<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Malang dalam Pusaran Kolonialisme Belanda, Jadi Area Strategis Pendulang Uang</title><description>Semasa penjajahan Belanda Malang memang menjadi salah satu pendulang pendapatan pemerintahan kolonial Belanda
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang"/><item><title>Malang dalam Pusaran Kolonialisme Belanda, Jadi Area Strategis Pendulang Uang</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang</guid><pubDate>Senin 14 Agustus 2023 05:35 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang-kkYm386jsE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi/Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/14/337/2863721/malang-dalam-pusaran-kolonialisme-belanda-jadi-area-strategis-pendulang-uang-kkYm386jsE.jpg</image><title>Ilustrasi/Foto: Istimewa</title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMS8yMC8xNjkwODUvNS94OG41ZmNt&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

MALANG - Belanda menganggap Malang menjadi daerah penting yang harus dikuasai kembali, pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Semasa penjajahan Belanda Malang memang menjadi salah satu pendulang pendapatan pemerintahan kolonial Belanda.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Reza Hudianto mengatakan, potensi kekayaan perkebunan dan sumber daya alamnya menjadikan Belanda selalu memprioritaskan Malang untuk dikuasai. Apalagi sejak sebelum bangunan di Bouwplan satu sampai delapan dicanangkan hampir sebagian besar Malang merupakan perkebunan tebu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menengok Bundaran Tugu Malang, Bangunan Ikonik Warisan Kolonial yang Kini Berubah Bentuk

&quot;Kota Malang memang kepemilikan tanahnya masih milik pabrik gula Rejoagung, sebagian milik rakyat. Mayoritas masih perkebunan,&quot; kata Reza Hudianto.

Tak ayal karena pentingnya Malang membuat pasukan Belanda menumpang sekutu, kembali berusaha menguasai Malang seusai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Salah satu tujuan yang direbut oleh pasukan Belanda adalah perkebunan, yang sebelumnya saat masa penjajahan menjadi penghasil pundi cuan bagi Belanda.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Penjajah Belanda Bantai Warga Kampung Gempol Bekasi

&quot;Sebenarnya agresi militer pertama yang dicari kan daerah - daerah perkebunan, itu kan daerah penghasil uang bagi mereka. Kalau mereka enggak segera mungkin merebut area perkebunan mereka enggak bisa membiayai mesin - mesin perang yang terlanjur datang ke sisi utara (Pantai Utara Jawa),&quot; terang dia.

Apalagi semasa penjajahan, Malang menjadi salah satu tangsi militer Belanda. Terlebih di Malang juga terdapat lapangan udara di Pakis yang kini bernama Bandara Abdul Rachman Saleh.

&quot;Malang dianggap punya tangsi militer, jadi dinggap cukup penting punya basis militernya Belanda. Kemudian beberapa pesawat yang landasan pesawat bisa keluar masuk ke luar negeri lewat Pakis, kemana-mana yang dikuasai lapangan udara,&quot; ungkap dia.



Maka ketika usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan arek-arek Malang berusaha membakar sejumlah bangunan yang dibangun Belanda. Bahkan disebutkan Reza, seluruh bangunan di Jalan Bromo habis dibakar. Hal ini agar Belanda tak bisa langsung menempati dan menguasai kembali bangunan - bangunan yang dibangunnya.



&quot;Kalau (jalan) Bromo hampir semua memang dihancurkan, di Jalan Bromo, balai kota habis (dibakar), Bank Indonesia habis (dibakar), semua bangunannya tidak ada yang asli, atapnya sudah dibangun baru,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMS8yMC8xNjkwODUvNS94OG41ZmNt&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

MALANG - Belanda menganggap Malang menjadi daerah penting yang harus dikuasai kembali, pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Semasa penjajahan Belanda Malang memang menjadi salah satu pendulang pendapatan pemerintahan kolonial Belanda.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Reza Hudianto mengatakan, potensi kekayaan perkebunan dan sumber daya alamnya menjadikan Belanda selalu memprioritaskan Malang untuk dikuasai. Apalagi sejak sebelum bangunan di Bouwplan satu sampai delapan dicanangkan hampir sebagian besar Malang merupakan perkebunan tebu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menengok Bundaran Tugu Malang, Bangunan Ikonik Warisan Kolonial yang Kini Berubah Bentuk

&quot;Kota Malang memang kepemilikan tanahnya masih milik pabrik gula Rejoagung, sebagian milik rakyat. Mayoritas masih perkebunan,&quot; kata Reza Hudianto.

Tak ayal karena pentingnya Malang membuat pasukan Belanda menumpang sekutu, kembali berusaha menguasai Malang seusai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Salah satu tujuan yang direbut oleh pasukan Belanda adalah perkebunan, yang sebelumnya saat masa penjajahan menjadi penghasil pundi cuan bagi Belanda.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Penjajah Belanda Bantai Warga Kampung Gempol Bekasi

&quot;Sebenarnya agresi militer pertama yang dicari kan daerah - daerah perkebunan, itu kan daerah penghasil uang bagi mereka. Kalau mereka enggak segera mungkin merebut area perkebunan mereka enggak bisa membiayai mesin - mesin perang yang terlanjur datang ke sisi utara (Pantai Utara Jawa),&quot; terang dia.

Apalagi semasa penjajahan, Malang menjadi salah satu tangsi militer Belanda. Terlebih di Malang juga terdapat lapangan udara di Pakis yang kini bernama Bandara Abdul Rachman Saleh.

&quot;Malang dianggap punya tangsi militer, jadi dinggap cukup penting punya basis militernya Belanda. Kemudian beberapa pesawat yang landasan pesawat bisa keluar masuk ke luar negeri lewat Pakis, kemana-mana yang dikuasai lapangan udara,&quot; ungkap dia.



Maka ketika usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan arek-arek Malang berusaha membakar sejumlah bangunan yang dibangun Belanda. Bahkan disebutkan Reza, seluruh bangunan di Jalan Bromo habis dibakar. Hal ini agar Belanda tak bisa langsung menempati dan menguasai kembali bangunan - bangunan yang dibangunnya.



&quot;Kalau (jalan) Bromo hampir semua memang dihancurkan, di Jalan Bromo, balai kota habis (dibakar), Bank Indonesia habis (dibakar), semua bangunannya tidak ada yang asli, atapnya sudah dibangun baru,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
