<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Stafsus BPIP :  Merawat Keberagaman dengan Menegakkan Kembali Nilai nilai Pancasila dalam Menghadapi Pemilu </title><description>Pemilu bukan lagi pertarungan ide namun pertarungan identitas, kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu"/><item><title>Stafsus BPIP :  Merawat Keberagaman dengan Menegakkan Kembali Nilai nilai Pancasila dalam Menghadapi Pemilu </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu</guid><pubDate>Minggu 20 Agustus 2023 20:21 WIB</pubDate><dc:creator>Fitria Dwi Astuti </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu-O5CVFAsfZG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo (Foto: Dok BPIP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/20/1/2867827/stafsus-bpip-merawat-keberagaman-dengan-menegakkan-kembali-nilai-nilai-pancasila-dalam-menghadapi-pemilu-O5CVFAsfZG.jpg</image><title>Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo (Foto: Dok BPIP)</title></images><description>Malang-   Sebagai Negara Demokrasi Pemilu merupakan suatu keniscayaan.   Namun dalam perayaan keberagaman pandangan politik tersebut masyarakat juga kembali  dihadapkan pada kenyataan munculnya kembali narasi perpecahan dan tantangan terhadap Kebhinekaan.  Kenyataan tersebut menyebabkan terjadinya dinamika demokrasi yang tidak baik dalam masyarakat. Pemilu bukan lagi pertarungan ide namun pertarungan identitas, kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah.
Fakta  tersebut juga diwarnai dengan perkembangan teknologi dimana Artificial Intelligence (AI) makin marak. Keberadaan AI tersebut memberi ruang dan makin mengembangkan potensi pembuatan berita bohong, realita yang berlebihan serta konten konten negatif  yang mengganggu esensi terselenggaranya demokrasi serta mengancam persatuan dalam keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Dengan latar belakang itu  Gerakan NKRI Sehat  bersama Unsur Pendidik dan Mahasiswa di Malang dan sekitarnya  mengadakan Diskusi Publik Bertajuk Merawat Keberagaman.  Dengan diskusi ini diharapkan  para peserta dalam menghadapi Pemilu sepenuhnya  sadar dan mengerti bahwa keberagaman bukan hanya merupakan keniscayaan namun merupakan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai Negara yang besar.
Oleh karena harus senantiasa dapat merawat keberagaman dan bijaksana dalam menggunakan Artificial Intelligence hingga tidak terjebak dalam narasi negatif, berita bohong dan realitas yang berlebihan.
Adapun diskusi digelar pada Sabtu 19  Agustus 2023 di Pusat Pengembangan Karir dan Alumni Universitas Brawijaya Malang.  Dalam kesempatan tersebut   dihadirkan staf khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Antonius Benny Susetyo sebagai Pembicara.

BACA JUGA:
HUT RI ke-78 di PLBN Nunukan, Wakil Kepala BPIP: Simbol Harmoni dan Kebersamaan di Perbatasan

Antonius Benny Susetyo dalam paparannya menyatakan bahwa Pemilu adalah bukti bahwa Demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak tiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Ia  menegaskan  setiap warga negara dipersilahkan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan memimpin  bangsa Indonesia.  Karena itu ungkap  dia  hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan.
Ia juga mengajak  untuk  memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak,  kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama  rakyat dan pemilih.
&amp;ldquo;Kita    harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang  menghormati  keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan. Kita harus meneliti dengan baik dan objektif mengenai siapa yang kita pilih terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan, bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk Politik Identitas. Suka atau tidak kita harus menyadari dalam era digital ini sifat buruk bangsa Indonesia benar benar tergali,&amp;rdquo; tuturnya pada acara yang dihadiri 50 orang tersebut.
Dia menambahkan kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis , mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa  lalu serta menjadi mereka yang bersumbu pendek. Mereka tanpa sadar  menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan Informasi tanpa menyaringnya. Ia mengharapkan setiap para peserta diskusi publik dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi dan agen pengedukasi dalam upaya  penjaga pemilu yang berkualitas.
Lebih lanjut Doktor Komunikasi Politik itu menyatakan bahwa para pemilih potensial adalah para milenial dan generasi Z yang mencakup 60 persen dari jumlah seluruh pemilih di Indonesia mereka dan segala keunikannya merupakan  potensi besar dalam Pemilu. Bukan hanya sekadar sebagai pemilih mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial mampu membuat konten konten segar yang suka atau tidak sangat efektif dalam penyampaian pesan dan informasi khususnya terkait pemilu.
&amp;ldquo;Pesta demokrasi harus merangkul dan membuat mereka mengerti bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas. Bermartabat berarti  mereka benar benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat,  dan terhormat memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan,&amp;rdquo; katanya.
Dalam kesempatan ini Benny  juga menyatakan bahwa para peserta Diskusi Publik ini diharapkan menjadi Agen Perubahan dalam upaya menggaungkan Pemilu Cerdas.  Di mana  dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya.
Para peserta Diskusi Publik ini dapat memulai dari keluarga dan komunitas untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih Pemimpin misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar benar didapatkan pemimpin yang benar benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.
Dalam pernyataan  penutupnya ia menyatakan  bahwa  demokrasi adalah suatu proses menjadi, oleh karena itu proses demokrasi adalah proses berkelanjutan yang mengoreksi hal hal yang salah dalam proses demokrasi tersebut.
Maka diperlukan kesadaran etis dari seluruh masyarakat  untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir,  bertindak dan bereaksi maka kita akan menjadi bangsa yang besar.  Waktunya seluruh warga Negara Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman dalam menghadapi Pesta Demokrasi dengan senantiasa menggaungkan bagaimana pemilu cerdas kepada masyarakat sekitar.
&amp;ldquo;Karena  pada akhirnya berkualitas atau tidaknya suatu Pemilihan Umum  tergantung kepada masyarakatnya. Jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas, karenanya kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis,&amp;rdquo; ucapnya.
Di akhir  paparan Benny juga  menyatakan  Pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita cita kemerdekaan. &amp;ldquo;Walau upaya tersebut tidak dapat diraih  dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas, &amp;ldquo; ujarnya.
</description><content:encoded>Malang-   Sebagai Negara Demokrasi Pemilu merupakan suatu keniscayaan.   Namun dalam perayaan keberagaman pandangan politik tersebut masyarakat juga kembali  dihadapkan pada kenyataan munculnya kembali narasi perpecahan dan tantangan terhadap Kebhinekaan.  Kenyataan tersebut menyebabkan terjadinya dinamika demokrasi yang tidak baik dalam masyarakat. Pemilu bukan lagi pertarungan ide namun pertarungan identitas, kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah.
Fakta  tersebut juga diwarnai dengan perkembangan teknologi dimana Artificial Intelligence (AI) makin marak. Keberadaan AI tersebut memberi ruang dan makin mengembangkan potensi pembuatan berita bohong, realita yang berlebihan serta konten konten negatif  yang mengganggu esensi terselenggaranya demokrasi serta mengancam persatuan dalam keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Dengan latar belakang itu  Gerakan NKRI Sehat  bersama Unsur Pendidik dan Mahasiswa di Malang dan sekitarnya  mengadakan Diskusi Publik Bertajuk Merawat Keberagaman.  Dengan diskusi ini diharapkan  para peserta dalam menghadapi Pemilu sepenuhnya  sadar dan mengerti bahwa keberagaman bukan hanya merupakan keniscayaan namun merupakan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai Negara yang besar.
Oleh karena harus senantiasa dapat merawat keberagaman dan bijaksana dalam menggunakan Artificial Intelligence hingga tidak terjebak dalam narasi negatif, berita bohong dan realitas yang berlebihan.
Adapun diskusi digelar pada Sabtu 19  Agustus 2023 di Pusat Pengembangan Karir dan Alumni Universitas Brawijaya Malang.  Dalam kesempatan tersebut   dihadirkan staf khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Dr. Antonius Benny Susetyo sebagai Pembicara.

BACA JUGA:
HUT RI ke-78 di PLBN Nunukan, Wakil Kepala BPIP: Simbol Harmoni dan Kebersamaan di Perbatasan

Antonius Benny Susetyo dalam paparannya menyatakan bahwa Pemilu adalah bukti bahwa Demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak tiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Ia  menegaskan  setiap warga negara dipersilahkan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan memimpin  bangsa Indonesia.  Karena itu ungkap  dia  hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan.
Ia juga mengajak  untuk  memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak,  kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama  rakyat dan pemilih.
&amp;ldquo;Kita    harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang  menghormati  keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan. Kita harus meneliti dengan baik dan objektif mengenai siapa yang kita pilih terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan, bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk Politik Identitas. Suka atau tidak kita harus menyadari dalam era digital ini sifat buruk bangsa Indonesia benar benar tergali,&amp;rdquo; tuturnya pada acara yang dihadiri 50 orang tersebut.
Dia menambahkan kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis , mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa  lalu serta menjadi mereka yang bersumbu pendek. Mereka tanpa sadar  menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan Informasi tanpa menyaringnya. Ia mengharapkan setiap para peserta diskusi publik dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi dan agen pengedukasi dalam upaya  penjaga pemilu yang berkualitas.
Lebih lanjut Doktor Komunikasi Politik itu menyatakan bahwa para pemilih potensial adalah para milenial dan generasi Z yang mencakup 60 persen dari jumlah seluruh pemilih di Indonesia mereka dan segala keunikannya merupakan  potensi besar dalam Pemilu. Bukan hanya sekadar sebagai pemilih mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial mampu membuat konten konten segar yang suka atau tidak sangat efektif dalam penyampaian pesan dan informasi khususnya terkait pemilu.
&amp;ldquo;Pesta demokrasi harus merangkul dan membuat mereka mengerti bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas. Bermartabat berarti  mereka benar benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat,  dan terhormat memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan,&amp;rdquo; katanya.
Dalam kesempatan ini Benny  juga menyatakan bahwa para peserta Diskusi Publik ini diharapkan menjadi Agen Perubahan dalam upaya menggaungkan Pemilu Cerdas.  Di mana  dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya.
Para peserta Diskusi Publik ini dapat memulai dari keluarga dan komunitas untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih Pemimpin misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar benar didapatkan pemimpin yang benar benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.
Dalam pernyataan  penutupnya ia menyatakan  bahwa  demokrasi adalah suatu proses menjadi, oleh karena itu proses demokrasi adalah proses berkelanjutan yang mengoreksi hal hal yang salah dalam proses demokrasi tersebut.
Maka diperlukan kesadaran etis dari seluruh masyarakat  untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir,  bertindak dan bereaksi maka kita akan menjadi bangsa yang besar.  Waktunya seluruh warga Negara Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman dalam menghadapi Pesta Demokrasi dengan senantiasa menggaungkan bagaimana pemilu cerdas kepada masyarakat sekitar.
&amp;ldquo;Karena  pada akhirnya berkualitas atau tidaknya suatu Pemilihan Umum  tergantung kepada masyarakatnya. Jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas, karenanya kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis,&amp;rdquo; ucapnya.
Di akhir  paparan Benny juga  menyatakan  Pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita cita kemerdekaan. &amp;ldquo;Walau upaya tersebut tidak dapat diraih  dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas, &amp;ldquo; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
