<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Soekarno-Hatta Gelar Rapat Gelap di Laweyan Solo</title><description>Rumah-rumah di kampung ini memiliki sentuhan arsitektur Eropa yang megah dan kokoh
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/11/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/11/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo"/><item><title>Kisah Soekarno-Hatta Gelar Rapat Gelap di Laweyan Solo</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/11/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/11/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo</guid><pubDate>Jum'at 11 Agustus 2023 08:15 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/10/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo-8N2MvAozVi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kampung Laweyan kerap jadi lokasi rapat gelap Soekarno-Hatta/Foto: Istimewa </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/10/337/2861871/kisah-soekarno-hatta-gelar-rapat-gelap-di-laweyan-solo-8N2MvAozVi.jpg</image><title>Kampung Laweyan kerap jadi lokasi rapat gelap Soekarno-Hatta/Foto: Istimewa </title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMS8xLzE2ODU3Ni81L3g4bXgyYmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kampung Laweyan Solo, Jawa Tengah, pernah menjadi kampung para saudagar batik di masa lalu. Rumah-rumah di kampung ini memiliki sentuhan arsitektur Eropa yang megah dan kokoh.

Selain rumah-rumah kuno milik para saudagar, banyak situs bersejarah yang ada di kampung Laweyan, seperti Museum Samanhudi. Samanhudi adalah salah satu tokoh pergerakan nasional. Tidak hanya menikmati sejarah dan kecantikan bangunannya saja.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Proklamasi Kemerdekaan Dibacakan Soekarno-Hatta, Hamengku Buwono IX Langsung Teringat Ramalan Jayabaya

Laweyan tidak hanya tempat belanja batik, tetapi sudah menjadi satu paket tempat wisata budaya di Solo. Maka di sana banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang asyik memilih batik atau sedang belajar membuat batik dari sang ahli.

Pada masa penjajahan, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak leluasa dilakukan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bom Atom Hantam Nagasaki, Soekarno Tagih Janji Jepang

&quot;Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi,&quot; kata warga Laweyan, Fadoli.


Sebelum batik cap hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. Banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah. Selain para buruh, kehadiran batik cap juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Cinta Fatmawati, Sempat Ragu Terima Soekarno Karena Sudah Beristri


Namun semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai. Namun itu masa lalu, sekarang degup jantung batik Laweyan mulai berdenyut kencang.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMS8xLzE2ODU3Ni81L3g4bXgyYmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kampung Laweyan Solo, Jawa Tengah, pernah menjadi kampung para saudagar batik di masa lalu. Rumah-rumah di kampung ini memiliki sentuhan arsitektur Eropa yang megah dan kokoh.

Selain rumah-rumah kuno milik para saudagar, banyak situs bersejarah yang ada di kampung Laweyan, seperti Museum Samanhudi. Samanhudi adalah salah satu tokoh pergerakan nasional. Tidak hanya menikmati sejarah dan kecantikan bangunannya saja.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Proklamasi Kemerdekaan Dibacakan Soekarno-Hatta, Hamengku Buwono IX Langsung Teringat Ramalan Jayabaya

Laweyan tidak hanya tempat belanja batik, tetapi sudah menjadi satu paket tempat wisata budaya di Solo. Maka di sana banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang asyik memilih batik atau sedang belajar membuat batik dari sang ahli.

Pada masa penjajahan, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak leluasa dilakukan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bom Atom Hantam Nagasaki, Soekarno Tagih Janji Jepang

&quot;Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi,&quot; kata warga Laweyan, Fadoli.


Sebelum batik cap hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. Banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah. Selain para buruh, kehadiran batik cap juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Cinta Fatmawati, Sempat Ragu Terima Soekarno Karena Sudah Beristri


Namun semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai. Namun itu masa lalu, sekarang degup jantung batik Laweyan mulai berdenyut kencang.</content:encoded></item></channel></rss>
