<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sjahrir Sempat Bertengkar dengan Bung Karno Jelang Proklamasi Kemerdekaan</title><description>Berita menyerahnya Jepang ini sampai kepada para tokoh pejuang, yang mendorong diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/15/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/15/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan"/><item><title>Kisah Sjahrir Sempat Bertengkar dengan Bung Karno Jelang Proklamasi Kemerdekaan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/15/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/15/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan</guid><pubDate>Selasa 15 Agustus 2023 05:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/14/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan-ViZW9pTdky.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sutan Sjahrir (Foto: dok istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/14/337/2864083/kisah-sjahrir-sempat-bertengkar-dengan-bung-karno-jelang-proklamasi-kemerdekaan-ViZW9pTdky.jpg</image><title>Sutan Sjahrir (Foto: dok istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNC8xLzE2OTIwNy81L3g4bjZ5amQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu menyusul dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Berita menyerahnya Jepang ini sampai kepada para tokoh pejuang, yang mendorong diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya tokoh yang pejuang yang ingin segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tersebut adalah Sutan Sjahrir. Tokoh kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat itu kerap memantau siaran radio dan telah mendengar berita kekalahan Jepang, dan dijatuhkannya bom atom pada 6 Agustus dan 9 Agustus 1945.
Menurut sejarawan Cirebon, Jawa Barat, Mustaqim Asteja, pada 14 Agustus 1945 Sjahrir menemui Soekarno dan mendesak agar Bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu juga. Namun, permintaan Sjahrir itu ditolak Bung Karno.
&quot;Sjahrir segera menemui Bung Karno meminta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi Soekarno malah menolak permintaan dari Sjahrir. Penolakan dari Soekarno membuat Sjahrir kecewa,&quot; jelas Mustaqim saat berbincang dengan Okezone.

BACA JUGA:
Jadwal Siaran Langsung El Clasico Barcelona U-19 vs Real Madrid U-19 di Final International Youth Championships 2023 Hari Ini, LIVE di iNews

Mustaqim mengatakan bahwa Sjahrir memiliki pandangannya sendiri terkait janji Jepang yang akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Dia menilai bahwa jika Indonesia menyatakan kemerdekaan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yang merupakan lembaga bentukkan Jepang, maka Sekutu akan menilai bahwa kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Jepang.

BACA JUGA:
Dapatkan Diskon LED Philips Terbaik hingga 61 Persen di AladinMall, Gratis Ongkir!

Sjahrir ingin agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat Indonesia.
&quot;PPKI sebagai badan bentukan Jepang yang bertugas menyiapkan kemerdekaan, tidak menunjukkan aktivitasnya akan berhenti bekerja. Sikap Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Sjahrir,&quot; tuturnya.Setelah permintaannya untuk memproklamasikan kemerdekaan ditolak Soekarno, Sjahrir menyiapkan gerakannya sendiri untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

&quot;Pada 15 Agustus 1945, setelah jam 5 sore, Sjahrir segera memerintahkan kepada para pemuda agar mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Domei (kantor berita Jepang) secepatnya melaksanakan instruksi tersebut. Namun, Sjahrir memahami gelagat Bung Karno yang tidak sepenuh hati menyiapkan Proklamasi,&quot; kata Mustaqim.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah David da Silva Menangis Usai Persib Bandung Dibantai Borneo FC

Sjahrir kemudian meminta dokter Soedarsono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi (sekarang menjadi RSUD Gunung Jati), agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Kota Cirebon.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Massimiliano Allegri Tinggalkan Juventus demi Tangani Timnas Italia?&amp;nbsp;

&quot;Para pemuda di Cirebon hari itu tanggal 15 Agustus 1945, di bawah pimpinan Dr. Soedarsono, mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri, di Alun-Alun Kejaksan,&quot; ujarnya.

Menurut Mustaqim, hingga kini isi teks proklamasi yang dibacakan di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon itu masih belum diketahui. Namun, beberapa sumber catatan sejarah local, serta sumber lisan tokoh Cirebon, diketahui bahwa wilayah Cirebon sudah merdeka lebih dahulu dibandingkan daerah lain di Indonesia.

&quot;Kita sepakat secara resmi jiwa dan semangat revolusi berkobar dari semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xNC8xLzE2OTIwNy81L3g4bjZ5amQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu menyusul dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Berita menyerahnya Jepang ini sampai kepada para tokoh pejuang, yang mendorong diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya tokoh yang pejuang yang ingin segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tersebut adalah Sutan Sjahrir. Tokoh kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat itu kerap memantau siaran radio dan telah mendengar berita kekalahan Jepang, dan dijatuhkannya bom atom pada 6 Agustus dan 9 Agustus 1945.
Menurut sejarawan Cirebon, Jawa Barat, Mustaqim Asteja, pada 14 Agustus 1945 Sjahrir menemui Soekarno dan mendesak agar Bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu juga. Namun, permintaan Sjahrir itu ditolak Bung Karno.
&quot;Sjahrir segera menemui Bung Karno meminta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi Soekarno malah menolak permintaan dari Sjahrir. Penolakan dari Soekarno membuat Sjahrir kecewa,&quot; jelas Mustaqim saat berbincang dengan Okezone.

BACA JUGA:
Jadwal Siaran Langsung El Clasico Barcelona U-19 vs Real Madrid U-19 di Final International Youth Championships 2023 Hari Ini, LIVE di iNews

Mustaqim mengatakan bahwa Sjahrir memiliki pandangannya sendiri terkait janji Jepang yang akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Dia menilai bahwa jika Indonesia menyatakan kemerdekaan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yang merupakan lembaga bentukkan Jepang, maka Sekutu akan menilai bahwa kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Jepang.

BACA JUGA:
Dapatkan Diskon LED Philips Terbaik hingga 61 Persen di AladinMall, Gratis Ongkir!

Sjahrir ingin agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat Indonesia.
&quot;PPKI sebagai badan bentukan Jepang yang bertugas menyiapkan kemerdekaan, tidak menunjukkan aktivitasnya akan berhenti bekerja. Sikap Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Sjahrir,&quot; tuturnya.Setelah permintaannya untuk memproklamasikan kemerdekaan ditolak Soekarno, Sjahrir menyiapkan gerakannya sendiri untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

&quot;Pada 15 Agustus 1945, setelah jam 5 sore, Sjahrir segera memerintahkan kepada para pemuda agar mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Domei (kantor berita Jepang) secepatnya melaksanakan instruksi tersebut. Namun, Sjahrir memahami gelagat Bung Karno yang tidak sepenuh hati menyiapkan Proklamasi,&quot; kata Mustaqim.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah David da Silva Menangis Usai Persib Bandung Dibantai Borneo FC

Sjahrir kemudian meminta dokter Soedarsono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi (sekarang menjadi RSUD Gunung Jati), agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Kota Cirebon.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Massimiliano Allegri Tinggalkan Juventus demi Tangani Timnas Italia?&amp;nbsp;

&quot;Para pemuda di Cirebon hari itu tanggal 15 Agustus 1945, di bawah pimpinan Dr. Soedarsono, mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri, di Alun-Alun Kejaksan,&quot; ujarnya.

Menurut Mustaqim, hingga kini isi teks proklamasi yang dibacakan di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon itu masih belum diketahui. Namun, beberapa sumber catatan sejarah local, serta sumber lisan tokoh Cirebon, diketahui bahwa wilayah Cirebon sudah merdeka lebih dahulu dibandingkan daerah lain di Indonesia.

&quot;Kita sepakat secara resmi jiwa dan semangat revolusi berkobar dari semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
