<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Nenek Paiat Berumur Hampir 100 Tahun, Koki Belanda yang Curi Senjata di Markas Penjajah</title><description>Setiap pagi Nenek Paiat mendapat tugas untuk belanja di pasar, dia juga rutin mencuri senjata api milik pasukan Belanda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah"/><item><title>Kisah Nenek Paiat Berumur Hampir 100 Tahun, Koki Belanda yang Curi Senjata di Markas Penjajah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah</guid><pubDate>Jum'at 18 Agustus 2023 09:07 WIB</pubDate><dc:creator>Mukhtar Bagus</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah-EmCji97TC5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nenek Paiat Kini Berbaring Tak Berdaya/Foto: MNC Media</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/18/337/2866513/kisah-nenek-paiat-berumur-hampir-100-tahun-koki-belanda-yang-curi-senjata-di-markas-penjajah-EmCji97TC5.jpg</image><title>Nenek Paiat Kini Berbaring Tak Berdaya/Foto: MNC Media</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xOC8xLzE2OTM2Mi81L3g4bmIyMXI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JOMBANG - Meski masa mudanya dihabiskan untuk berjuang, namun banyak dari para pejuang yang ternyata memilih hidup sederhana di masa tuanya. Di Desa Kepatihan, Jombang, Jawa Timur, seorang nenek mantan pejuang era penjajahan belanda kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya.
Di usianya yang sudah renta, Nenek Paiat sang wanita mantan pejuang itu kini harus hidup dalam gelap karena matanya sudah tidak bisa melihat.

BACA JUGA:
Kisah Tragis Pejuang Wanita Keturunan Tionghoa yang Jadi Gelandangan di Masa Tua

Saat masa mudanya, Nenek Paiat bukanlah wanita biasa. Dia merupakan salah satu dari sekian banyak pejuang yang dulu ikut mempertaruhkan nyawanya melawan penjajah belanda.
Bahkan tak hanya Paiat saja, suaminya yang bernama Saroni dulu juga merupakan pejuang yang ikut bergerilya dan bertempur langsung melawan penjajah Belanda, Jepang dan Inggris.
Namun sayangnya, setelah Indonesia merdeka, baik Kakek Saroni maupun Nenek Paiat tidak mendapat apapun dari negara.
Baru pada tahun 1990, Kakek Saroni  bertemu temannya sesama pejuang sehingga namanya didaftarkan ke TNI dan mendapat SK pensiun dengan pangkat terakhir Kopda (kopral dua).
Sepeninggal Kakek Saroni yang meninggal dunia, Nenek Paiat kini hanya tinggal bersama dua anak dan cucunya. Tubuhnya sudah renta dan matanya sudah tidak bisa melihat.

BACA JUGA:
Ziarah ke Makam Pejuang Kemerdekaan Mbah Dalhar, Ganjar Belajar Dedikasikan Hidup untuk Indonesia

&amp;ldquo;Semasa mudanya, ibu saya merupakan wanita yang pandai memasak sehingga dipekerjakan sebagai koki oleh Belanda,&amp;rdquo; ujar Suparmi, putri Nenek Paiat.
Setiap pagi Nenek Paiat mendapat tugas untuk belanja di pasar, dia juga rutin mencuri senjata api milik pasukan Belanda dan dimasukkannya ke dalam keranjang belanjaan yang dibawanya.
&amp;ldquo;Saat di pasar, ibu saya menjumpai gerilyawan dan rutin menyerahkan senjata-senjata hasil curiannya tersebut,&amp;rdquo; ujarnya.

Buah dari pekerjaannya yang sangat berbahaya itulah, banyak gerilyawan yang kemudian memiliki senjata api untuk dipakai menyerang Belanda.

Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 RI, perangkat desa kepatihan beramai-ramai mengunjungi Nenek Paiat. Mereka memberikan sejumlah bantuan kepada Nenek Paiat dan keluarganya.

Para perangkat desa itu merasa terharu dan bangga karena pelaku sejarah perjuangan merebut kemerdekaan yang sangat bersejarah itu ternyata masih ada di desa mereka</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xOC8xLzE2OTM2Mi81L3g4bmIyMXI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JOMBANG - Meski masa mudanya dihabiskan untuk berjuang, namun banyak dari para pejuang yang ternyata memilih hidup sederhana di masa tuanya. Di Desa Kepatihan, Jombang, Jawa Timur, seorang nenek mantan pejuang era penjajahan belanda kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya.
Di usianya yang sudah renta, Nenek Paiat sang wanita mantan pejuang itu kini harus hidup dalam gelap karena matanya sudah tidak bisa melihat.

BACA JUGA:
Kisah Tragis Pejuang Wanita Keturunan Tionghoa yang Jadi Gelandangan di Masa Tua

Saat masa mudanya, Nenek Paiat bukanlah wanita biasa. Dia merupakan salah satu dari sekian banyak pejuang yang dulu ikut mempertaruhkan nyawanya melawan penjajah belanda.
Bahkan tak hanya Paiat saja, suaminya yang bernama Saroni dulu juga merupakan pejuang yang ikut bergerilya dan bertempur langsung melawan penjajah Belanda, Jepang dan Inggris.
Namun sayangnya, setelah Indonesia merdeka, baik Kakek Saroni maupun Nenek Paiat tidak mendapat apapun dari negara.
Baru pada tahun 1990, Kakek Saroni  bertemu temannya sesama pejuang sehingga namanya didaftarkan ke TNI dan mendapat SK pensiun dengan pangkat terakhir Kopda (kopral dua).
Sepeninggal Kakek Saroni yang meninggal dunia, Nenek Paiat kini hanya tinggal bersama dua anak dan cucunya. Tubuhnya sudah renta dan matanya sudah tidak bisa melihat.

BACA JUGA:
Ziarah ke Makam Pejuang Kemerdekaan Mbah Dalhar, Ganjar Belajar Dedikasikan Hidup untuk Indonesia

&amp;ldquo;Semasa mudanya, ibu saya merupakan wanita yang pandai memasak sehingga dipekerjakan sebagai koki oleh Belanda,&amp;rdquo; ujar Suparmi, putri Nenek Paiat.
Setiap pagi Nenek Paiat mendapat tugas untuk belanja di pasar, dia juga rutin mencuri senjata api milik pasukan Belanda dan dimasukkannya ke dalam keranjang belanjaan yang dibawanya.
&amp;ldquo;Saat di pasar, ibu saya menjumpai gerilyawan dan rutin menyerahkan senjata-senjata hasil curiannya tersebut,&amp;rdquo; ujarnya.

Buah dari pekerjaannya yang sangat berbahaya itulah, banyak gerilyawan yang kemudian memiliki senjata api untuk dipakai menyerang Belanda.

Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 RI, perangkat desa kepatihan beramai-ramai mengunjungi Nenek Paiat. Mereka memberikan sejumlah bantuan kepada Nenek Paiat dan keluarganya.

Para perangkat desa itu merasa terharu dan bangga karena pelaku sejarah perjuangan merebut kemerdekaan yang sangat bersejarah itu ternyata masih ada di desa mereka</content:encoded></item></channel></rss>
