<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Densus 88: Ribuan Orang Gabung ISIS karena Pengaruh Medsos</title><description>Kondisi itu, kata dia, berbanding terbalik dengan periode pasca Tahun 2010.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos"/><item><title>Densus 88: Ribuan Orang Gabung ISIS karena Pengaruh Medsos</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos</guid><pubDate>Kamis 24 Agustus 2023 18:57 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos-CoxWqc4rpP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Densus 88 Sebut Riuan Orang Gabung ISIS/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/24/337/2870574/densus-88-ribuan-orang-gabung-isis-karena-pengaruh-medsos-CoxWqc4rpP.jpg</image><title>Densus 88 Sebut Riuan Orang Gabung ISIS/Foto: Okezone</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengatakan,  media sosial saat ini dapat dijadikan wadah untuk menyebarkan paham-paham radikal dan terorisme di masyarakat.
Kepala Densus 88 AT Polri Irjen Mathinus Hukom menjelaskan, perkembangan jaringan teror baik di Indonesia maupun luar negeri meningkat secara signifikan akibat kemajuan teknologi dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA:
Ditangkap Densus 88, Pembuat Senpi Ilegal Baru Tinggal 2 Hari di Cipacing

Dia mencontohkan, selama periode tahun 1980-2000, ketika era digital dan media sosial masih belum memenuhi ruang publik penyebaran paham radikal serta terorisme di masyarakat masih terbatas.
&quot;Contohnya fenomena Al Jamaah Al Islamiyah dan Al Qaeda di Afganistan. Selama 20 tahun hampir 30 tahun hanya menyerap simpatisan dari Indonesia tidak lebih dari 300 orang,&quot; kata Mathinus dalam dialog Strategi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme, Kamis (24/8/2023).

BACA JUGA:
Penampakan Lukman Usai Ditembak KKB Teroris di Kepala, Bisa Berjalan dan Kondisinya Stabil

Dalam hal ini, kata Mathinus, rendahnya pengaruh radikal dan teroris saat itu dikarenakan metode penyebarannya masih dilakukan secara konvensional melalui pengajian, buku, hingga pamflet semata.
Kondisi itu, kata dia, berbanding terbalik dengan periode pasca Tahun 2010 ketika era digital dan media sosial sudah berkembang aktif. Ia menyebut jumlah masyarakat Indonesia yang menjadi simpatisan ISIS meningkat hingga mencapai 1.000 orang.

&quot;Ketika media sosial mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, hanya dalam kurun waktu kurang lebih 3 sampai 5 tahun, lebih dari 1.000 orang warga kita yang pergi ke ISIS,&quot; ujarnya.

Sekadar diketahui, salah satu usulan deklarasi Indonesia terkait isu penindakan kejahatan lintas-negara atau Transnational Crime terorisme telah disetujui oleh seluruh negara ASEAN.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMC80LzE2OTQ1My81L3g4bmNrY2M=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengatakan,  media sosial saat ini dapat dijadikan wadah untuk menyebarkan paham-paham radikal dan terorisme di masyarakat.
Kepala Densus 88 AT Polri Irjen Mathinus Hukom menjelaskan, perkembangan jaringan teror baik di Indonesia maupun luar negeri meningkat secara signifikan akibat kemajuan teknologi dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA:
Ditangkap Densus 88, Pembuat Senpi Ilegal Baru Tinggal 2 Hari di Cipacing

Dia mencontohkan, selama periode tahun 1980-2000, ketika era digital dan media sosial masih belum memenuhi ruang publik penyebaran paham radikal serta terorisme di masyarakat masih terbatas.
&quot;Contohnya fenomena Al Jamaah Al Islamiyah dan Al Qaeda di Afganistan. Selama 20 tahun hampir 30 tahun hanya menyerap simpatisan dari Indonesia tidak lebih dari 300 orang,&quot; kata Mathinus dalam dialog Strategi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme, Kamis (24/8/2023).

BACA JUGA:
Penampakan Lukman Usai Ditembak KKB Teroris di Kepala, Bisa Berjalan dan Kondisinya Stabil

Dalam hal ini, kata Mathinus, rendahnya pengaruh radikal dan teroris saat itu dikarenakan metode penyebarannya masih dilakukan secara konvensional melalui pengajian, buku, hingga pamflet semata.
Kondisi itu, kata dia, berbanding terbalik dengan periode pasca Tahun 2010 ketika era digital dan media sosial sudah berkembang aktif. Ia menyebut jumlah masyarakat Indonesia yang menjadi simpatisan ISIS meningkat hingga mencapai 1.000 orang.

&quot;Ketika media sosial mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, hanya dalam kurun waktu kurang lebih 3 sampai 5 tahun, lebih dari 1.000 orang warga kita yang pergi ke ISIS,&quot; ujarnya.

Sekadar diketahui, salah satu usulan deklarasi Indonesia terkait isu penindakan kejahatan lintas-negara atau Transnational Crime terorisme telah disetujui oleh seluruh negara ASEAN.</content:encoded></item></channel></rss>
