<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Renungan Presiden Soekarno di Bawah Pohon Sukun Lahirkan Butir-butir Pancasila   </title><description>Presiden Pertama Indonesia Soekarno menemukan butir-butir Pancasila di bawah pohon sukun&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/22/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/22/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila"/><item><title> Renungan Presiden Soekarno di Bawah Pohon Sukun Lahirkan Butir-butir Pancasila   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/22/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/22/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila</guid><pubDate>Selasa 22 Agustus 2023 07:07 WIB</pubDate><dc:creator>Awaludin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/21/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila-g4dtK3H1W8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pohon Soekarno di Kota Ende (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/21/337/2868463/renungan-presiden-soekarno-di-bawah-pohon-sukun-lahirkan-butir-butir-pancasila-g4dtK3H1W8.jpg</image><title>Pohon Soekarno di Kota Ende (foto: dok Okezone)</title></images><description>SIAPA SANGKA! ternyata Presiden Pertama Indonesia Soekarno menemukan butir-butir Pancasila di bawah pohon sukun, tepatnya di Kota Ende, Kelurahan Kotaraja, Ende Utara yang kini telah menjadi taman Soekarno itu.

Di tengah pengasingan selama empat tahunnya di kabupaten dengan luas 2.046,6 km persegi itulah Pancasila ditemukan. Kisah pengasingan Soekarno bermula pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Kehidupan Soekarno dan keluarga di Ende serba sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik seperti di kota besar.

Penjajah Belanda saat itu memang telah merencanakan membuang Soekarno ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah agar terputus hubungan Soekarno dengan para loyalisnya. Dalam buku &quot;Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara&quot;, di pengasingan atau pembuangan itu, malah membuat Soekarno lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor di Ende.

BACA JUGA:
Alasan Bung Karno Memilih Tanggal 17 Agustus untuk Proklamasi Kemerdekaan RI

Tak banyak yang bisa dilakukan Bung Karno di tempat pengasingan yang begitu jauh dari ibu kota itu. Saban hari, Soekarno hanya berkebun dan membaca termasuk juga memunculkan kembali jiwa seninya mulai dengan melukis hinggga menulis naskah drama pementasan.

Soekarno juga dikisahkan terus mengirim surat dengan seorang tokoh Islam di Bandung bernama TA Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan Pemuka Agama Katolik seorang pastor bernama Pater Huijtink. Aktivitas inilah lalu disebut menjadikan Soekarno lebih religius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Dia pun selalu berkontemplasi dan satu-satunya tempat favoritnya adalah Pohon Sukun itu yang saat ini disebut sebagai Pohon Pancasila. Pohon sukun itu letaknya di tengah Kota Ende dan berjarak sekitar 700 meter dari rumah kediamannya. Pohon ini juga berada persis menghadap ke Pantai Ende. Di tempat itulah, Soekarno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

BACA JUGA:
Penyakit Apa yang Diderita Bung Karno Saat Bacakan Proklamasi Kemerdekaan? Intip Faktanya

Pada 1970 setelah sekian lama hidup, pohon sukun yang menjadi pohon inspirasi Soekarno menemukan Pancasila itu mati seturut usianya. Kemudian Pemerinitah Kabupaten Ende menggantinya dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama dan saat ini disebut sebagai Pohon Pancasila dan dibangun Taman Soekarno. Tak sekadar pohon dan taman, Pancasila harus dihayati di tengah kehidupan nyata masyarakat.

</description><content:encoded>SIAPA SANGKA! ternyata Presiden Pertama Indonesia Soekarno menemukan butir-butir Pancasila di bawah pohon sukun, tepatnya di Kota Ende, Kelurahan Kotaraja, Ende Utara yang kini telah menjadi taman Soekarno itu.

Di tengah pengasingan selama empat tahunnya di kabupaten dengan luas 2.046,6 km persegi itulah Pancasila ditemukan. Kisah pengasingan Soekarno bermula pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Kehidupan Soekarno dan keluarga di Ende serba sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik seperti di kota besar.

Penjajah Belanda saat itu memang telah merencanakan membuang Soekarno ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah agar terputus hubungan Soekarno dengan para loyalisnya. Dalam buku &quot;Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara&quot;, di pengasingan atau pembuangan itu, malah membuat Soekarno lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor di Ende.

BACA JUGA:
Alasan Bung Karno Memilih Tanggal 17 Agustus untuk Proklamasi Kemerdekaan RI

Tak banyak yang bisa dilakukan Bung Karno di tempat pengasingan yang begitu jauh dari ibu kota itu. Saban hari, Soekarno hanya berkebun dan membaca termasuk juga memunculkan kembali jiwa seninya mulai dengan melukis hinggga menulis naskah drama pementasan.

Soekarno juga dikisahkan terus mengirim surat dengan seorang tokoh Islam di Bandung bernama TA Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan Pemuka Agama Katolik seorang pastor bernama Pater Huijtink. Aktivitas inilah lalu disebut menjadikan Soekarno lebih religius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Dia pun selalu berkontemplasi dan satu-satunya tempat favoritnya adalah Pohon Sukun itu yang saat ini disebut sebagai Pohon Pancasila. Pohon sukun itu letaknya di tengah Kota Ende dan berjarak sekitar 700 meter dari rumah kediamannya. Pohon ini juga berada persis menghadap ke Pantai Ende. Di tempat itulah, Soekarno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

BACA JUGA:
Penyakit Apa yang Diderita Bung Karno Saat Bacakan Proklamasi Kemerdekaan? Intip Faktanya

Pada 1970 setelah sekian lama hidup, pohon sukun yang menjadi pohon inspirasi Soekarno menemukan Pancasila itu mati seturut usianya. Kemudian Pemerinitah Kabupaten Ende menggantinya dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama dan saat ini disebut sebagai Pohon Pancasila dan dibangun Taman Soekarno. Tak sekadar pohon dan taman, Pancasila harus dihayati di tengah kehidupan nyata masyarakat.

</content:encoded></item></channel></rss>
