soeharto Masih Hidup&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Di situ saya lihat ada bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya datang sama Pane,&amp;rdquo; buka Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum.

Setelah menggali kebun bersama tujuh temannya, ditemukanlah sumur selebar 4 meter yang sebelumnya di tumpuk tanah dengan sengaja. Kemudian mereka diperintahkan tentara baret merah agar tetap terus menggali sumur itu. Sampai akhirnya mereka menggali dan menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, dan hijau.

&amp;ldquo;Terus ada serombongan datang bilang persisnya di sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau juga siapa,&amp;rdquo; Yusuf melanjutkan cerita.

Yusuf dan teman-temannya terus menggali sumur tersebut bahkan larut malam. Di antara mereka pun bahkan sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

&amp;ldquo;Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,&amp;rdquo; jelasnya.


Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi. Dan dari kejauhan mereka mengaku melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

&quot;Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,&amp;rdquo; kata Yusuf.

Para tentara akhirnya pergi meninggalkan daerah Lubang Buaya usai berhasil menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Prajurit Kopassus Hadapi Dukun Sakti Anggota G30S PKI yang Kebal Peluru

Bahkan sekitar jam 23.30 WIB atau stengah 12 malam salah satu kawannya menemukan potongan jari manusia. Kemudian melaporkan tentara terkait penemuan tersebut.

Baru pada pukul sekitar 00:30 WIB Yusuf dan kawan-kawannya dipersilahkan untuk beristirahat. Mereka dibawa ke sebuah rumah untuk diberikan makan dan kopi.

&amp;ldquo;Dikasih makan tapi nasi udah basi,&amp;rdquo; pungkas Yusuf. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa yang mereka gali adalah tempat pembuangan 7 pahlawan revolusi keganasan PKI.

Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, disaat salah satu dari teman Yusuf yakni Pane kesurupan dengan terus menangis.</content:encoded></item></channel></rss>
