<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sosok Jenderal Tampan, Peredam Kerusuhan Mei 98 yang Bersejarah</title><description>Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/29/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/08/29/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah"/><item><title>Sosok Jenderal Tampan, Peredam Kerusuhan Mei 98 yang Bersejarah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/08/29/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/08/29/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah</guid><pubDate>Selasa 29 Agustus 2023 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/28/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah-QZ81cVvSA3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sjafrie Sjamsoeddin (Foto: @sjafriesjams)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/28/337/2872836/sosok-jenderal-tampan-peredam-kerusuhan-mei-98-yang-bersejarah-QZ81cVvSA3.jpg</image><title>Sjafrie Sjamsoeddin (Foto: @sjafriesjams)</title></images><description>JAKARTA - Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998. Presiden yang menjabat selama 32 tahun itu turun tahta menyusul aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat.
Aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan di sejumlah daerah khususnya di Ibu Kota Jakarta. Menukil Sindonews, kerusuhan berawal saat para mahasiswa tengah mengenang empat mahasiswa Trisakti yang gugur ditembak pada 12 Mei 1998.

BACA JUGA:
Mengenal 9 Wanita Cantik yang Bikin Soekarno Luluh, Nomor 6 Keturunan Jepang

Keempat mahasiswa itu Hery Hartanto, Hafidhin Alifidin Royan, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie di Kampus Trisakti. Kematian mereka memicu kemarahan rakyat.
Prosesi mengenang gugurnya empat mahasiswa di Kampus Trisakti, di Kawasan Grogol, Jakarta Barat pada 13 Mei yang bermula berlangsung damai tiba-tiba berubah memanas menjelang siang. Tiba-tiba kerusuhan pecah.

BACA JUGA:
Kisah Paspampres Nyaris Baku Tembak dengan Pasukan Terbaik Dunia, Demi Selamatkan Soeharto

Aksi kian mencekam karena sejumlah pertokoan menjadi sasaran kemarahan. Aksi penjarahan dan pembakaran terus terjadi hingga tengah malam.Mayjen TNI Sjafrie Syamsudin yang ketika itu menjabat Pangdam Jaya langsung mengambil tindakan cepat dan tegas. Ia langsung mengerahkan pasukannya untuk mengendalikan situasi di Ibu Kota yang kacau balau.
Puluhan tentara yang menaiki panser turun membubarkan kerumunan massa yang tengah melakukan penjarahan menjelang tengah malam. Langkah yang diambil Jenderal Kopassus itu terbukti berhasil karena mampu meredam kerusuhan sehingga tidak semakin meluas dan berlarut.

BACA JUGA:
Kisah Soekarno Dipilih Jadi Presiden, Pulang Jalan Kaki dan Beli 50 Tusuk Sate

Jenderal berwajah tampan dengan gaya bicaranya yang luwes dan lemah lembut untuk ukuran seorang tentara ini pun mengembalikan stabilitas keamanan di Ibu Kota. Bahkan, untuk memastikan kondusivitas, ia berkeliling Jakarta dengan mengendarai kendaraan tempur.
&quot;Sebagai orang yang yang dianggap dekat dengan Presiden Soeharto, mungkin seharusnya setelah 1998 Pak Sjafrie bisa mengalami karier yang lebih tinggi lagi. Tapi itu risiko, sejak awal kita telah diingatkan oleh senior-senior bahwa semua jabatan di tentara Kolonel ke atas adalah jabatan politis. Sesudah Kolonel yang semua tergantung politik. Nasib kalian belum tentu sama dengan profesionalisme,&amp;rdquo; kata Prabowo Subianto dalam buku biografinya berjudul &amp;ldquo;Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI Purn Prabowo Subianto.

BACA JUGA:
 Renungan Presiden Soekarno di Bawah Pohon Sukun Lahirkan Butir-butir Pancasila&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sjafrie Sjamsoeddin merupakan pria kelahiran Ujungpandang, Sulawesi Selatan pada 30 Oktober 1952. Ia abituren Akademi Militer (Akmil) 1974.
Ayahnya Sjamsuddin pernah menjadi Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Makassar. Selepas lulus Akmil pada 1974 dia langsung bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

BACA JUGA:
Di Mana Soeharto saat Soekarno Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia?&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Berbagai posisi strategis pernah diemban, seperti Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Pada 1995-1996, Sjafrie memegang jabatan teritorial sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 061/Suryakencana, Bogor.Kariernya terbilang cepat bersinar di angkatannya. Setahun kemudian pada 1996, Sjafrie Kasgartap-1 Ibu Kota, di tahun yang sama dia diangkat menjadi Kasdam Jaya. Rekan seangkatan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di Akmil ini lahir dan dibesarkan di lingkungan militer.
Sjafrie tak lama setelah Prabowo diangkat menjadi Danjen Kopassus, dilantik menjadi Panglima Kodam Jaya menggantikan Mayjen TNI Sutiyoso yang diangkat menjadi Gubernur DKI.

BACA JUGA:
Asal Usul Nama Pegangsaan, Lokasi Soekarno-Hatta Proklamasikan Kemerdekaan RI

Meski tergolong perwira yang cerdas, Sjafrie juga mengikuti sejumlah kursus dan pelatihan di antaranya Kursus Dasar Kecabangan, Para Komando, Kursus Perwira Intel, Jump Master, Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad), Airbone and Path Finder, Freefall, Kursus Lanjutan Infanteri, Terrorism in Low Intensity Conflict, Kursus Perwira Intelijen dan Strategi.

</description><content:encoded>JAKARTA - Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998. Presiden yang menjabat selama 32 tahun itu turun tahta menyusul aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat.
Aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan di sejumlah daerah khususnya di Ibu Kota Jakarta. Menukil Sindonews, kerusuhan berawal saat para mahasiswa tengah mengenang empat mahasiswa Trisakti yang gugur ditembak pada 12 Mei 1998.

BACA JUGA:
Mengenal 9 Wanita Cantik yang Bikin Soekarno Luluh, Nomor 6 Keturunan Jepang

Keempat mahasiswa itu Hery Hartanto, Hafidhin Alifidin Royan, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie di Kampus Trisakti. Kematian mereka memicu kemarahan rakyat.
Prosesi mengenang gugurnya empat mahasiswa di Kampus Trisakti, di Kawasan Grogol, Jakarta Barat pada 13 Mei yang bermula berlangsung damai tiba-tiba berubah memanas menjelang siang. Tiba-tiba kerusuhan pecah.

BACA JUGA:
Kisah Paspampres Nyaris Baku Tembak dengan Pasukan Terbaik Dunia, Demi Selamatkan Soeharto

Aksi kian mencekam karena sejumlah pertokoan menjadi sasaran kemarahan. Aksi penjarahan dan pembakaran terus terjadi hingga tengah malam.Mayjen TNI Sjafrie Syamsudin yang ketika itu menjabat Pangdam Jaya langsung mengambil tindakan cepat dan tegas. Ia langsung mengerahkan pasukannya untuk mengendalikan situasi di Ibu Kota yang kacau balau.
Puluhan tentara yang menaiki panser turun membubarkan kerumunan massa yang tengah melakukan penjarahan menjelang tengah malam. Langkah yang diambil Jenderal Kopassus itu terbukti berhasil karena mampu meredam kerusuhan sehingga tidak semakin meluas dan berlarut.

BACA JUGA:
Kisah Soekarno Dipilih Jadi Presiden, Pulang Jalan Kaki dan Beli 50 Tusuk Sate

Jenderal berwajah tampan dengan gaya bicaranya yang luwes dan lemah lembut untuk ukuran seorang tentara ini pun mengembalikan stabilitas keamanan di Ibu Kota. Bahkan, untuk memastikan kondusivitas, ia berkeliling Jakarta dengan mengendarai kendaraan tempur.
&quot;Sebagai orang yang yang dianggap dekat dengan Presiden Soeharto, mungkin seharusnya setelah 1998 Pak Sjafrie bisa mengalami karier yang lebih tinggi lagi. Tapi itu risiko, sejak awal kita telah diingatkan oleh senior-senior bahwa semua jabatan di tentara Kolonel ke atas adalah jabatan politis. Sesudah Kolonel yang semua tergantung politik. Nasib kalian belum tentu sama dengan profesionalisme,&amp;rdquo; kata Prabowo Subianto dalam buku biografinya berjudul &amp;ldquo;Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI Purn Prabowo Subianto.

BACA JUGA:
 Renungan Presiden Soekarno di Bawah Pohon Sukun Lahirkan Butir-butir Pancasila&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sjafrie Sjamsoeddin merupakan pria kelahiran Ujungpandang, Sulawesi Selatan pada 30 Oktober 1952. Ia abituren Akademi Militer (Akmil) 1974.
Ayahnya Sjamsuddin pernah menjadi Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Makassar. Selepas lulus Akmil pada 1974 dia langsung bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

BACA JUGA:
Di Mana Soeharto saat Soekarno Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia?&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Berbagai posisi strategis pernah diemban, seperti Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Pada 1995-1996, Sjafrie memegang jabatan teritorial sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 061/Suryakencana, Bogor.Kariernya terbilang cepat bersinar di angkatannya. Setahun kemudian pada 1996, Sjafrie Kasgartap-1 Ibu Kota, di tahun yang sama dia diangkat menjadi Kasdam Jaya. Rekan seangkatan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di Akmil ini lahir dan dibesarkan di lingkungan militer.
Sjafrie tak lama setelah Prabowo diangkat menjadi Danjen Kopassus, dilantik menjadi Panglima Kodam Jaya menggantikan Mayjen TNI Sutiyoso yang diangkat menjadi Gubernur DKI.

BACA JUGA:
Asal Usul Nama Pegangsaan, Lokasi Soekarno-Hatta Proklamasikan Kemerdekaan RI

Meski tergolong perwira yang cerdas, Sjafrie juga mengikuti sejumlah kursus dan pelatihan di antaranya Kursus Dasar Kecabangan, Para Komando, Kursus Perwira Intel, Jump Master, Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad), Airbone and Path Finder, Freefall, Kursus Lanjutan Infanteri, Terrorism in Low Intensity Conflict, Kursus Perwira Intelijen dan Strategi.

</content:encoded></item></channel></rss>
