<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab Dimana Soeharto Saat Tragedi G30S/PKI Terjadi dan Tidak Jadi Target Pembunuhan</title><description>Dimana Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto saat tragedi G30S/PKI terjadi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan"/><item><title>Penyebab Dimana Soeharto Saat Tragedi G30S/PKI Terjadi dan Tidak Jadi Target Pembunuhan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/04/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan</guid><pubDate>Jum'at 04 Agustus 2023 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Furqon Al Fauzi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/03/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan-6kKwjYFkYK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dimana Soeharto saat tragedi G30S/PKI terjadi jadi tanda tanya</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/03/337/2857205/penyebab-dimana-soeharto-saat-tragedi-g30s-pki-terjadi-dan-tidak-jadi-target-pembunuhan-6kKwjYFkYK.jpg</image><title>Dimana Soeharto saat tragedi G30S/PKI terjadi jadi tanda tanya</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMC8wMi8xLzEwMzQ2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Keterlibatan Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto dalam tragedi G30S/PKI masih jadi perdebatan hingga saat ini. Bahkan tak sedikit yang ingin tahu dimana posisi Soeharto saat kejadian di malam 30 September 1965.

Seperti diketahui, sebanyak enam jenderal dan satu perwira TNI-AD gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI. Mereka dibunuh secara keji oleh orang-orang yang terlibat dalam G30S.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terbunuhnya DN Aidit, Gembong PKI yang Bertanggung Jawab atas G30S

Para korban disiksa, ditembak, lalu mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Keenam jenderal dan satu perwira TNI-AD itu yakni, Letnan Jenderal  Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Lettu Pierre Tendean merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Nahasnya ia menjadi korban salah sasaran. Sebab, pada 1 Oktober 1965, dini hari, Pierre Tendean disangka adalah Jenderal AH Nasution.

Jenderal AH Nasution salah satu jenderal yang menjadi target untuk dibunuh namun selamat berkat firasat dari sang istri. Dari sekian nama jenderal yang menjadi target pembunuhan dalam peristiwa G30S, tidak ada nama Soeharto di dalamnya.

Mayjen Soeharto sendiri saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad). Belakangan, polemik bermunculan. Soeharto disebut sebagai salah satu orang  yang diduga terlibat dalam peristiwa berdarah G30S/PKI.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Rumor Penculikan Istri Soekarno di Tengah Huru Hara G30S PKI

Polemik dugaan keterlibatan Soeharto dalam G30S tertulis dalam buku Abdul Latief yang berjudul Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto terlibat G30S. Dalam bukunya, Latief mengaku sempat datang dan bercerita ke Soeharto sebelum malam 30 September 1965. Latief bercerita soal rencana penculikan para Jenderal itu.

&quot;Pak, malam ini kami beberapa kompi pasukan akan bergerak untuk membawa para jenderal anggota Dewan (Revolusi) ke hadapan yang mulia presiden,&quot; kata Latief dalam buku Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto terlibat G30S.

Kolonel Abdul Latief merupakan salah satu saksi dalam peristiwa G30S. Ia disebut-sebut sebagai salah satu orang yang terlibat dalam pembantaian para jenderal. Latief terlibat dalam beberapa rapat sebelum malam berdarah 30 September 1965, terjadi.

Lantas, menjadi pertanyaan penting dimana Pak Harto (Soeharto) berada saat malam tragis 30 September 1965?




Terungkap, Soeharto berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Ia menemani anak bungsunya Hutomo Mandala Putra, atau yang karib disapa Tommy Soeharto, yang sedang dirawat di RSPAD, karena ketumpahan sup panas.

&quot;Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul sembilan malam saya bersama istri saya berada di Rumah Sakit Gatot Subroto. Kami menengok anak kami. Tommy, yang masih berumur empat tahun dirawat di sana karena tersiram sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana, maklumlah menjaga anak yang menjadi kesayangan semua,&quot; dikutip dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terseret G30S/PKI, Penjaga Terakhir Soekarno Dipenjara dan Dicopot dari Militer

Hal serupa juga diungkapkan Peneliti senior bidang Sejarah dan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam. Berdasarkan hasil penelitiannya, Asvi mengamini bahwa malam itu Soeharto berada di RSPAD Gatot Subroto.

&quot;Dia (Soeharto) kan di rumah sakit, karena anaknya itu Tommy dirawat disitu karena ketumpahan sop apa gitu. Dan dia di rumah sakit didatangi oleh Latief. Kalau itu kan sudah jelas,&quot; kata Asvi saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Lebih lanjut, Asvi mengaku belum mendapatkan bukti yang sahih terkait keberadaan Soeharto hingga 1 Oktober 1965, pagi hari.

&quot;Oh engga, kita engga tahu sampai pagi hari. Dia kan pulang ke rumahnya dan kabarnya itu mendapat informasi pertama dari tetangganya yang kemudian jadi menteri pendidikan, yang dari Mashuri, yang memberitahukan kok ada sesuatu, tembakan atau apa gitu,&quot; beber Asvi.

Berdasarkan buku berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H, tercatat bahwSoeharto sempat pulang ke rumahnya. Soeharto pulang sekira pukul 00.15 WIB.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

G30S Pecah, Jenderal Kopassus Ini Tidak Percaya Soeharto Masih Hidup&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief berjalan di depan zaal tempat Tomy dirawat,&quot; beber Soeharto dikutip dari buku yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.

&quot;Kira-kira pukul dua belas seperempat tengah malam saya disuruh oleh istri saya cepat pulang ke rumah di Jalan Haji Agus Salim karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu, yang baru setahun umurnya,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMC8wMi8xLzEwMzQ2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Keterlibatan Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto dalam tragedi G30S/PKI masih jadi perdebatan hingga saat ini. Bahkan tak sedikit yang ingin tahu dimana posisi Soeharto saat kejadian di malam 30 September 1965.

Seperti diketahui, sebanyak enam jenderal dan satu perwira TNI-AD gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI. Mereka dibunuh secara keji oleh orang-orang yang terlibat dalam G30S.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terbunuhnya DN Aidit, Gembong PKI yang Bertanggung Jawab atas G30S

Para korban disiksa, ditembak, lalu mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Keenam jenderal dan satu perwira TNI-AD itu yakni, Letnan Jenderal  Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Lettu Pierre Tendean merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Nahasnya ia menjadi korban salah sasaran. Sebab, pada 1 Oktober 1965, dini hari, Pierre Tendean disangka adalah Jenderal AH Nasution.

Jenderal AH Nasution salah satu jenderal yang menjadi target untuk dibunuh namun selamat berkat firasat dari sang istri. Dari sekian nama jenderal yang menjadi target pembunuhan dalam peristiwa G30S, tidak ada nama Soeharto di dalamnya.

Mayjen Soeharto sendiri saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad). Belakangan, polemik bermunculan. Soeharto disebut sebagai salah satu orang  yang diduga terlibat dalam peristiwa berdarah G30S/PKI.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Rumor Penculikan Istri Soekarno di Tengah Huru Hara G30S PKI

Polemik dugaan keterlibatan Soeharto dalam G30S tertulis dalam buku Abdul Latief yang berjudul Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto terlibat G30S. Dalam bukunya, Latief mengaku sempat datang dan bercerita ke Soeharto sebelum malam 30 September 1965. Latief bercerita soal rencana penculikan para Jenderal itu.

&quot;Pak, malam ini kami beberapa kompi pasukan akan bergerak untuk membawa para jenderal anggota Dewan (Revolusi) ke hadapan yang mulia presiden,&quot; kata Latief dalam buku Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto terlibat G30S.

Kolonel Abdul Latief merupakan salah satu saksi dalam peristiwa G30S. Ia disebut-sebut sebagai salah satu orang yang terlibat dalam pembantaian para jenderal. Latief terlibat dalam beberapa rapat sebelum malam berdarah 30 September 1965, terjadi.

Lantas, menjadi pertanyaan penting dimana Pak Harto (Soeharto) berada saat malam tragis 30 September 1965?




Terungkap, Soeharto berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Ia menemani anak bungsunya Hutomo Mandala Putra, atau yang karib disapa Tommy Soeharto, yang sedang dirawat di RSPAD, karena ketumpahan sup panas.

&quot;Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul sembilan malam saya bersama istri saya berada di Rumah Sakit Gatot Subroto. Kami menengok anak kami. Tommy, yang masih berumur empat tahun dirawat di sana karena tersiram sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana, maklumlah menjaga anak yang menjadi kesayangan semua,&quot; dikutip dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Terseret G30S/PKI, Penjaga Terakhir Soekarno Dipenjara dan Dicopot dari Militer

Hal serupa juga diungkapkan Peneliti senior bidang Sejarah dan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam. Berdasarkan hasil penelitiannya, Asvi mengamini bahwa malam itu Soeharto berada di RSPAD Gatot Subroto.

&quot;Dia (Soeharto) kan di rumah sakit, karena anaknya itu Tommy dirawat disitu karena ketumpahan sop apa gitu. Dan dia di rumah sakit didatangi oleh Latief. Kalau itu kan sudah jelas,&quot; kata Asvi saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Lebih lanjut, Asvi mengaku belum mendapatkan bukti yang sahih terkait keberadaan Soeharto hingga 1 Oktober 1965, pagi hari.

&quot;Oh engga, kita engga tahu sampai pagi hari. Dia kan pulang ke rumahnya dan kabarnya itu mendapat informasi pertama dari tetangganya yang kemudian jadi menteri pendidikan, yang dari Mashuri, yang memberitahukan kok ada sesuatu, tembakan atau apa gitu,&quot; beber Asvi.

Berdasarkan buku berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H, tercatat bahwSoeharto sempat pulang ke rumahnya. Soeharto pulang sekira pukul 00.15 WIB.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

G30S Pecah, Jenderal Kopassus Ini Tidak Percaya Soeharto Masih Hidup&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kol. Latief berjalan di depan zaal tempat Tomy dirawat,&quot; beber Soeharto dikutip dari buku yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.

&quot;Kira-kira pukul dua belas seperempat tengah malam saya disuruh oleh istri saya cepat pulang ke rumah di Jalan Haji Agus Salim karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu, yang baru setahun umurnya,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
