<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> BMKG Paparkan Pengaruh Buruknya Kualitas Udara di Jakarta   </title><description>BMKG memaparkan adanya faktor lain yang mempengaruhi buruknya kualitas udara di Ibukota DKI Jakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta"/><item><title> BMKG Paparkan Pengaruh Buruknya Kualitas Udara di Jakarta   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta</guid><pubDate>Sabtu 12 Agustus 2023 04:01 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Farhan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta-ATNfC5qapn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Polusi udara di Jakarta (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/12/337/2862884/bmkg-paparkan-pengaruh-buruknya-kualitas-udara-di-jakarta-ATNfC5qapn.jpg</image><title>Polusi udara di Jakarta (foto: dok Okezone)</title></images><description>

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan adanya faktor lain yang mempengaruhi buruknya kualitas udara di Ibukota DKI Jakarta. BMKG menilai faktor iklim kemarau menyebabkan sirkulasi udara tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Demikian disampaikan oleh Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan. Ardha mengatakan setiap musim kemarau, kualitas buruk pada udara cenderung mengalami kenaikan selayaknya tahun-tahun sebelumnya.

&quot;Hal lainnya yang juga menarik dan perlu dicermati bahwa kondisi kualitas udara itu ada siklus hariannya, pada saat lepas malam hari hingga dini hari cenderung lebih tinggi dari pada pagi hingga sore karena ada siklus harian,&quot; kata Ardha, Jumat (11/8/2023).

BACA JUGA:
 Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Pemprov DKI Galakkan Elektrifikasi Angkutan Umum&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Ardha mengungkapkan selain faktor iklim kemarau, kualitas udara buruk cenderung bertahan karena adanya lapisan inversi. Diketahui, lapisan inversi adalah lapisan atmosfer hangat yang berada di atas lapisan atmosfer yang dingin.

Sedangkan dalam kondisi normal, suhu atmosfer seharusnya turun bersama ketinggian, sehingga lapisan atmosfer yang dingin berada di atas lapisan atmosfer yang hangat.

&quot;Fenoma lain yang juga menarik karena kita juga di wilayah urban. Saat musim kemarau itu ada yang namanya fenomena lapisan inversi,&quot; terang Ardha.

BACA JUGA:
Pemprov DKI Bakal Godok Pergub Atasi Kualitas Udara Buruk
Oleh karena itu, Ardha menyebutkan faktor disversi terjadi akibat lapisan inversi yang marak muncul saat musim kemarau. Adapun yang dimaksud faktor dispersi adalah suatu proses pergerakan kontaminan melalui udara sehingga menyebarkannya ke area yang luas dan konsentrasi menjadi berkurang.



&quot;Jadi ketika pagi di bawah permukaan ini (dataran) lebih dingin daripada di atas (langit). Sehingga itu mencegah udara itu untuk naik dan kemudian terdispersi,&quot; jelas Ardha.



&quot;Itu penjelasan mengapa Jakarta kelihatan keruhnya di bawah dibandingkan di atas karena setting perkotaannya dimana kita hidup bersama,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan adanya faktor lain yang mempengaruhi buruknya kualitas udara di Ibukota DKI Jakarta. BMKG menilai faktor iklim kemarau menyebabkan sirkulasi udara tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Demikian disampaikan oleh Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan. Ardha mengatakan setiap musim kemarau, kualitas buruk pada udara cenderung mengalami kenaikan selayaknya tahun-tahun sebelumnya.

&quot;Hal lainnya yang juga menarik dan perlu dicermati bahwa kondisi kualitas udara itu ada siklus hariannya, pada saat lepas malam hari hingga dini hari cenderung lebih tinggi dari pada pagi hingga sore karena ada siklus harian,&quot; kata Ardha, Jumat (11/8/2023).

BACA JUGA:
 Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Pemprov DKI Galakkan Elektrifikasi Angkutan Umum&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Ardha mengungkapkan selain faktor iklim kemarau, kualitas udara buruk cenderung bertahan karena adanya lapisan inversi. Diketahui, lapisan inversi adalah lapisan atmosfer hangat yang berada di atas lapisan atmosfer yang dingin.

Sedangkan dalam kondisi normal, suhu atmosfer seharusnya turun bersama ketinggian, sehingga lapisan atmosfer yang dingin berada di atas lapisan atmosfer yang hangat.

&quot;Fenoma lain yang juga menarik karena kita juga di wilayah urban. Saat musim kemarau itu ada yang namanya fenomena lapisan inversi,&quot; terang Ardha.

BACA JUGA:
Pemprov DKI Bakal Godok Pergub Atasi Kualitas Udara Buruk
Oleh karena itu, Ardha menyebutkan faktor disversi terjadi akibat lapisan inversi yang marak muncul saat musim kemarau. Adapun yang dimaksud faktor dispersi adalah suatu proses pergerakan kontaminan melalui udara sehingga menyebarkannya ke area yang luas dan konsentrasi menjadi berkurang.



&quot;Jadi ketika pagi di bawah permukaan ini (dataran) lebih dingin daripada di atas (langit). Sehingga itu mencegah udara itu untuk naik dan kemudian terdispersi,&quot; jelas Ardha.



&quot;Itu penjelasan mengapa Jakarta kelihatan keruhnya di bawah dibandingkan di atas karena setting perkotaannya dimana kita hidup bersama,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
