<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Demi Kesehatan, IDI Sarankan WFH Imbas Kualitas Udara di Jakarta Buruk</title><description>Kualitas udara di Jakarta kian memburuk belakangan ini. Kondisi tersebut bisa mengancam kesehatan warga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk"/><item><title>Demi Kesehatan, IDI Sarankan WFH Imbas Kualitas Udara di Jakarta Buruk</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk</guid><pubDate>Jum'at 11 Agustus 2023 15:41 WIB</pubDate><dc:creator>Melati Pratiwi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk-7JFHrV7oXc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi polusi udara (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/11/338/2862566/demi-kesehatan-idi-sarankan-wfh-imbas-kualitas-udara-di-jakarta-buruk-7JFHrV7oXc.jpg</image><title>Ilustrasi polusi udara (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kualitas udara di Jakarta kian memburuk belakangan ini. Kondisi tersebut bisa mengancam kesehatan warga. Ditambah cuaca terasa panas.

Pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, perlu mencari solusi yang serius mengatasi polusi udara yang terjadi di Jakarta.

&quot;Berkaitan dengan kualitas udara buruk dan cuaca panas yang terjadi, sudah saatnya kita mempertimbangkan berbagai solusi serius,&quot; kata Prof Zubairi melalui akun Twitter pribadinya dikutip, Jumat (11/8/2023).

BACA JUGA:
Penjelasan KLHK Terkait Kualitas Udara Jakarta Alami Peningkatan Emiten Polusi


Prof Zubairi menawarkan solusi demi kesehatan masyarakat, yakni adalah penyesuaian jam kerja menjadi empat hari dalam seminggu. Kemudian, ia mengusulkan untuk work from home (WFH) seperti saat pandemi Covid-19.

Dengan adanya WFH, kata Prof Zubairi, telah terbukti bisa membuat kualitas udara membaik.

&quot;Misalnya, dilakukan penyesuaian jam bekerja, yang mungkin bisa menerapkan sistem empat hari bekerja dalam seminggu,&quot; kata Prof Zubairi.

&quot;Saya setuju dengan usulan WFH yang sebelumnya pernah diterapkan saat pandemi Covid-19. Saat itu, kualitas kerja rasanya tetap bagus dan dilaporkan juga bahwa kualitas udara kita jadi membaik,&quot; sambungnya.

BACA JUGA:
Tangsel Jadi Wilayah dengan Polusi Udara Terburuk, Warga: Jadi Makin Sering Sakit


Kondisi udara di Jakarta dilaporkan membaik pada 2020 ketika pandemi melanda. Bahkan, peningkatan kualitas udara mencapai 50 persen dibandingkan 2019.



Selain bisa mengurangi polusi udara di Jakarta, penerapan empat hari kerja juga baik untuk pekerja. Hal ini pun sudah terbukti melalui penelitian.



&quot;Saya jadi berpikir bahwa kombinasi WFH dan penerapan empat hari bekerja dalam seminggu amat layak untuk dipertimbangkan,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Kualitas Udara Jakarta Semakin Buruk, KLHK Ungkap Opsi WFH untuk Pekerja




&amp;ldquo;Dalam suatu penelitian, penerapan empat hari bekerja justru menunjukkan adanya peningkatan produktivitas kerja, meningkatkan moral karyawan, hingga pengalaman kerja yang lebih baik. Ini kan positif,&quot; lanjutnya.




Prof Zubairi menambahkan, sistem empat hari kerja sudah diterapkan di beberapa negara. Salah satunya Jepang, Islandia hingga Jerman dengan tujuan mendukung kesehatan karyawan.







&quot;Sistem empat hari tersebut pun sudah diterapkan di Jepang sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan karyawan, waktu keluarga, dan kehidupan sosial. Selain Jepang ada Islandia, Selandia Baru, Belgia, dan Jerman,&quot; tuturnya.

BACA JUGA:
Pengamat Nilai 4 Kriteria Calon Pemimpin Idaman Jokowi Ada di Ganjar Pranowo&amp;nbsp; &amp;nbsp;








Kendati diakui Prof. Zubairi, sistem bekerja seperti ini mungkin tidak bisa diterapkan untuk semua bidang pekerjaan. Terutama di restoran atau rumah sakit. Namun, solusi gabungan antara WFH dan empat hari kerja untuk menangani polusi udara yang semakin memburuk patut dipertimbangkan di Indonesia.







&quot;Khususnya di kota-kota besar untuk tujuan yang juga besar: kesehatan karyawan, produktivitas, work-life balance, dan kualitas udara yang lebih baik,&quot; pungkasnya.



</description><content:encoded>JAKARTA - Kualitas udara di Jakarta kian memburuk belakangan ini. Kondisi tersebut bisa mengancam kesehatan warga. Ditambah cuaca terasa panas.

Pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, perlu mencari solusi yang serius mengatasi polusi udara yang terjadi di Jakarta.

&quot;Berkaitan dengan kualitas udara buruk dan cuaca panas yang terjadi, sudah saatnya kita mempertimbangkan berbagai solusi serius,&quot; kata Prof Zubairi melalui akun Twitter pribadinya dikutip, Jumat (11/8/2023).

BACA JUGA:
Penjelasan KLHK Terkait Kualitas Udara Jakarta Alami Peningkatan Emiten Polusi


Prof Zubairi menawarkan solusi demi kesehatan masyarakat, yakni adalah penyesuaian jam kerja menjadi empat hari dalam seminggu. Kemudian, ia mengusulkan untuk work from home (WFH) seperti saat pandemi Covid-19.

Dengan adanya WFH, kata Prof Zubairi, telah terbukti bisa membuat kualitas udara membaik.

&quot;Misalnya, dilakukan penyesuaian jam bekerja, yang mungkin bisa menerapkan sistem empat hari bekerja dalam seminggu,&quot; kata Prof Zubairi.

&quot;Saya setuju dengan usulan WFH yang sebelumnya pernah diterapkan saat pandemi Covid-19. Saat itu, kualitas kerja rasanya tetap bagus dan dilaporkan juga bahwa kualitas udara kita jadi membaik,&quot; sambungnya.

BACA JUGA:
Tangsel Jadi Wilayah dengan Polusi Udara Terburuk, Warga: Jadi Makin Sering Sakit


Kondisi udara di Jakarta dilaporkan membaik pada 2020 ketika pandemi melanda. Bahkan, peningkatan kualitas udara mencapai 50 persen dibandingkan 2019.



Selain bisa mengurangi polusi udara di Jakarta, penerapan empat hari kerja juga baik untuk pekerja. Hal ini pun sudah terbukti melalui penelitian.



&quot;Saya jadi berpikir bahwa kombinasi WFH dan penerapan empat hari bekerja dalam seminggu amat layak untuk dipertimbangkan,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Kualitas Udara Jakarta Semakin Buruk, KLHK Ungkap Opsi WFH untuk Pekerja




&amp;ldquo;Dalam suatu penelitian, penerapan empat hari bekerja justru menunjukkan adanya peningkatan produktivitas kerja, meningkatkan moral karyawan, hingga pengalaman kerja yang lebih baik. Ini kan positif,&quot; lanjutnya.




Prof Zubairi menambahkan, sistem empat hari kerja sudah diterapkan di beberapa negara. Salah satunya Jepang, Islandia hingga Jerman dengan tujuan mendukung kesehatan karyawan.







&quot;Sistem empat hari tersebut pun sudah diterapkan di Jepang sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan karyawan, waktu keluarga, dan kehidupan sosial. Selain Jepang ada Islandia, Selandia Baru, Belgia, dan Jerman,&quot; tuturnya.

BACA JUGA:
Pengamat Nilai 4 Kriteria Calon Pemimpin Idaman Jokowi Ada di Ganjar Pranowo&amp;nbsp; &amp;nbsp;








Kendati diakui Prof. Zubairi, sistem bekerja seperti ini mungkin tidak bisa diterapkan untuk semua bidang pekerjaan. Terutama di restoran atau rumah sakit. Namun, solusi gabungan antara WFH dan empat hari kerja untuk menangani polusi udara yang semakin memburuk patut dipertimbangkan di Indonesia.







&quot;Khususnya di kota-kota besar untuk tujuan yang juga besar: kesehatan karyawan, produktivitas, work-life balance, dan kualitas udara yang lebih baik,&quot; pungkasnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
