<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Misteri Pasangguhan Jabatan Strategis Istana di Pemerintahan Majapahit</title><description>Bahkan pentingnya jabatan itu membuat Kakawin Negarakretagama mencatatnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit"/><item><title>Misteri Pasangguhan Jabatan Strategis Istana di Pemerintahan Majapahit</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit</guid><pubDate>Senin 04 September 2023 05:29 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit-HMasqB11dB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/04/337/2876470/misteri-pasangguhan-jabatan-strategis-istana-di-pemerintahan-majapahit-HMasqB11dB.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wMy82LzE3MDEwOC81L3g4bm95YWo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Jabatan Pasangguhan menjadi satu dari sekian struktur jabatan di Kerajaan Majapahit. Struktur jabatan itu menjadi amat penting dalam mengorganisir suatu pemerintahan di kala itu. Bahkan pentingnya jabatan itu membuat Kakawin Negarakretagama mencatatnya.
Ya, Negarakretagama melampirkan kisah jabatan Pasangguhan di Pupuh 10. Jabatan itu merupakan satu dari beberapa pejabat yang menghadap ke raja selaku pemimpin tertinggi di wilayah Kerajaan Majapahit.

BACA JUGA:
Hasil Osasuna vs Barcelona di Liga Spanyol 2023-2024: Blaugrana Menang Tipis 2-1

Mereka itu disebut sebelum sang panca Wilwatikta. Penyebutan itu berarti bahwa pasangguhan adalah jabatan yang sangat tinggi dalam pemerintahan Majapahit. Sampai sekarang, jabatan pasangguhan itu masih merupakan persoalan yang belum dapat dipecahkan.

BACA JUGA:
Prakiraan Cuaca Hari Ini, DKI Jakarta Cerah Berawan

Kiranya pasangguhan itu dapat disamakan dengan hulubalang raja dalam hikayat-hikayat Melayu atau senapati dalam kesusastraan Jawa. Pendapat ini didasarkan atas pemberitaan piagam Kudadu, 1294, sebagaimana dikutip dari &quot;Tafsir Sejarah Negarakretagama&quot;, yang menyebutkan empat orang pasangguhan.Mereka juga disebut sebelum sang panca Wilwatika yang terdiri dari patih, demung, kanuruhan, rangga, dan tumenggung dan sesudah tiga Mahamenteri, Mahamenteri Hino, Mahamenteri Hala dan Mahamenteri Sirikan. Keempat pasangguhan itu disebut Rakryan mantri, dipuji tentang jasa dan keberaniannya di medan perang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Persija Jakarta Diimbangi Persib Bandung, Muhammad Ferarri Minta Macan Kemayoran Evaluasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dua di antara empat pasangguhan itu disebut lagi dalam piagam Penanggungan, 1296. Pasangguhan Sang Arya Adikara dan Sang Arya Wiraraja tidak lagi disebut. Hal itu perlu dihubungkan dengan pemberitaan Pararaton mengenai pemberontakan Rangga Lawe alias Sang Arya Adikara pada tahun 1295, di mana Rangga Lawe mati terbunuh.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Zelensky Pecat Menteri Pertahanan Ukraina di Tengah Perang dengan Rusia&amp;nbsp;

Sepeninggal Rangga Lawe, Sang Arya Wiraraja tidak lagi tinggal di Majapahit, tetapi di Lumajang sebagai pembesar yang tidak tunduk kepada Majapahit. Lumajang diserahkan kepada Wiraraja sesuai dengan janji Sanggramawijaya. Mungkin itulah sebabnya maka pasangguhan Sang Arya Adikara dan Sang Arya Wiraraja itu tidak lagi disebut dalam piagam Penanggungan, yang dikeluarkan setahun setelah pemberontakan Rangga Lawe.

Dua orang pasangguhan lainnya ialah Sang Nayapati Pu Lunggah dan Seg Pranaraja, Pu Sina diberitakan pada lempengan 3 b baris enam dan 4a baris satu. Hanya Piagam Kudadu dan Piagam Penanggungan yang memberitakan tentang adanya jabatan pasangguhan dengan kata mapasanggahan.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wMy82LzE3MDEwOC81L3g4bm95YWo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Jabatan Pasangguhan menjadi satu dari sekian struktur jabatan di Kerajaan Majapahit. Struktur jabatan itu menjadi amat penting dalam mengorganisir suatu pemerintahan di kala itu. Bahkan pentingnya jabatan itu membuat Kakawin Negarakretagama mencatatnya.
Ya, Negarakretagama melampirkan kisah jabatan Pasangguhan di Pupuh 10. Jabatan itu merupakan satu dari beberapa pejabat yang menghadap ke raja selaku pemimpin tertinggi di wilayah Kerajaan Majapahit.

BACA JUGA:
Hasil Osasuna vs Barcelona di Liga Spanyol 2023-2024: Blaugrana Menang Tipis 2-1

Mereka itu disebut sebelum sang panca Wilwatikta. Penyebutan itu berarti bahwa pasangguhan adalah jabatan yang sangat tinggi dalam pemerintahan Majapahit. Sampai sekarang, jabatan pasangguhan itu masih merupakan persoalan yang belum dapat dipecahkan.

BACA JUGA:
Prakiraan Cuaca Hari Ini, DKI Jakarta Cerah Berawan

Kiranya pasangguhan itu dapat disamakan dengan hulubalang raja dalam hikayat-hikayat Melayu atau senapati dalam kesusastraan Jawa. Pendapat ini didasarkan atas pemberitaan piagam Kudadu, 1294, sebagaimana dikutip dari &quot;Tafsir Sejarah Negarakretagama&quot;, yang menyebutkan empat orang pasangguhan.Mereka juga disebut sebelum sang panca Wilwatika yang terdiri dari patih, demung, kanuruhan, rangga, dan tumenggung dan sesudah tiga Mahamenteri, Mahamenteri Hino, Mahamenteri Hala dan Mahamenteri Sirikan. Keempat pasangguhan itu disebut Rakryan mantri, dipuji tentang jasa dan keberaniannya di medan perang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Persija Jakarta Diimbangi Persib Bandung, Muhammad Ferarri Minta Macan Kemayoran Evaluasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Dua di antara empat pasangguhan itu disebut lagi dalam piagam Penanggungan, 1296. Pasangguhan Sang Arya Adikara dan Sang Arya Wiraraja tidak lagi disebut. Hal itu perlu dihubungkan dengan pemberitaan Pararaton mengenai pemberontakan Rangga Lawe alias Sang Arya Adikara pada tahun 1295, di mana Rangga Lawe mati terbunuh.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Zelensky Pecat Menteri Pertahanan Ukraina di Tengah Perang dengan Rusia&amp;nbsp;

Sepeninggal Rangga Lawe, Sang Arya Wiraraja tidak lagi tinggal di Majapahit, tetapi di Lumajang sebagai pembesar yang tidak tunduk kepada Majapahit. Lumajang diserahkan kepada Wiraraja sesuai dengan janji Sanggramawijaya. Mungkin itulah sebabnya maka pasangguhan Sang Arya Adikara dan Sang Arya Wiraraja itu tidak lagi disebut dalam piagam Penanggungan, yang dikeluarkan setahun setelah pemberontakan Rangga Lawe.

Dua orang pasangguhan lainnya ialah Sang Nayapati Pu Lunggah dan Seg Pranaraja, Pu Sina diberitakan pada lempengan 3 b baris enam dan 4a baris satu. Hanya Piagam Kudadu dan Piagam Penanggungan yang memberitakan tentang adanya jabatan pasangguhan dengan kata mapasanggahan.</content:encoded></item></channel></rss>
